Siapkan Anak Beraktivitas Dalam Kondisi New Normal

Kids

dewdew・08 Jun 2020

detail-thumb

Kita sudah memasuki tahap the new normal, siap atau tidak? Terlepas dari itu semua, bagaimana kita menyiapkan anak beraktivitas dalam kondisi new normal?

Tahun ajaran baru sudah ditetapkan oleh Kemendikbud untuk dimulai di pertengahan Juli 2020. Meski begitu, tidak berarti tatap muka antara guru dan murid bisa dilakukan, terutama pada area zona merah, kuning dan orens. Namun begitu, untuk beberapa area yang sudah zona hijau, di mana kasus baru Corona ada di angka 0, bukan tidak mungkin membuat sekolah dibuka, tentunya dengan protokol kesehatan seperti menjaga jarak antar siswa, sering cuci tangan dengan sabun dan air mengalir, hingga pengukuran suhu tubuh sebelum ke sekolah.

Mungkin untuk anak-anak kelas 5 dan 6, atau kelas 7 dan 8, menyiapkan mereka untuk mengikuti protokol kesehatan tidaklah terlalu sulit. Karena biasanya mereka juga sudah lebih mengerti, mengenai bahaya Covid-19, dan pentingnya menjalani aktivitas di bawah new normal situation. Nah, yang jauh menantang itu justru untuk siswa TK dan SD paling tidak kelas 1 hingga kelas 3. Baru sampai di sekolah, bisa saja sudah tukar-tukaran masker dengan temannya. Haduh. Belum kalau ngambek tak ingin pakai masker karena engap ketika di tempat umum. Wah, bahaya.

Baca juga:

Tips Agar Anak Betah Pakai Masker

Mumpung sekolah belum dibuka, nih. Mumpung masih ada waktu untuk bisa mempersiapkan anak beraktivitas dalam new normal situation, yuk kita lakukan cara-cara berikut ini.

Ajarkan Anak Hadapi New Normal - Mommies Daily

Hilangkan cemas dari diri orangtua

Kalau kita sendiri masih cemas, masih ragu untuk menjalankan situasi ini, maka anak akan melakukan hal yang sama. Akan lebih baik buat kita untuk fokus pada situasi saat ini, dan fokus dengan apa yang bisa kita kendalikan. Seringkali kita terlalu mengkhawatirkan hal-hal yang belum tentu terjadi sehingga kita udah takut duluan. Alih-alih khawatir berlebihan, kita bisa fokus dengan bagaimana supaya anak tidak sakit. Protokol kesehatan itu, kan, sudah jelas. Tugas kita mengomunikasikan hal tersebut kepada anak. Menghilangkan rasa cemas nggak berarti mengurangi kewaspadaan kita pada Covid-19, kok.

Jelaskan dengan fun bagaimana penularan Covid-19

Cara mudah menjelaskan mengenai apa pun terhadap anak TK atau SD adalah dengan visual yang fun, tak terkecuali tentang Covid-19. Mommies bisa mencari gambar atau video tentang penularan Covid, sehingga anak mengerti dan mau menjalankan protokol kesehatan seperti pakai masker selama di luar rumah, langsung mandi begitu dari luar, hingga mencuci tangan secara berkala dengan ikhlas.

Cara fun yang lain juga bisa dengan bermain role play. Misal mommies jadi penjual di supermarket, anak jadi pembelinya. Ayah jadi pak guru, dia jadi siswanya. Di balik juga boleh, lho. Terkadang bermain peran sebagai orang dewasa sangat disukai oleh anak-anak.

Membiasakan anak terhadap protokol kesehatan di sekolah dan tempat publik

Kita bisa mempelajari kembali peraturan sekolah. Walau Kemendikbud juga sudah mengeluarkan aturan-aturan selama pembelajaran di sekolah saat tatap muka nanti, biasanya sekolah memiliki SOPnya masing-masing. Sekolah anak saya bahkan sudah meminta orangtua untuk membiasakan anak-anaknya menggunakan masker selama belajar di rumah, atau membuat semacam karya art yang nanti dipakai anak-anak untuk menjaga jarak sesama teman, seperti misalnya sayap-sayapan, atau topi lebar. Entah masuk sekolahnya kapan, tapi membiasakannya, ya, dari sekarang. Ini juga berlaku untuk di tempat umum, ya. Selain ke sekolah, anak mungkin harus ikut kita ke supermarket, atau transportasi publik.

Mandiri dalam belajar dan mengerjakan tugas

Yang paling sering bikin kita stres juga, yaitu, tugasnya siapa, yang kerjain siapa? Yang punya pengalaman sama, yuk, acungkan tangan! Cung! Ada kalanya kita harus membiarkan anak mandiri dalam belajar, sih, alih-alih dibantu secara terus menerus. Kita nggak tahu sampai kapan pandemi ini berakhir. Pemerintah boleh berencana, pembelajaran tatap muka dibuka Januari 2021. Tapi kita, kan, nggak pernah tahu, ya? Mendampingi mereka belajar, membantu membuat karya DIY, hingga standby saat ia mengerjakan PR itu, mau sampai kapan? Biasakan anak mengecek sendiri hasil belajarnya. Selalu membantu mereka bahkan pada akhirnya mengerjakan tugas-tugasnya sama saja dengan mengajarinya untuk takut salah. Jadi ketika nanti sudah bisa beraktivitas di situasi new normal, anak-anak bisa jauh lebih mandiri.

Bijak menggunakan gadget selama new normal

“Aku sudah nggak boleh keluar main, nggak sekolah, sudah kerjain PR, tugas, aku harus ngapain lagi dong?” demikian protes si anak. Bahkan saya sendiri pun akhirnya memutuskan untuk melonggarkan aturan screen time. Bisa juga, gadgetnya kita gunakan untuk hal lain selain main game, misalnya dengan menonton video resep sederhana, lalu kemudian dipraktikkan. Bisa juga digunakan untuk menghubungi kerabat. Bagaimana pun yang namanya screen time tetap harus dibatasi. Jangan sampai ketika akhirnya sudah bisa beraktivitas walau ada batasan di situasi new normal, anak-anak malah maunya di rumah terus pegang gadget.

Baca juga:

Dan Hidup Kita pun Kembali ke (New) Normal

Kembali Bekerja dengan Sistem New Normal, Apa yang Bisa Kita Lakukan?