6 Pertanyaan yang Wajib Diajukan ke Diri Sendiri Sebelum Resign

Enam pertanyaan yang akan memandu mommies, meyakinkan diri – jadi apa nggak ya saya resign?

6 Pertanyaan yang Wajib Diajukan ke Diri Sendiri Sebelum Resign - Mommies Daily

Ayooo jujur siapa yang lagi masa-masa galau, maju mundur mau resign apa nggak? Karena mengundurkan diri dari pekerjaan untuk kehidupan orang dewasa bukan perkara mudah seperti mengubah menu makan siang, dari plan A ke plan B. Ketika salah satu orangtua berhenti bekerja, maka kemungkinan besar akan berpengaruh terhadap kestabilan cash flow keluarga. Itu artinya, akan ada penyesuaian di sana sini. Pusing lagi, ya, kan utak atik bujet buat belanja kebutuhan sehari-hari?

Galaunya seorang ibu mau berhenti kerja, biasanya juga datang di masa-masa cuti bersalin. Beberapa penyebabnya, nggak punya support system mumpuni untuk dititipi anak, atau belum berjodoh dengan daycare yang lokasinya strategis.

Baca juga: Lakukan 11 Hal Ini Sebelum Berhenti Bekerja

Atau sumber justru berasal dari kantor kita sendiri. Apapun itu penyebabnya sampai kepikiran mau resign, jangan sampai hal besar ini menjadi keputusan impulsif.

1. Apakah saya ingin berhenti bekerja karena krisis yang sifatnya sementara?

Biasanya hal-hal seperti ini akan muncul dalam masa transisi, baru nikah, pas juga punya anak pertama, jadinya nggak tega meninggalkan anak. Menurut saya, kalau muncul perasaan seperti ini wajar-wajar saja. Tapi akan jadi bahaya, ketika di tengah kegalauan ini, kita membuat keputusan besar. Yang berdampak domino pula ke kehidupan kita.

Coba cari waktu untuk duduk tenang, ambil secarik kertas dan buat menjadi dua bagian. Untuk menulis plus minus jika mommies resign. melakukannya jangan hanya sekali, mommies. Supaya apa yang mommies tuangkan ke dua kolom terpisah tadi, benar-benar jawaban jujur dan sudah dipertimbangkan secara matang.

2. Kalau saya berhenti, sejauh mana dampaknya terhadap perekonomian keluarga?

Pertanyaan paling bikin pusing dan hati berdegup! Ada baiknya ketika ada di tahap ini, mommies meninjau dengan teliti keuangan keluarga dengan, pertanyaan turunan berikut ini:

-Ada nggak pengeluaran besar yang bisa saya kurangi? Misalnya pindah ke rumah yang lebih kecul, atau menjual mobil?

-Sudahkah saya punya cadangan dana darurat untuk memenuhi kebutuhan keluarga minimal untuk enam bulan ke depan?

Baca juga: Dana Darurat Bikin Pusing? Baca Dulu Tips Menabungnya!

-Dapatkah saya menemukan pekerjaan paruh waktu untuk membantu menambah pendapatan? Dan jenis pekerjaan seperti apa, ya, yang cocok dengan karakter saya?

-Kalau saya berhenti kerja, akankah jadi menghemat pengeluaran, seperti ongkos ke kantor, biaya makan siang (termasuk jajan sore :D), bayar pengasuh/biaya daycare?

-Siapkah saya menurunkan standar kehidupan (walau untuk sementara)? Misalnya menghilangkan fasilitas tertentu yang biasanya digunakan (bayar bulanan biaya nge-gym), diganti sama olahraga di rumah menggunakan alat-alat seadanya.

-Adakah opsi lain untuk saya belanja bulanan, supaya dapat harga yang lebih murah?

-Apakah segala polis asuransi masih bisa dibayar?

-Masih punya anggaran buat me time favorit kah? :D

Baca juga: Siapkan Hal Ini Sebelum Resign dan Menjadi Enterpreneur

3. Apakah penghasilan saya sebagian besar dihabiskan untuk membayar biaya pengasuhan anak?

Bagi orangtua yang anaknya dititip di daycare, mungkin sekarang sedang angguk-angguk kepala jawab pertanyaan nomor 3 ini. Atau bisa jadi, ada yang terkondisikan menggunakan jasa dua pengasuh di rumah?

Ya namanya biaya membesarkan anak mahal murahnya relatif, tergantung dari standar minimal masing-masing orang-orang. Tapi yang jelas, kalau salah satu dari orangtua resign, pos pengeluaran untuk menjamin anak-anak berada di tangan yang tepat dan aman menjadi salah satu prioritas utama.

4. Semudah itu kah kalau mau balik kerja lagi, setelah sekian lama di rumah atau jadi freelancer?

Ini harus dipikirin banget, lho. Kita nggak akan pernah menebak ke mana arah hidup membawa *tsaaah. Ya bisa jadi, setahun jadi freelancer, atau stay at home mom, eh hasrat buat kerja nggak terbendung. Atau terkondisikan harus balik kerja.

Mampu kah mommies menyesuaikan dengan cepat, perubahan-perubahan yang terjadi di luar sana? Bersaing dengan generasi-generasi yang dari segi usia jauh lebih muda? Dengan ide-ide “gila” mereka?

Baca juga: Beralih Karier di Usia 40-an? Pastikan Menerapkan 5 Pola Pikir Ini

5. Mungkin hanya soal manajemen waktu yang perlu dibenahi? Atau mencoba peran lain di kantor?

Selama bertahun-tahun mungkin mommies merasa stres di tempat kerja, karena nggak punya cukup waktu untuk mengurus keluarga, apalagi diri sendiri. Cek lagi soal bagaimana manajemen waktu yang salam ini mommies terapkan.

Terlebih jika kantor mommies kerja, menerapkan jam kerja fleksibel, wah itu sih udah enak banget, ya. Tinggal negosiasi sama supervisor, kapan mommies bisa kerja dari rumah. Skenario lainnya, nggak ada salahnya mendatangkan situasi lain, dengan mencoba posisi lain di kantor.

6. Jika memilih menjadi stay at home mom, mompreneur, atau freelancer apa sudah siap dengan segala risikonya?

Apapun pilihannya, pasti ada risiko yang menyertai. Kita ambil contoh menjadi stay at home mom, yang saya akuiiiii super duper menantang. Pekerjaan rumah selama 24 jam 7 hari, seperti nggak ada habisnya (lain hal kalau punya ART). Harus berhadapan sama anak, nyaris 24 jam, hanya dikurangi selama mereka sekolah aja. Nah, fakta-fakta seperti ini yang terlebih dahulu mommies resapi, “sesuaikah dengan karakter saya?” ,”mampukah saya mengelola emosi dengan baik?” “apakah saya bahagia dengan pilihan saya ini?.”

*Artikel ini diadaptasi dari: www.thebalancecareers.com


Post Comment