Ketika Harus Dobel Peran Jadi Guru Juga di Rumah, Ini Yang Saya Rasakan…

Setelah beralih peran menjadi guru selama masa karantina, saya jadi paham beberapa hal berikut ini ….. Ternyata begini rasanya jadi guru

Terlalu banyak memang tantangan jadi orangtua di masa pandemi ini. Terutama buat para working mom, ya. Sudahlah itu pekerjaan kantor dibawa pulang, meeting nggak berhenti-berhenti, eh, tugas sekolah anak-anak menuntut diawasi. Seketika sebagian besar tugas guru, pindah ke tangan kita. Mau bilang nggak adil, ya, siapa juga yang ingin ini semua terjadi, kan? Belum itu anak yang paling besar (baca: suami) tetiba minta dibuatkan kopi dan camilan buat menemani work from home. Hadeh…

Berikut pengakuan beberapa ibu, apa yang dia rasakan semenjak punya peran ganda sebagai orangtua sekaligus guru.

Ini Rasanya Menjadi Guru Selama School from Home - Mommies Daily

Penting banget menjaga mood anak

Dobel peran jadi ibu sekaligus guru buat anak-anak selama belajar di rumah ini, jujur lumayan tantangan banget, ya. Sudah umur segini, mendadak harus mengikuti lagi pelajaran anak-anak, terutama Jihan yang masih kelas 3 SD. Akhirnya saya mengandalkan buku paket, tambahan materi online dari Guru, plus google (thanks to technology).

Yang paling susah itu menjaga mood anak. Karena anak merasa dirumah itu, ya, libur. Begitu setiap hari dikasih tugas, saya harus pintar-pintar atur waktu dan bikin kesepakatan sama anak. Biar anak juga tetep mood mengerjakan tugas, saya siapkan cemilan sesuai request mereka, kasih waktu untuk break kalau mulai keliatan bosen. Untungnya, sekolah kasih waktu yang fleksibel untuk submit tugasnya. Jadi semisal baru kelar malam, ya, nggak apa-apa banget. Buat saya, sebisa mungkin yang jadi tugas hari itu, ya, kelar di hari itu juga biar nggak numpuk. Saya akui jadi guru memang nggak mudah, gurunya pun mengakui lebih enak kasih materi tatap langsung daripada online begini. – Vanny Ocvita

Tumpukan tugas yang tak kunjung habis

Sebelum diberlakukannya School From Home, di rumah saya kebagian peran untuk mengajarkan anak-anak hanya pas UTS atau UAS saja. Nah sekarang saya merasa dituntut untuk bisa mendampingi mereka setiap hari mengerjakan tugas-tugas dan pelajaran harian. Kebayang, kan? Sementara walaupun work from home, saya tetap full kerja dari pagi sampai sore. Jadi, ya, tetap saja baru bisa kontrol tugas sekolah anak-anak setelah sore. Jadi gue tetap monitor tugas mereka tapi ya setelah jam kerja (sore atau malam).

Saya ingin say thank you sama guru-guru yang selama ini sudah membimbing dan menemani anak-anak di sekolah, tapi please-lah tugasnya mohon jangan kebanyakan karena,ya, itu tadi buat working mom ini challenging banget, lho. Harus bagi fokus dan perhatian ke banyak hal bukan hal mudah. Kalaupun ada tugas, mungkin informasinya disampaikan tidak secara dadakan jadi malam sebelumnya bisa prepare, ya. – Dini Nurhayati

Kesabaran adalah kunci utama :p

Kurasanya ingin menyampaikan, dear bu guru, jasamu sungguh tiada tara hahaha… Semoga tetap pada sehat semua ya, tetap sabar ngajarin anak muridnya, tetap semangat cari cara paling oke buat mengajar biar anak-anak nggak bosen belajar. Karena yang namanya emak-emak, ya, urusan di rumah selain anak, ya, ada saja yang lain. Kala emak sudah mbludrek, ya, gantian panggil ayahnya. Karena terkadang ayahnya jauh lebih sabar mengajarkan anak. Hahaha…

Beneran, deh, SFH ini ternyata menguras kesabaran banget, ya, karena banyak teori baru yang belum dia dapat pas di sekolah, pas belajar di rumah ini di baru tahu. Itu yang sering jadi tantangan.Tapi at least kumasih bersyukur. Ada kebaikannya, jadi saya makin kenal anak, bagaimana sikap belajarnya. Sejak SFH saya jadi tahu kalau anak saya ternyata kuat di hapalan, lho. – Mentari Sakti

Berbagi peran bukan mengambil alih

Mungkin saya termasuk kategori ibu santuy selama SFH ini, ya. Nggak, saya nggak mau pusing dengan tugas sekolah anak-anak. Apalagi buat yang sudah besar, tugas sekolah harus jadi tanggung jawabnya sendiri. Saya cuma cek di to-do-list, selama sudah dikerjakan, all good. Perkara benar atau salah, silakan gurunya yang cek.

Nggak mau dobel peran jadi guru. Hahaha… Kan, sudah ada dilakukan gurunya. Mereka kirim materi dan tugas setiap minggu. Jadwal penyerahan tugas juga ada di google classroom. Jadi sebenarnya cukup praktis. Paling bantu-bantu set up online class buat yang masih kecil. Jadi bapak ibu guru, monggo dikerjakan bagiannya, saya melakukan tugas saya sebagai orangtua. - Judith Dellavita

Kalau Anda bagaimana? Apa perasaan Anda ketika jadi guru juga selama anak-anak belajar di rumah? Santuy? Atau ikut belajar?


Post Comment