Nak, Jangan Jadi Workaholic, Tapi Jadilah Seorang yang Hard-Working!

Punya ambisi itu boleh, kok, Nak, namun hidup tetap perlu berjalan seimbang.

Nak, Jangan Jadi Workaholic, Tapi Jadilah Seorang yang Hard-Working! - Mommies DailyImage by Kelly Sikkema on Unsplash

Paham, betul, kan, kalau menjadi a hard-worker itu jauh berbeda artinya dengan menjadi seorang yang workaholic. Di mana bedanya? A hard-worker tahu kapan ia harus bekerja keras dan kapan waktunya untuk ia beristirahat, sedangkan workaholic biasanya akan memforsir waktunya untuk bekerja, sehingga terkadang, istirahat itu tidak dianggap sebagai kebutuhan atau penyeimbang kehidupannya. Coba, sebelum kita mengajarkan anak untuk (sebaiknya) berperilaku sebagai a hard-worker, introspeksi diri sendiri lagi, yuk, kita ini sebenarnya termasuk yang mana?

Baca juga: 5 Sifat Anak Generasi Alfa yang Tangguh

Lalu, bagaimana caranya, ya, supaya anak kita nantinya menjadi si pekerja keras, bukan semata si “pecinta kerja”? Karena pada dasarnya, anak yang sadar bahwa bekerja keras dapat membantunya mencapai tujuan dan kesuksesan biasanya lebih memiliki self esteem dan lebih berkesempatan untuk mencapai kesuksesan. Bagaimanapun, sulit untuk kemudian menciptakan keseimbangan, mengingat makin ke sini, lingkungan sekitar makin kompetitif. Akan tetapi, menurut psikoterapis, dr. Laura Dabney, “There are times to be hardworking and times to be lazy.” Kuncinya adalah, dengan memastikan anak menikmati dan menghargai setiap usaha yang ia lakukan. Selebihnya, 6 hal inilah yang dapat kita lakukan. 

“It’s about finding self-worth, and valuing yourself based on your ability to do the hard work.”

1. Jangan mengeluh tentang pekerjaan Anda ketika di rumah

Orangtua selalu menjadi model bagi anaknya. Artinya, begitu buka pintu rumah, sebaiknya ingat untuk tidak mengeluh tentang pekerjaan kita, sesulit apapun keadannya. Karena bila kita ingin anak tumbuh sebagai pribadi yang kuat, kitapun harus menunjukkan mental yang kuat di hadapan anak, salah satunya dengan tidak mengeluhkan pekerjaan saat berada di rumah. 

2. Biarkan anak berjuang

Bila kita ingin anak kita mampu bekerja keras, maka biarkanlah ia berjuang lebih keras, khususnya dalam hal menyelesaikan tugas, seperti tugas sekolah, misalnya. Tidak perlu terlalu sering memberikan pujian ketika anak selesai mengerjakan tugasnya, tunggu ketika mereka berhasil mengerjakan sesuatu yang lebih sulit lagi, barulah kita lontarkan kalimat, “Selamat, ya, Nak, kamu berhasil!”

3. Tidak menuntut, tapi biarkan anak sadar kewajibannya

Apakah kita harus mengingatkan anak untuk mengerjakan PR? Jangan sampai anak mengerjakan PR hanya karena “disuruh mamah”. Kelak ia dewasa, anak akan menghadapi dunia ini sendiri, di mana “disuruh mama” bukan lagi menjadi alasan baginya untuk melakukan kewajiban yang jauh lebih besar dari sekadar PR matematika.

Baca juga: Agar Anak Mau Belajar Tanpa Dipaksa

4. Hargai interest anak

Anak bukanlah cerminan dari “kehaluan” kita sebagai orangtua. Kita mungkin punya pandangan sendiri tentang menjadi pekerja keras, namun yang tertanam di benak anak tentang menjadi pekerja keras tidak harus sama persis dengan apa yang ada di pikiran kita. Setiap anak lahir dengan kemampuan, talenta, serta ketertarikan terhadap hal yang berbeda. Saat anak terlihat ogah-ogahan saat mengerjakan PR matematika, tidak perlu langsung kecewa, coba ingat lagi, mungkin batas kemampuan anak terhadap mata pelajaran tertentu, ya cukup segitu saja, tapi saat mengerjakan PR bahasa Inggris, minimal nilai 9 ada di tangan. Maka, hargailah kemampuannya!

5. Berikan bantuan dengan tepat

Hal ini berhubungan dengan kapan waktu yang tepat untuk memberikan bantuan pada anak, tidak terlalu dini, namun juga tidak terlambat. Kita sebagai orangtua mesti paham mengenai level frustrasi vs kepuasan anak. Biarkan anak berusaha keras demi menjadi pribadi yang mandiri, namun ketika ia merasa frustrasi, bantulah! 

Baca juga: Ketika Semua Selalu Kita Bantu: Kita Ini Ibunya atau Asistennya? 

6. Mengerti bahwa semua butuh proses, termasuk saat anak bertumbuh

Banyak orangtua yang authoritative, saat anak putus asa sedikit, langsung panik. Padahal, namanya bertumbuh, anak butuh waktu untuk berjuang dan berusaha lebih lagi, terutama ketika ia menghadapi kegagalan. “Expect a lot from kids, but not the world.” Berharap anak bisa mandiri, boleh, namun nggak perlu ambisius menuntutnya untuk bisa cuci pakaian sendiri, apalagi kalau kita sendiri nggak pernah membuka kesempatan akan terjadinya hal tersebut. Ingatlah, bahwa semua butuh proses. Kita sebagai orangtualah yang perlu membimbing anak untuk belajar melakukan sesuatu sampai ia benar-benar mampu melakukannya sendiri. 

Artikel diadaptasi dari Fatherly.com

 


Post Comment