Pendidikan Karakter: Modal Anak Agar Tak Mudah Terbawa Pengaruh Buruk

Ketika zaman makin dipenuhi aneka kejadian yang bikin para orangtua mengelus dada, coba sama-sama cek, pendidikan karakter di sekolah dan rumah, sudahkah berjalan beriringan?

Beberapa waktu lalu, saya, Icha (Senior Editor MD) dan Reti (Community & Marketing Lead MD) shooting YouTube MD, temanya tentang kekhawatiran terbesar apa yang dirasakan sebagai orangtua.

Berbagai Bentuk Stress Pada Anak Remaja - Mommies Daily
Nah, concern terbesar saya, “bekal nilai-nilai yang saya tanamkan ke Jordy cukup nggak ya di masa depan, supaya dia jadi pribadi yang berkarakter kuat, nggak mudah dipengaruhi hal-hal negatif?.” Ya soal intoleransi, pergaulan bebas, narkoba, kekerasan fisik dan psikis, dan seterusnya.

Hidup orangtua memang amanahnya yang luar bisa berat, ya, mommies. Tapi juga sebanding kok dengan ilmu yang bertebaran di luar sana, asal mau jeli menyerapnya baik-baik. Misalnya soal kekhawatiran saya di atas. Salah satu jawabannya adalah mengajarkan pendidikan karakter, nggak hanya di sekolah, tapi juga di rumah.

Bersama dengan Binky Paramitha Iskandar, Psikolog Anak dan Co-Founder Rumah Dandelion, kita bedah yuk sama-sama tentang kenapa pendidikan karakter penting dilakukan di sekolah dan rumah?

Apa pengertian pendidikan karakter itu?

Menurut Thomas Lickona Ph.D., seorang psikolog yang punya julukan “bapak pendidikan karakter modern” , pendidikan karakter adalah usaha yang dilakukan secara sadar, untuk membentuk suatu nilai dan kebiasaan melalui dimensi-dimensi kognitif, emosi dan perilaku.

Kalau bicara tentang karakter anak, tentunya kita juga mempertimbangkan dan menginginkan mereka untuk dapat menilai, mana yang baik dan tidak baik. Dan ketika karakter itu sudah terbentuk, harapannya mereka bisa percaya diri dan yakin, membuat keputusan. Walaupun ada begitu banyak tekanan dari luar, atau keinginan dalam diri yang seperti mengatakan, “ya sudah deh, lakukan itu saja”, tapi karena dia tahu itu tidak benar, dia tetap tidak melakukannya.

Kenapa penanaman pendidikan karakter, harus dari dua arah, sekolah dan rumah?

Pendidikan karakter itu memang dimulai dari rumah. Karena yang namanya mendidik atau membentuk suatu karakter itu dimulai dari penanaman nilai-nilai. Tapi sekolah itu, kan, sebagai mitra dari orangtua di rumah, sehingga ketika sekolah itu memiliki nilai yang selaras dengan orangtua, tentu akan sangat membantu pembentukan karakter siswa.

Artinya anak memiliki kesempatan lebih luas, untuk melakukan perilaku yang sesuai dianut. Karena yang namanya penanaman nilai itu, tidak bisa dari sisi kognitif saja, tapi melibatkan emosi dan harus tertampil dalam perilaku sehari-hari.

Metode yang bisa dilakukan sekolah untuk mengajarkan pendidikan karakter ini?

Tentu tiap sekolah berbeda, tergantung dari jenis sekolah, nilai apa yang mau ditanamkan, dan sebagainya.
Tapi pada intinya, pendidikan karakter itu harus sejalan, dengan apa yang diucapkan oleh sekolah dan keluarga, dengan apa yang dilakukan sehari-hari, sehingga nilai yang dipahami oleh anak itu bisa sejalan, dan bisa dilakukan dalam kehidupan sehari-hari.

