5 Kebiasaan Nggak Menghargai Diri yang Bikin Rasa Percaya Diri Luntur

Self

dewdew・09 Mar 2020

detail-thumb

Jangan sampai kebablasan untuk nggak menghargai diri sendiri, karena ujungnya akan panjang. Kehidupan pribadi, profesional, dan sosial Anda pun kelar. 

5 Kebiasaan Nggak Menghargai Diri yang Bikin Rasa Percaya Diri Luntur - Mommies DailyImage: by Yuris Alhumaydy on Unsplash

Mendapatkan perlakuan yang nggak menghargai diri kita oleh orang lain pasti pernah, ya, dialami moms sekalian. Mulai dari diremehkan orang terdekat, nggak dihargai sama atasan, bahkan dijulidin orang antah berantah melalui komen di akun media sosial kita.

Memang bisa sangat menyakitkan dan bikin rasa percaya diri kita menurun. Tapi pernah nggak, sih, kita berpikir kalau kita sendiri sangat bisa nggak menghargai diri? Kita banyak melakukan kebiasaan yang membuat harga diri semakin ‘turun’ dan ujung-ujungnya memengaruhi kesehatan mental. Berikut ini kebiasaan-kebiasaan yang bisa digolongkan sebagai tindak nggak menghargai diri.

1. Kesalahan masa lalu diingat selalu

Sulit memang memaafkan sebuah kesalahan atas masa lalu, apa lagi kalau kesalahan tersebut fatal akibatnya. Nggak beda jika kesalahan itu dibuat oleh diri kita sendiri. Enggan memaafkan diri sebenarnya salah satu senjata ampuh melukai harga diri. Jadi memang nggak ada gunanya menyalahkan diri terus-terusan. Apalagi kalau kesalahan masa lalu pada dasarnya nggak fatal-fatal amat. Jika memang kesalahan tersebut terasa berat, ada baiknya kita meminta bantuan ahli seperti psikolog untuk membantu kita melepas beban. Ini demi kesehatan mental dan masa depan kita sendiri.

2. Melihat diri sebagai sebuah kegagalan

Masih ada kaitannya dengan poin sebelumnya, sih, ketika kita melakukan sebuah kesalahan, kita nggak lantas menjadikan itu pelajaran. Pelajaran bahwa kita gagal dalam mengatasi sebuah problem, tapi besok-besok ketika dilakukan lagi, kita nggak mengulangi kesalahan yang sama. Tapi justru kesalahan tersebut kita anggap bahwa keberadaan diri kitalah yang menggagalkannya. Dengan kata lain, saya = kegagalan. Wah, bahaya banget anggapan ini.

3. Kesempurnaan adalah keharusan

Padahal kesempurnaan hanya milik Tuhan, ya, kan? Nggak salah, sih, ketika seseorang berharap apa yang dilakukan atau dijalaninya berjalan dan berakhir sempurna, tapi, bukan hidup namanya kalau semua selalu berjalan seperti yang kita mau. Ketika apa yang kita harapkan nggak berjalan sempurna, lalu kita merasa hancur dan kepikiran terus-terusan, “Harusnya nggak begini, nih, jadinya,” atau “Ini nggak benar ini, hancur aku kalau begini,” di situlah kita nggak menghargai diri, nggak menghargai usaha yang sudah kita lakukan.

4. Fokus pada 1 kelemahan, melupakan 5 kekuatan

Bentuk hidung yang asimetris selalu jadi sumber ketidak percayaan diri, padahal ada 5 kelebihan yang kita miliki yaitu kulit yang halus, rambut yang tebal tergerai, sorot mata yang tajam, dan lain-lainnya. Merasa rendah diri terus-terusan hanya karena merasa nggak stylish, padahal punya kemampuan bikin presentasi PPT yang keren, mampu berpikir secara analitis, kritis, dan lain-lain, bakal bikin kita nggak bisa menunjukkan ke atasan kalau kita jago presentasi, sih. Terlalu fokus pada satu kelemahan akan membunuh rasa percaya diri yang berakhir pada kerugian di hampir semua lini kehidupan. 

5. Menganggap nyata suara-suara negatif di kepala

Bukan, bukan, saya tidak sedang membicarakan skizofrenia. Tapi suara-suara negatif di kepala ini seperti pemikiran, “Duh, ini semua nggak ada gunanya,” atau “Bakal gagal ini, buang-buang waktu.” Sesekali mungkin wajar, tapi kalau mikir negatif terus-terusan untuk semua hal yang kita lakukan, ya, susah juga mendongkrak rasa percaya diri. Yang ada malah bikin rasa pede kita makin terkubur dan beneran gagal nyaris untuk semua pekerjaan yang kita kerjakan.

-

Bagaimana moms, apakah salah satu atau bahkan nyaris semua kebiasaan di atas hampir setiap saat dilakukan? Langkah awal untuk memperbaiki itu semua adalah dengan mengakuinya. Karena kalau denial juga nggak akan kelar-kelar kebiasaannya. Langkah berikutnya bisa dengan memperbaiki kebiasaan-kebiasaan tersebut. Banyak caranya, kok.