5 Masalah Pensiun yang Dihadapi Dunia, Indonesia Bagaimana?

Di Indonesia, dana pensiun sepertinya bukan hal yang darurat. Sebagai negara berkembang, banyak orang belum memikirkan masa depan karena masih berjuang untuk masa sekarang.

Agak miris ya tapi memang demikian kenyataannya. Negara dengan sistem pensiun yang terbaik di dunia tahun 2018 menurut data Australian Centre for Financial Studies adalah Belanda, Denmark, Finlandia, Australia, dan Swedia.

hold_hand

Melihat data dari Bank Dunia tahun 2016, negara yang duduk di 5 besar itu tidak berubah banyak. Pertama tetap Belanda, disusul Islandia, Swiss, Amerika, dan Australia.

Indonesia duduk di posisi 69 pada 2016 dan 26 di tahun 2018. Tidak bisa dibilang naik atau turun ya karena keduanya berasal dari riset yang berbeda. Tapi terlihatlah kalau Indonesia masih jauh menganggap dana pensiun sebagai masalah besar.

(Baca: Negara Ramah Lansia, Negara yang Seperti Apa?)

Dana pensiun ini bisa dari mana saja. Bisa dari pemerintah untuk para ASN, dari perusahaan BUMN, atau memang mengumpulkan pribadi lewat DPLK (dana pensiun lembaga keuangan).

Di Indonesia, dana pensiun ini sudah ada regulasinya di UU No 11 Tahun 1992 tentang Dana Pensiun. Jadi aturannya sudah jelas dan lengkap, hanya saja memang orang belum tertarik atau belum terpikir untuk menyisihkan uang mereka untuk dana pensiun.

Apa yang jadi masalah dari dana pensiun ini? Ada beberapa masalah dan ini dihadapi oleh negara di seluruh dunia. Tak hanya negara berkembang seperti Indonesia. Apa saja?

1. Orang hidup lebih lama

Dibanding zaman dahulu, orang zaman sekarang cenderung hidup lebih lama. Dengan demikian, dana pensiun yang dibutuhkan pun jadi jauh lebih besar. Jika pemerintah yang membayarkan pensiunnya seperti ASN, usia panjang ini akan jadi beban bagi pemerintah.

Dan ini tentu bukan hanya dialami Indonesia ya. Di berbagai negara Eropa, harapan hidup bertambah 10 tahun. Di Jepang, bahkan bertambah 16 tahun. Bayangkan harus menanggung hidup semua pensiunan selama 16 tahun tambahan dibanding uang yang sudah disiapkan sebelumnya.

2. Ada gap antara jumlah dana pensiun yang dibutuhkan dan yang ditabung

Saat pensiun, kita bisa menghabiskan 20 tahun tidak produktif bekerja. Dalam 20 tahun itu tentu ada inflasi setiap tahunnya. Sementara kita saja produktif bekerja selama sekitar 40 tahun (anggap dari usia 20 hingga 60 tahun). Dengan 40 tahun bekerja, kita harus menghidupi diri sendiri selama 40 tahun dan harus menabung untuk 20 tahun masa pensiun kan. Memang berat sekali terutama kalau tidak dimulai sejak dini.

(Baca: Tarif Bulanan Panti Jompo & Rusun Khusus Lansia dari yang Biasa Hingga Eksklusif)

3. Lebih berat bagi perempuan

Masih banyak negara yang membayar perempuan lebih rendah. Otomatis uang pensiun mereka di masa depan pun akan lebih rendah. Beruntung di Indonesia, sejauh yang saya tahu, tidak ada ya perbedaan gaji antara laki-laki dan perempuan. Meskipun masih banyak sekali PR besar seperti hak-hak perempuan di dunia kerja.

4. Persoalan yang berputar

Yes, ini bagian paling berat. Orang tua yang tidak punya dana pensiun akan jadi beban untuk anaknya sehingga anaknya tidak bisa menabung juga untuk dana pensiun. Persoalannya akan terus berputar dan sulit diputus.

Itu sebabnya, perencanaan keuangan itu sangat penting dan harus dimulai sejak dini. Sudah siapkan dana pensiun belum?


Post Comment