Realistis di Masa Karantina Itu Penting

Salah satunya menambah durasi pemakaian gadget untuk anak. Tapi, nggak selalu untuk game! Dan umpama untuk game, saya punya aturan tentang pemilihan game di masa karantina.

Salah satu hal yang jelas berubah di masa karantina ini adalah sistem pendidikan yang dijalani oleh anak-anak kita. Gimana nggak berubah, kalau selama masa karantina, anak-anak ‘terpaksa’ belajar menggunakan teknologi. Mau tidak mau, suka tidak suka, tak hanya anak yang belajar teknologi, tapi juga orang tua.

Anak pun juga dituntut untuk mandiri, karena nggak ada lagi batasan jam pelajaran seperti di sekolah. Sekarang, ya bagaimana anak menyadari tanggung jawab mereka untuk menyelesaikan tugas-tugasnya tanpa ada bunyi bel sebagai tanda jam mata pelajaran A atau B selesai.

Ini baru satu hal.

Hal lainnya adalah, durasi pemakaian gadget yang mengalami penambahan waktu lumayan lama, ahahahaha. Duh, saya akui bahwa selama karantina ini, aturan pemakaian gadget untuk anak-anak sangatlah longgar :D. Karena bagaimanapun, gadget-lah salah satu alat bantu yang membuat anak-anak saya tetap waras :p.

Kalau dibuat perbandingan, dulu, anak-anak hanya boleh menggunakan gadget selama 2 jam per hari. Untuk berkomunikasi dengan teman-teman kelasnya di WAG membahas tugas-tugas harian, berdiskusi dengan guru les ketika ada tugas yang tidak mereka pahami, sisanya baru main game dengan durasi hanya  30 menit. Iya, saya segalak itu.

Bagaimana dengan masa karantina ini?

Realistis saja, ketika anak-anak terbatas dalam memilih aktivitas, namun di sisi lain mereka juga butuh hiburan, butuh bersosialisasi, ya gadget bisa banget untuk merealisasikan itu semua.

Jadi yes, di masa karantina ini memang anak-anak saya lebih nempel sama gadget, durasinya lebih lama, tapi buat saya yang penting adalah, bukan durasinya saat ini, namun lebih kepada, aktivitas apa yang mereka lakukan di saat memegang gadget tersebut!

Jadi, kalau ditanya bagaimana aturan pemakaian gadget untuk anak-anak saya di masa karantina ini? Ini jawabannya …..

1. Gadget, baik itu laptop atau smartphone digunakan untuk mengerjakan tugas-tugas sekolah. Zoom meeting, google classroom, google meet dan sejenisnya, serta untuk searching jawaban-jawaban dari tugas sekolah yang mereka kurang paham.

2. Mereka baru boleh bermain game (via smartphone atau PS) HANYA JIKA sudah menyelesaikan SEMUA tanggung jawab mereka. Tanggung jawab sekolah, les, tanggung jawab rumah. Jadi, sudah pasti di bawah jam 1 siang mereka nggak bisa main game, karena pagi hingga jam 12 adalah jam belajar mereka.

Mereka juga wajib sudah olahraga, berjemur, minum vitamin, membersihkan kamar, buang sampah, baca buku (iya anak-anak saya wajibkan membaca buku setiap hari minimal 15 halaman), serta mempelajari 3 kata bahasa Inggris, baru bisa main game.

Terus gimana kalau jam belajar sekolah sudah selesai, tanggung jawab rumah sudah selesai tapi jam les masih sore? Tetap nggak boleh main? Kalau urusan baca buku sudah selesai, saya kasih main game sambil nunggu waktunya les.

3. Saya memantau apa yang mereka lakukan di smartphone mereka. Karena menambah durasi pemakaian gadget selama masa karantina kan bukan berarti hanya untuk main game. Mereka wajib menggunakannya untuk hal-hal lain. Video calling dengan eyangnya, mbahnya, sepupu, teman-temannya, ini demi menjaga interaksi mereka dengan orang lain juga tetap ada. Bermain social media (Instagram dan tiktok :p).

4. Nah beralih ke games jelas durasi main game juga nambah, nggak mungkin nggak. Yang dulu hanya 30 menit per hari selama hari sekolah, dan dua jam di saat weekend, di masa karantina ini? Bisa sekitar 3 jam. Tapiii saya memang bagi per satu jam. Setelah satu jam main game (di smartphone atau PS) mereka harus istirahat minimal satu jam.

Next, saya juga mewajibkan bahwa dalam jatah main game 3 jam itu, nggak melulu main PUBG, FIFA di PS atau Fortnite bersama teman, tapi ada game lain yang harus mereka lakukan bersama-sama dengan orang rumah.

Pilihan anak-anak saya? LUDO dan WOW (Words of Wonder).

Realistis di Masa Karantina Itu Penting - Mommies Daily

Kalau Ludo semua pasti udah tahu kan …… board game seru yang bisa melibatkan 4 orang dalam bermain. Dan ini wajib dimainkan bersama orang rumah.

Nah, kalau WOW ini sejenis TTS berbahasa Indonesia atau Inggris (tergantung pilihan kita). Awalnya saya download duluan di handphone saya, maklum jiwa editor maunya game yang berhubungan dengan kata-kata ;p, ternyata anak-anak saya senang ikutan membantu saya mencari kata yang pas untuk mengisi kotak-kotak yang kosong. Dan tanpa mereka sadar, mereka belajar banyaaaak kosakata baru. Bermain sambil belajar.

Senang aja rasanya ketika mereka nggak sabar menyelesaikan kewajibannya untuk bisa segera main Ludo sama-sama atau mencari kata-kata baru. Dan bangga banget begitu bisa menemukan kata yang susah :D.

Karena meskipun saya harus realistis bahwa mereka butuh gadget dan game, tapi saya juga harus menjaga agar mereka tak ketagihan dengan gadget yang hanya akan memberikan saya PR lebih berat ke depannya ketika karantina berakhir.

Baca juga:

Agar Anak Tak Bosan Belajar

10 Tanda Bahwa Kesehatan Mental Anak Butuh Perhatian

Ketika Harus Jadi Guru di Rumah, Ini yang Saya Rasakan


Post Comment