5 Tanda Kita Sebagai Orang tua Terlalu Keras pada Anak

Kids

RachelKaloh・17 Mar 2021

detail-thumb

Pahami bedanya keras dan tegas, jangan sampai kita sebagai orang tua terlalu keras pada anak dan malah membuat mereka tumbuh menjadi pembohong.

Orangtua memang perlu konsisten dengan aturan. Sekali bilang tidak bisa atau tidak boleh, ya, jangan berubah jadi bisa atau boleh. Namun,  bukan berarti kita jadi super kaku. Jangan sampai tujuan bersikap tegas jadi salah kaprah dan membuat kita jadi sosok orang tua terlalu keras di mata anak, sedih, kan!  Apalagi dampak dari pengasuhan orang tua yang terlalu keras pada anak bisa membuat anak tumbuh dengan beragam masalah.

Lantas, bagaimana dong kita bisa tahu kalau kita sebagai orang tua terlalu keras pada anak? Dari Verywellfamily.com, ada baiknya kita mulai melakukan evaluasi mengenai cara kita, terutama bila hal-hal ini terjadi:

Tanda orang tua terlalu keras pada anak

Tidak  bisa menoleransi apapun

Meski penting memiliki aturan yang jelas, penting juga untuk menyadari bahwa dalam situasi tertentu, selalu ada pengecualian pada aturan tersebut, perlu ada yang namanya toleransi. Bila kita tidak bisa menyesuaikannya, artinya kita otoriter dalam segala hal dan tidak bisa menunjukkan kesediaan untuk mengevaluasi perilaku anak dalam konteks situasinya. 

Tidak  pernah memberikan pilihan

Kalimat “Because I said so!” artinya, kan, sekali enggak, ya, enggak, tidak ada pilihan lain! Sementara, selain penting buat anak untuk paham alasan kita saat melarangnya, kita sama saja tidak memberikan pilihan apa pun pada anak. Padahal, memberikan pilihan pada anak adalah salah satu cara untuk membesarkan anak yang bertanggung jawab.  

Baca juga: Saat Anak Meminta Tanggung Jawab Lebih 

Jadi orangtua yang nggak seru!

Kebanyakan anak pasti suka sama lelucon dan permainan konyol. Kalau anak bermaksud menghibur kita, ingin melihat orangtuanya sesekali tertawa karena terhibur, kasihan, dong, kalau kita tidak bisa menerima candaannya tersebut. Apalah kita kalau bukan party pooper sepertinya ibunya Gru di Despicable Me yang setiap anaknya excited mau kasih lihat sesuatu, ibunya cuma bilang “Eh!” dengan ekspresi sama sekali nggak terhibur. SAD!

Mudah terganggu dengan cara yang orang lain terapkan

Anak akan menemukan banyak orang dengan karakter yang berbeda serta ajaran disiplin yang berbeda pula dari orangtuanya. Guru anak kita saja mungkin punya cara yang berbeda dalam hal menerapkan disiplin. Menjadi orangtua yang terlalu keras membuat kita sulit menerima semua ini, akibatnya, kita jadi banyakan protes sana sini. Padahal, anak juga perlu adaptasi terhadap berbagai jenis aturan dan kebiasaan yang ia temui sehari-hari. 

Anda lebih mengutamakan hasil daripada proses

Mau anak nyontek, mau anak berbuat curang demi mendapatkan nilai A+, Anda nggak mau tahu, yang penting nilainya bagus dan Anda bangga. Padahal, proses yang terjadi di balik semua itu jauh lebih penting dan sangat berpengaruh dalam membentuk karakter anak.

Sementara, pada anak bisa terjadi hal-hal ini jika orang tua terlalu keras pada anak

Jadi sering berbohong

Meski terkadang wajar bagi anak untuk menyembunyikan kebenaran pada saat-saat tertentu, tetapi penelitian menunjukkan bahwa disiplin yang keras dapat mengubah anak menjadi pembohong yang baik. Semakin keras orangtua, semakin memancing anak untuk berbohong dalam upaya menghindari dirinya dari hukuman. 

Kehilangan kesempatan untuk bersenang-senang

Memang nggak salah, sih, kalau kita punya aturan yang berbeda dari orangtua lainnya. Namun, pada keadaan tertentu, anak cenderung lebih terbatas melakukan ini dan itu, termasuk nggak bisa merasakan keseruan yang dinikmati teman-teman seusianya. Bayangin, deh, anak lain dibolehin main hujan dan lompat-lompat di atas kubangan, anak kita hanya bisa melongo dari kejauhan dan ngebayangin betapa serunya jadi temannya itu. 

Dianggap “nggak seru” sama teman-temannya

Ketika anak makin besar, bukan nggak mungkin dia bakalan dianggap nggak seru sama teman-temannya, “Nggak usah ajak dia, deh, nggak bakalan dibolehin sama mamanya!”

Cenderung penakut, kurang pengalaman dan tidak mandiri

Mau coba ini, takut, coba itu, takut, bahkan untuk hal dan pengalaman baru yang sifatnya positif. Ikut camping bareng temannya, nggak boleh, ikutan ekskul yang menantang sedikit, nggak boleh. Alhasil, pengalaman anak pun jadi sangat minim dan tentunya akan sulit menjadi pribadi yang mandiri.

Baca juga: 5 Cara Melatih Anak Mandiri