Resolusi 2020: Memulai “Less Waste” di Akun Media Sosial Pribadi

Meskipun hanya pengguna biasa, bukan influencer yang followernya puluhan ribu, tetap saja, we are what we post.

Minggu pertama tahun 2020, bahkan sampai detik ini, rasanya, kok, makin berat (baca: makin bikin saya mikir panjang) setiap kali mau posting konten di Instagram. Seperti ada pertanyaan bertubi-tubi yang muncul di benak, ketika jari hendak menyusun caption.

zero waste sampaj

Begitu berhasil mengetik satu-dua kalimat, sebentar, deh, bakal nyinggung orang, nggak, ya, kalau nulis begini? Kemudian jari saya pun mundur lagi, hapus lagi, ulang lagi, begitulah kira-kira sampai akhirnya yakin untuk ngepost. Padahal, follower 5000 saja belum, tapi, kok, mikirin banget hal ini?

Alasannya simpel, saya pingin jadi sesama ibu yang benar-benar berperan sebagai support system, nggak asal berpendapat yang mungkin bisa menyinggung perasaan teman dan follower.

(Baca juga: Menjadi Teman Bagi Mereka yang Depresi Saat Hamil)

Jadi, saya pun memutuskan untuk “memilah” tindakan-tindakan saat bersosmed. Kalau sekiranya hanya akan menyakiti orang lain atau tidak berguna, ya sebaiknya tidak usah di-posting. Less waste! Beberapa hal yang saya lakukan:

Nggak asal komen di postingan orang lain

Kita pasti sering banget bablas aja saat “gemas” pingin komenin postingan teman. Ah, deket ini! Lalu, kita merasa jadi yang paling benar, padahal belum tentu kita paham keadaan mereka.

Contohnya, teman posting lagi gendong bayinya dalam posisi yang salah, kita komen, “Kok, gendongnya gitu, sih?”, lihat anak teman duduk di kursi depan di mobil, bukan di carseat, kita komen, “Ih, bahaya, lho!” Padahal yang saat itu paling tahu keadaan anaknya, kan, ya, ibunya.

Meskipun (demi keamanan) kita memang perlu saling mengingatkan, tapi, kita kan juga bisa sampaikan via japri. Saya yakin nggak ada satupun ibu yang berniat membahayakan anaknya. Sebagai yang katanya teman, berlakukah sebagai suporter, tapi bukan artinya kita bisa seenaknya menegur mereka yang KITA ANGGAP salah.

Pantang posting bersyukur tanpa mikirin keadaan orang lain

Contohnya begini, “Ya ampun, untung banget, saya nggak jadi beli rumah di sana, Tuhan tuh baik, nggak kebayang kalau harus kena banjir, mana lagi punya bayi gini.”

Tuhan memang baik, tapi, ya, bayangkan bagaimana rasanya kerabat dan keluarga yang saat itu kebanjiran. Tuhan nggak baik, gitu, sama mereka? Hati-hati, karena ungkapan syukur kita bisa jadi kesedihan buat orang lain. Yuk, usaha sedikit untuk selalu empati.

Kecewa boleh, menghina jangan

Memang musibah banjir di awal tahun 2020 ini membuat banyak sekali orang kecewa, tapi, kok, jadi gampang banget, ya, blaming others? Mau pemerintah yang dianggap kurang becus, tetap saja, kita lupa sama aturan kalau kita nggak bisa seenaknya menjelek-jelekkan pemimpin negara kita saat ini.

Padahal diri sendiri juga belum ngapa-ngapain. Memilah sampah aja nggak, menggunakan plastik dan styrofoam dengan bijak juga enggak, masih zero action alias bener-bener nggak peduli sama lingkungan.

Iya, Indonesia memang negara demokrasi, tapi, kan, kita juga bisa menjaga tangan untuk nggak ikut-ikutan nyalahin pemerintah. Ingat, ada UU ITE! Kapanpun lagi merasa kecewa, even sama hal lain, seperti perusahaan tempat kita bekerja, hotel tempat kita menginap, restoran favorit yang tiba-tiba nggak sesuai ekspektasi, sekesal-kesalnya, nggak perlu langsung menghina mereka melalui postingan yang kita share.

Mirisnya, makin banyak orang yang kini merasa perlu menyuarakan protesnya terhadap sebuah brand atau penyedia jasa, biar yang lain pada tahu. Padahal, bukannya lebih mudah menghubungi bagian layanan pelanggannya langsung, ya?

(Baca Juga: Mengeluh Tentang Pekerjaan Itu Wajar, Namun Hati-hati Saat Posting di Social Media)

Just spread the good things!

Banyak hal positif yang bisa kita share dari sebuah berita besar. Kembali lagi bahas soal banjir, saya lebih seneng mantengin teman-teman yang selama banjir kemarin, malah makin semangat sharing soal cara mereka memilah sampah di rumah, tips decluttering, info tempat-tempat yang menerima sumbangan berupa barang-barang yang masih dalam keadaan baik, yang sudah tidak kita pakai, bahkan ajakan buat berpartisipasi mungut sampah di kota Jakarta.

Apapun itu, yang sekiranya bisa bermanfaat buat lingkungan, tanpa harus menjatuhkan pihak lain.

So, who’s with me?


Post Comment