Now Reading
Pastikan Jangan Katakan 11 Kalimat Ini pada Anak Perempuan Kita!

Pastikan Jangan Katakan 11 Kalimat Ini pada Anak Perempuan Kita!

RachelKaloh

Jangan pernah katakan kalimat-kalimat yang akan membuat anak perempuan merasa sakit hati dan tidak dihargai. Karena dampak jangka panjangnya sangat berbahaya!

Tidak sedikit kalimat untuk anak perempuan yang kesannya sepele kita ungkapkan di depan anak perempuan. Padahal selain mungkin menyakitkan, kalimat ini bisa memberi arti yang keliru buat anak, khususnya ketika ia beranjak dewasa. Coba, yuk, evaluasi lagi cara kita berkomunikasi dengan anak, jangan sampai pada akhirnya kita lebih banyak menanamkan rasa insecure dibandingkan keyakinan pada dirinya. 

“Jangan, ah, itu mainan anak laki-laki!”

Membedakan mainan berdasarkan gender hanya akan menimbulkan efek negatif buat anak, menghambat perkembangan minat dan bakatnya karena kita membatasinya. Kecenderungan seperti ini pada akhirnya bisa membuat kita berkata “Tidak”, ketika anak meminta kesempatan untuk mendalami pendidikan sebagai pilot, karena menurut kita, itu hanya untuk laki-laki. 

“Ayo, sayang dulu, tuh, Omnya!”

Kita tidak bisa abai akan perasaan anak. Ada saatnya si anak gadis yang sudah remaja nggak lagi bisa seramah saat ia masih balita, mau peluk bahkan cium orang lain, yang jenis kelaminnya berbeda. Hormat sama om atau kakak yang lebih tua, kan, nggak perlu selalu dengan pelukan. Cukup salam saja atau menyapa dengan sopan.

Baca juga: 7 Karakter yang Harus Dimiliki Anak Perempuan untuk Taklukkan Dunia

“Jangan mau sama dia, ah!”

Mungkin maksudnya bercanda, ya, tapi jangan pernah lupa kalau anak punya hak untuk bersosialisasi dan mencari teman sebanyak-banyaknya. Kalimat tersebut bisa berujung keliru. Lebih parahnya lagi, anak jadi bingung, apa yang salah dengan temannya? Bukan nggak mungkin di masa depan ia menjadi pribadi yang sulit bersosialisasi saking mempertanyakan kemampuannya dalam memilih teman. 

“Ngapain sih anak cewek kok ambisius banget.”

Memang kenapa kalau anak perempuan ambisius? Nggak kenapa-kenapa dong. Selama ambisiusnya masih masuk ke dalam kategori wajar. Ini tandanya anak tidak pantang menyerah dan ingin mendapatkan hasil yang terbaik.

“Kenapa, sih, nggak mau sama dia?”

Adalah bentuk lain dari kalimat, “Ciye, Kakak! Kenapa nggak sama dia aja, Kak?” Bayangin, deh, kalau kita dijodoh-jodohin sama orang yang sama sekali nggak membuat kita tertarik, seberapa lama, sih, kita bisa terima? Sementara, usia pre-teen adalah usia di mana anak merasa lebih terbatas dalam mengungkapkan perasaannya, tidak terkecuali sama kita, orangtuanya. Jadi, sudahlah, nggak usah jadi Mama yang gengges!

“Jangan gendut-gendut, nanti gak ada yang mau!”

Ada kalanya dulu kita susah payah mengejar BB anak supaya naik. Begitu besar, metabolismenya berubah dan kebutuhannya akan nutrisi meningkat dengan sendirinya, sehingga kita merasa perlu membatasi makannya. Mungkin maksudnya baik, supaya anak nggak kebanyakan makan, tapi kalau anak menganggap ukuran badannya besar (gendut), karena orangtuanya yang bilang begitu, bukankah artinya kita body shaming anak sendiri?

“Dia emang tomboy, nih!”

Setiap ada yang tanya, “Kok, bajunya warna biru?” Kita jawabnya begitu. Memangnya, sudah berapa kali bertanya sama anak, kenapa ia memilih warna itu? Kok, yakin banget dia tomboy? Nggak suka princess, ballerina, Barbie, dan warna pink bukan semata-mata bisa dicap sebagai anak tomboy, ya, Bun! 

Baca juga: 10 Hal yang Ingin Saya Ajarkan Ke Anak Perempuan Saya

“Kamu pakai itu?” 

Dari segi kesopanan dan kerapian, memang orangtua perlu andil terhadap penampilan anak. Namun, daripada terlihat mempertanyakan selera anak, bicarakan baik-baik atau tawarkan pilihan, seperti, “Nak, baju itu sepertinya kurang sopan buat acara nanti, kalau buat main, boleh, kok. Nah, kalau dari 3 baju ini, kamu kira-kira mau pakai yang mana?” 

“Kaya kakak, dong, ikut ini!”

Buat sebagian adik, kakak perempuan adalah role model. Namun, nggak sedikit pula yang seleranya benar-benar jauh berbeda. Kalau si kakak mau disuruh les piano, tapi adiknya pilih les drum, nggak salah dong? Semakin sering kita lontarkan pertanyaan mengapa ia tidak seperti kakaknya, semakin jelas kita menunjukkan rasa tidak percaya kita terhadap kemampuan dan pilihan si adik.

“Ayahmu, tuh, ya..!”

Sering bertengkar kemudian menggerutu tentang suami di depan anak, apalagi yang mengarah ke stereotiping, seperti, “Ayah, tuh, emang dasar, ya, nggak pernah bisa rapi!” lama-lama bisa membuat anak beranggapan kalau Ayahnya memang punya sifat yang nggak peduli, bukan nggak mungkin kelak ia merasa semua laki-laki demikian. 

“Udahlah, nggak usah ikut, ntar kamu sendiri yang kecewa!”

Mengucapkan kalimat yang obviously full of doubt ini saat anak perempuan kita punya niat untuk mencalonkan dirinya sebagai ketua kelas, ketua OSIS atau pemimpin organisasi, hanya akan meningkatkan rasa ketidakyakinan pada diri anak. Lihatlah dunia sekarang, makin banyak kesempatan untuk perempuan menjadi pemimpin, kenapa justru kita, ibunya, yang malah nggak yakin sama kemampuannya?

Membesarkan anak perempuan maupun laki-laki memang tidak mudah. Namun, setidaknya kita bisa mencegah anak kita tersesat akibat kalimat sehari-hari yang kita ucapkan.

Baca juga:

Mendidik Anak Perempuan yang #AntiMenyeMenyeClub!

Follow us on Instagram

View Comments (0)

Leave a Reply

© 2020 MOMMIES DAILY ALL RIGHTS RESERVED.

Scroll To Top