Sehingga anak tidak bingung. Yang penting adalah konsistensi antara nilai yang mau ditanamkan dengan perilaku nyata. Dan kemudian, nilai-nilai ini seringkali hal-hal yang abstrak. Untuk anak yang masih kecil, tentu harus diajarkan dengan cara yang konkret.

Bicara soal pendidikan karakter, salah satu yang berperan penting adalah sosok guru BP di sekolah, apa yang harus dipahami oleh guru BP agar anak mau terbuka?

Pada dasarnya orang itu akan mau terbuka ketika dia merasa dianggap, didengar, diterima tanpa ada judgement. Yang perlu dilakukan guru BP jika ada kasus di sekolah, dan berharap anak mau terbuka dengan guru, guru yang bersangkutan perlu membuka telinga dan hatinya selebar-lebarnya.

Selain itu biarkan anak ini bercerita dari sudut pandangnya, tanpa harus dihakimi dari awal, “tapi kan kamu harusnya gini, harusnya gitu,” kesampingkan hal seperti ini, sampai semua informasi yang kita terima bisa dipahami dengan baik.

Kemudian setelah anak sudah menceritakan semua dari sudut pandangnya tanpa kita menghakimi, baru kita ajak anak untuk refleksi, “menurut kamu kejadian tadi itu seperti apa, sih?” dari refleksi itu, diharapkan sudah mulai keluar nilai-nilainya.

Nah, karena guru BP ini posisinya di sekolah sebagai guru yang juga memiliki kewajiban menegakkan disiplin dan peraturan nilai-nilai di sekolah, setelah proses tadi dilakukan, baru bisa mengajak anak me-review kembali, “kalau berdasarkan peraturan sekolah itu sebaiknya gimana, menurut kamu boleh nggak dilakukan?”

Dampak baik apa saja yang kelak akan menempel sampai ia dewasa jika mendapatkan pendidikan karakter yang mumpuni?

Ketika seseorang sudah memilliki karakter yang positif, hal itu akan terbawa dalam kehidupan sehari-hari dia, sehingga ketika anak berinteraksi dengan orang, misalnya masuk dunia bekerja, mengambil keputusan, menyelesaikan masalah – semua itu dia lakukan didasari dengan nilai-nilai yang positif juga.

Kelak dewasa, anak juga jadi lebih mudah beradaptasi, karena merasa sudah yakin dengan dirinya, ”aku tidak mudah dipengaruhi lingkungan sekitar. Sehingga aku punya sesuatu yang aku anggap penting, aku tidak mudah terombang-ambing.” Anak akan punya rasa percaya diri yang kuat.

Dan sebaliknya, dampak buruk apa yang mungkin anak alami, jika ia tidak mendapatkan pendidikan karakter yang mumpuni?
Misalnya pendidikan karakter tidak mumpuni, di rumah nggak jelas nilai apa yang ingin ditanamkan. Karena antara yang dibicarakan orangtua, dengan yang dijalankan sehari-hari orangtua dan anak – berbeda, begitu pun di sekolah.

Yang mungkin terjadi adalah, anak tidak memiliki identitas diri yang jelas, karena secara kognitif dia tahu harusnya melakukan A, tapi kenapa yang dilakukan role model-nya malah B, itu akan membuat dirinya bingung, sehingga dia jadi tidak percaya diri. Tak hanya itu, kalau ada tantangan di masa depan, dia menjadi lebih sulit beradaptasi atau mengambil keputusan untuk menyelesaikan permasalahannya.

Risiko lainnya, anak menjadi lebih mudah dipengaruhi oleh orang lain, entah itu untuk hal yang baik atau buruk. Yang lebih dikhawatirkan, jika melakukan hal buruk, karena anak tidak punya pegangan untuk dirinya sendiri, mana yang baik mana yang buruk. Jadi kemana lingkungan membawa dia, ya dia akan terbawa arus.

Baca juga:

25 Kalimat yang Menstimulasi Kepercayaan Diri Anak
5 Sifat Anak Generasi Alfa yang Tangguh
Mengajarkan Pengendalian Diri pada Anak, Gimana Caranya?


Post Comment