Ini Alasan Para Ibu Protektif pada Anak

Protektif atau over-protektif? Itu sudah dua hal yang berbeda ya mommies!

Meski demikian, saya merasa tidak berhak juga menilai seorang ibu hanya protektif atau malah over-protektif. Semua orang punya pertimbangan masing-masing dan mungkin punya pengalaman yang berbeda di masa lalu sehingga memilih untuk menjaga anak dengan cara tertentu.

Tentang Keinginan Seorang Ibu Untuk Selalu Melindungi Anaknya, Salahkah? - Mommies Daily

Misal, anak pernah demam berdarah sehingga sekarang ibu sangat disiplin pada penggunaan mosquito patch atau lotion anti nyamuk. Atau anak pernah jatuh dari ayunan sehingga sekarang dilarang main ke playground. Dan banyak alasan lain.

(Baca: 9 Kecerdasan yang Berpotensi Dimiliki Anak, Tak Melulu Tentang Nilai Akademis)

Yang jelas, harus diperhatikan juga kemandirian dan regulasi emosi si anak. Dilindungi boleh, tapi pastikan ia tetap bisa mandiri dan mengelola emosinya sendiri.

Kedua hal ini penting karena di masa depan, anak dikhawatirkan tidak akan bisa lepas dari ibunya. Padahal sebagai orang dewasa, peran ibu sudah tidak lagi melindungi tapi lebih sebagai konsultan karena anak seharusnya sudah bisa menentukan pilihan hidupnya sendiri.

Apalagi kalau sudah berkeluarga ya. Ibu yang protektif pada anak yang sudah berkeluarga akan bisa terlalu terlibat dalam keluarga anaknya dan mungkin membuat tidak nyaman.

Apa saja yang membuat ibu protektif pada anak? Ini beberapa jawaban dari komunitas Mommies Daily di Instagram.

“Aku mah yg tengah tengah deh kayaknya. Biarin aja jatuh asal lingkungannya udah aku set aman untuk dia jatuh sekalipun dan tetep samperin dan bantu kalau² dianjatuh atau kenapa². Kalau di luaran aku harus sigap tangkap kalau kalau anakku keliatan oleng atau mau jatuh. Mata cuma tertuju sama anak.” — @cahayaafras

“Protektif bgt sama makanannya, ga boleh ini itu, sampe ngedikte mertua jg, biarin diblg egois, anak2 gueh, klo diare emaknya jg yg susah bkn kakek neneknya khaaannnn” — @rizkialmira

“Protektif sangat, krn dulu sy bisa hamil setelah melalui 5x insem, 1x bayi tabung (gagal semua) dan walau akhirnya bs hamil secara normal tanpa bantuan tapi tidak merubah rasa protektif yang tinggi ke anak????” — @shiningdinda

(Baca: Anak Kesayangan Itu Memang Ada, Akui Saja)

“Gak bisa dinilai ya karena pasti ada hal yang mendasari alasan protektif tersebut.. Aku punya anak gak mudah, butuh program dulu, anak lahir premature, saat usia sekolah bolak-balik masuk RS, kalau dibilang protektif ya pasti karena memastikan anak aman” — @anita.sabidi

“Kalo jatuh, selama ga mengarah ke kepala aku ga terlalu protektif. Biasanya lebih ke orang2 klo ada yg batuk ga ditutupin, ada yg ngerokok/ngevape, mesti aku jauhin. Kalo lg main ada yg mukul tanpa sebab, aku jagain. Sama kalo mau keluar ke area kebon2an atau di tengah hari – sore, mesti pake lotion anti nyamuk. Haha.. Lebay ga sih klo ky gini?” — @christinadevy


Post Comment