Now Reading
Intuitive Parenting, Mengajarkan Menjadi Orangtua yang Peka

Intuitive Parenting, Mengajarkan Menjadi Orangtua yang Peka

Intuitive parenting mengajak kita mengasah ketajaman intuisi kita sebagai orangtua dan memandang anak sebagai pribadi yang utuh dengan segala keunikannya.

Di salah satu WAG, seorang teman mengirim petikan status dari Twitter, “Jika anak memulai sekolah pada usia 6 bulan dan gurunya memberikan pelajaran cara berjalan, niscaya dalam satu generasi kita akan memercayai bayi tidak akan bisa berjalan jika tidak disekolahkan.”

Konteksnya yang ia lihat, para orangtua sekarang seperti sibuk berkompetisi. Bayi belum setahun sudah daftar sekolah, baru tiga tahun sudah harus bisa baca, belum lima tahun sudah hafalan kitab, calistung, persiapan tes masuk TK favorit, les ini itu, dan sebagainya. Benarkah itu semua demi kebaikan anak? Benarkah sebagai orangtua, kita sudah mendengarkan suara hati anak dan memenuhi kebutuhan anak kita?

Nah, bicara tentang intuitive parenting, merujuk pada buku yang ditulis oleh Stephen Camarata, pakar tumbuh kembang anak, selama beberapa dekade terakhir, ia mengamati fenomena kecemasan dan rasa bersalah para orangtua sehingga memicu mereka untuk memberikan yang terbaik untuk anak, bahkan sejak baru lahir.

Kritik pada Kompetisi

Dalam bukunya berjudul The Intuitive Parent: Why the Best Thing for Your Child Is You, Stephen mengungkap, banyak sekolah memaksakan terlalu banyak materi ke anak, dan secara tidak langsung menjadi penyebab anak (terutama anak laki-laki) dianggap menderita ADHD (Attention deficit hyperactivity disorder) karena kesulitan fokus, hiperaktif, dan tidak dapat mengontrol impuls mereka. Penelitian menunjukkan bahwa upaya untuk mempercepat perkembangan intelektual pada anak sejak usia dini malah justru kontraproduktif.

Sejatinya, anak adalah makhluk yang cerdas, bahkan jauh lebih cerdas dari kita. Namun bukan alasan untuk orangtua memaksa anak belajar lebih banyak dan memberinya aktivitas jadwal teramat padat sehingga mengurangi waktu bermain mereka.

Stephen juga mengkritisi satu jenis kurikulum yang sama yang dipaksakan untuk semua anak. Ia berpendapat, setiap anak seharusnya mendapatkan perlakuan yang individual. Untuk itu, orangtua perlu terlibat dalam proses pendidikan anak, berdaya dan punya bekal pengetahuan untuk tidak mudah terpengaruh atau termakan taktik menakut-nakuti dalam menentukan pola didik dan belajar anak.

Bersifat Holistik dan Spiritual

Buku lain yang mengulas tentang Intuitive Parenting adalah buku yang ditulis oleh Debra Snyder tahun 2010, berjudul Intuitive Parenting, Learning to the Wisdom of Your Hear. Debra lebih menekankan tentang pentingnya orangtua memahami dirinya secara utuh. Proses menjadi orangtua berarti juga menyelesaikan masalah-masalah mental dalam dirinya, apabila seseorang memiliki trauma, kecemasan, stres, maupun masalah-masalah emosional yang belum terselesaikan, maka ia perlu membersihkannya terlebih dahulu. Kehadiran anak adalah pengingat agar kita berusaha menjadi pribadi yang lebih baik.

Debra menyarankan agar orangtua mengamati dan mengenali perilaku anak. Orangtua juga perlu banyak berefleksi. Apa pun itu, santai saja dan jangan takut salah. Setiap orang punya caranya masing-masing dan cara Anda adalah cara yang paling tepat untuk Anda saat ini. Lewat dialog-dialog dengan jiwa, kita akan lebih terhubung dengan anak dan kita akan tahu bagaimana harus memperlakukan anak.

Dalam intuitive parenting, bukan sibuk membandingkan cara kita dengan orang lain, memenuhi tuntutan sosial, ataupun membanding-bandingkan anak kita dengan anak-anak lain.

Baca juga:

8 Kesalahan yang Membuat Momen Bonding Orangtua dengan Anak Gagal Total!

Parenting Berdasarkan Enneagram, yang Mana Sesuai Kepribadianmu?

Follow us on Instagram

View Comments (0)

Leave a Reply

© 2020 MOMMIES DAILY ALL RIGHTS RESERVED.

Scroll To Top