5 Tumbuh Kembang Anak yang Tertinggal di Saat Pandemi dan Tips Mengatasinya

Kids

RachelKaloh・12 Feb 2021

detail-thumb

Wajar memang, kalau tumbuh kembang anak jadi tertinggal karena pandemi, namun kita masih bisa mengatasinya, simak di sini!

Melihat keadaan sekarang yang serba membatasi buat anak dan masa depannya, jadi wajar kalau tumbuh kembang anak tertinggal karena pandemi. Namun, bukan berarti sebagai orangtua diam saja, karena sebenarnya masih banyak hal yang bisa kita lakukan untuk mengatasi hal ini, mencegah anak tertinggal lebih jauh, serta memastikan tumbuh kembang tetap optimal dan on track.

Mengutip artikel dari Developingchild.harvard.edu, “Pandemi merupakan saat yang menegangkan bagi semua orang di seluruh dunia. Namun tumbuh kembang anak tidak bisa di-pause. Anak terus belajar dan bertumbuh, dan masih ada kegiatan mudah dan gratis yang dapat dilakukan orangtua dan pengasuh untuk anak-anak, meskipun dalam situasi yang membuat kita semua merasa ketakutan dan lebih terbebani.” 

Berdasarkan keluhan yang sering ditemui, yuk, kita bahas satu per satu.

ANAK KURANG BERSOSIALISASI akibat jarang bermain dengan teman seumur

Ini, nih, keluhan paling umum yang dirasakan orangtua. Buat anak, yang mungkin dulunya hampir setiap hari bisa bertemu teman-temannya, di sekolah, maupun di dekat rumah, tentu memengaruhi kemampuan anak dalam bersosialisasi.

Tips: Thanks to Zoom dan aplikasi video call lainnya yang membuat playdate tetap bisa berjalan. Percayalah, meski tidak bertatap muka secara langsung, rutinitas menghubungi keluarga seperti sepupu atau teman dekatnya dapat membantu anak untuk mendapatkan kesempatan bersosialisasi dan melindungi kita dari efek stres yang terus-menerus.

Baca juga: 8 Rekomendasi Tempat Terapi untuk Anak Terlambat Bicara

Anak cranky, karena mengalami TERBATAS DALAM KEGIATAN FISIK

Dari jadwal tidur sampai keadaan fisik ikut berpengaruh, karena, ya, biasanya main lari-larian di taman sampai lelah, sehingga ketika sampai di rumah, anak otomatis akan tidur, sekarang energinya jadi lebih lama habisnya, tidur siang tidak lagi menjadi hal penting yang anak butuhkan.

Tips: Sebetulnya, kegiatan fisik di rumah saja tetap bisa dilakukan dengan optimal, kok, kita bisa mengajak anak untuk olahraga bersama. Tidak perlu main di taman, ajak anak jalan pagi atau sore hari. Cara lain yang bisa kita lakukan, hunting taman yang masih jauh dari keramaian. Perkara anak mau atau tidak diajak tidur siang tinggal kita sesuaikan dengan kebutuhannya, selama kegiatan fisik di rumah bisa kita pastikan selalu optimal.

Tadinya sudah jago renang, sekarang SKILL TIDAK TERLATIH LAGI

Sekarang ini, berenang sepertinya paling terakhir masuk di list kegiatan sehari-hari, kecuali kalau di rumah ada kolam renang sendiri, ya, beda ceritanya!

Tips: Kembali lagi ke masing-masing, bila dirasa sudah tepat waktunya untuk anak berenang lagi, tidak ada salahnya staycation asalkan kita bisa memastikan hotel tersebut menjalani prokes yang ketat. Tips lain, coba cari tahu apakah tempat anak belajar berenang menawarkan kelas privat, pilihan ini sepertinya masih mungkin untuk dilakukan. 

Baca juga: 6 Tips Mengajarkan Anak Makan Sendiri

Anak JADI TIDAK SEMANDIRI saat dia sekolah atau di daycare seharian

Setelah hampir setahun menjalani kegiatan Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) rasanya hal ini sudah tidak lagi menjadi isu.

Tips: Anak usia 5 tahun ke atas seharusnya juga sudah terbiasa dan sudah tahu rutinitasnya; kapan harus stand by di depan laptop, kapan saatnya mengerjakan tugas, kapan harus bersiap-siap (mandi, sarapan, dll). 

Baca juga: Melatih Executive Functioning Skill pada Anak

Anak jadi TERLALU SERING MENATAP LAYAR karena keadaan menuntut demikian

Ya, kalau ada pengasuh, sih, enak, anak masih bisa ditemani saat di luar jam sekolah. Bagaimana yang nggak punya pengasuh? Gantian jaga anak sama suami saja sudah cukup membuat stres, meski nggak ngantor, stand by kerjaan seringkali sampai lewat dari jam kerja. Anak-anak lalu jadi semakin sering dipertemukan dengan layar. 

Tips: Untuk anak usia balita, berikan kegiatan yang kira-kira bisa membuatnya sibuk sementara waktu, seperti bermain gambar tempel, mewarnai, atau bermain dengan mainan favoritnya. Sementara untuk anak usia sekolah, bisa diberikan kegiatan untuk dilakukan sendiri, misalnya mengerjakan worksheet, baca buku lalu membuat review. Sekalipun harus berhadapan dengan layar, pastikan tetap ada “tugas” yang harus ia penuhi, misalnya nonton film lalu mencatat poin penting dari film tersebut.  

Selamat mencoba, Mommies!