Anak dan Narkoba: Menjelaskan Tentang Narkoba ke Anak

Bagaimana menjelaskan mengenai narkoba sesuai kategori usia anak? Berikut penjelasan seputar anak dan narkoba.

Mencegah lebih baik dari pada mengobati. Pepatah lawas yang nggak bakal kadaluarsa. Kita pasti sering, ya, menerapkan pepatah ini buat melindungi kesehatan anak. Mending jaga-jaga, daripada terlanjur sakit. Benar, nggak?

Apalagi urusan anak dan narkoba. Duh, ngeri! Pasti kita berharap agar anak-anak dijauhkan dari hal-hal tersebut. Kalau sudah terlanjur kena (knock on wood), mengatasinya bukan perkara mudah. Itulah sebabnya sebaiknya orangtua harus mengedukasi anak-anak soal itu. Nggak ada, istilah terlalu dini.

Tapi bagaimana, ya, cara menjelaskan tentang narkoba ke anak, agar mereka mudeng? Terutama buat yang sebenarnya belum ngerti-ngerti banget. Ngeri-ngeri, sedaplah ini. Berikut cara menjelaskan tentang narkoba pada anak, sesuai dengan kategori umur.

Anak dan Narkoba: Cara Menjelaskan ke Anak Tentang Narkoba - Mommies Daily

Usia TK Hingga 7 Tahun

Buat anak TK, penjelasan dengan contoh peristiwa atau gambar akan lebih mudah dimengerti. Misalnya saat memberikan vitamin atau obat ketika mereka sakit, kita bisa bilang, bahwa pemberian obat hanya boleh diberikan oleh kita, orangtuanya yang lebih memahami kandungan obat, atau atas sepengetahuan dokter. Anak-anak nggak boleh minum obat sendiri, lho!

Nah, kalau soal bahaya rokok (termasuk rokok ganja kayak yang barusan saja heboh digunakan salah satu selebriti yang juga seorang ayah), orang tua bisa memanfaatkan momen saat anak melihat orang dewasa merokok. Yah, meskipun anak mungkin malah bingung mengapa sudah tahu berbahaya, kok, orang dewasa (uhuk, Ayahnya, uhuk) masih menghisapnya! Don’t worry, jelaskan saja bahwa faktanya, nggak semua orang dewasa bisa mengambil keputusan dengan bijak.

Anak-anak Usia 8-12 Tahun (Pra Remaja)

Di usia ini, rasa penasaran anak semakin tinggi. Kemungkinan mereka mencoba-coba juga makin besar. Biasanya anak usia pra-remaja mulai membandingkan antara tayangan fantasi dengan realita. Bingung mau ikut yang mana. Nah, di sinilah orangtua berperan untuk mengajarkan anak hidup dalam realita, bukan berdasarkan fantasi, termasuk dalam menjelaskan narkoba.

Ajak anak nonton video tentang bahaya narkoba di situs BNN atau sumber terpercaya lainnya. Cari cara yang menarik namun realistis saat menjelaskan bagaimana sakitnya ketika “sakau” dan sulitnya pengobatan bagi seseorang yang sudah kecanduan. Tapi hindari video-video yang mempertontonkan kekerasan, ya. Misalnya saja, akibat sakau kemudian di video tersebut si pecandu melakukan abuse terhadap orang lain.

Seorang teman pernah pakai cara ekstrem dengan membedah sebatang rokok, menjelaskan isinya, kandungan-kandungan racun berbahaya di dalamnya sambil buka tayangan infografis tentang rokok. Jadi anak lebih mengerti. Syukur-syukur selain rokok, anak terhindar juga dari kebiasaan nyimeng yang katanya cool itu. Duh, cium aroma asapnya saja saya mau muntah (eh, kok tahu?).

Remaja Usia 13-17 Tahun

Nah, kalau usia remaja kayak begini, sepertinya lebih mudah untuk menjelaskan, ya. Apalagi di usia segini, anak remaja lebih mudah untuk dikasih contoh, walau lebih menantang juga untuk dinasehati (hela napas panjang). Iya, soalnya dia juga sudah bisa mengambil keputusan atas pengaruh teman-teman sebayanya. Jadi penjelasan mengenai narkoba sudah naik levelnya. Bukan lagi tentang definisinya, tapi apa akibatnya yang bikin ia merugi.

Sebenarnya bisa jadi mereka sudah tahu apa itu narkoba dan kawan-kawannya, tugas kita sebagai orangtua, ya, jangan sampai lengah. Agar ia tak mengambil keputusan yang salah. Kemungkinan besar, teman-teman di sekolahnya juga sudah mulai coba-coba rokok, alkohol, bahkan narkoba, lho.

Ketimbang panik, ajak anak ngobrol santai tentang narkoba. Diskusikan saja, tanyakan apa yang mereka ketahui seputar narkoba dan bagaimana pendapat mereka. Di tahap ini, anak-anak juga harus sudah diberitahu soal sanksi hukum dan sosial bagi pengguna narkoba. Yang dirugikan dari penggunaan narkoba ini, ya, mereka sendiri.

Beberapa remaja mulai butuh privasi. Bisa jadi mereka mulai defensif dan enggan ditanya macam-macam. Bangun komunikasi terbuka dua arah dengan anak. Kenali teman-temannya. Pada saat bersamaan, berikan juga pengawasan, batasan dan aturan jelas tentang pergaulan, serta konsekuensi jika melanggar, agar anak punya pakem yang mengontrol mereka dari jerat narkoba.

Yang paling penting dari mengajarkan dan mengedukasi anak soal narkoba, pererat hubungan dengannya, penuhi kebutuhan emosionalnya, jadilah temannya, agar ia nggak mencari kenyamanan dari sumber lain tapi justru dari kita keluarganya. Setuju, ya, mommies?

Baca juga:

Membuat Anak Terbuka dengan Orang tua

 


Post Comment