Begini Cara Menghadapi Orang Tua dengan Post-Power Syndrome

Masa pensiun tiba, orang tua yang tadinya sibuk bekerja terlihat menikmati waktu istirahatnya. Tak sampai beberapa bulan, ia mulai uring-uringan dan sulit tidur. Tanda Post power syndrome pun dimulai. Bagaimana kita menghadapi perubahan ini?

Ya, itu adalah salah satu gejala dari post-power syndrome. Saya bertanya beberapa hal pada dr. Erikavitri Yulianti, SpKJ (K), Konsultan Psikogeriatri serta staf pengajar di Dept. Psikiatri FK UNAIR/ SMF Ilmu Kedokteran Jiwa RSUD Dr Soetomo Surabaya tentang post-power syndrome ini.

post-power-syndrome

Menurut dokter Erika, post power syndrome adalah gangguan psikologis yang dialami oleh orang yang mengalami kehilangan kekuasaan atau jabatan. Biasanya terjadi setelah seseorang memasuki masa pensiun.

Beberapa gejala post-power syndrome meliputi:

– Kesedihan yang tidak juga hilang, cemas, merasa hidup hampa dan sering menangis
– Menjadi mudah tersinggung dan emosional
– Kehilangan kesenangan dan daya tarik kegiatan rutin sehingga banyak mengurung diri
– Kehabisan energi serta lelah berkepanjangan
– Gangguan tidur dan kehilangan nafsu makan
– Kesulitan konsentrasi
– Munculnya perasaan bersalah

Simak pertanyaan saya pada dokter Erika seputar post-power syndrome di bawah ini ya!

Apa penyebab post-power syndrome?

Post-power syndrome sangat erat kaitannya dengan kehilangan jabatan, fasilitas serta pendapatan seseorang. Selain itu pensiun akan membuat ruang Iingkup pergaulan seseorang berubah, yang akan berdampak pada berkurangnya peran aktif dalam kesehariannya. Bagi beberapa orang aturan prolokoler adalah sesuatu yang begitu melenakan dan hal ini sangat erat hubungannya dengan kebutuhan akan penghormatan dan harga diri.

Apa semua orang akan mengalami fase post-power syndrome ini?

Tidak semua orang yang memasuki masa pensiun akan mengalami PPS. Dampak dari pensiun antara lain: berkurangnya sumber-sumber keuangan, berkurangnya harga diri, berkurangnya kontak sosial yang berorientasi pada pekerjaan, kehilangan tugas yang berarti, kehilangan kelompok sosialnya.

Karakteristik orang yang rentan mengalami PPS adalah orang yang sangat senang dihormati dan suka dilayani oleh orang lain, selain itu ia membutuhkan dan senantiasa menuntut pengakuan orang lain, kurang percaya diri serta merasa bahwa hanya dengan jabatan yang ia miliki maka ia akan lebih diakui orang lain. Biasanya orang dengan resiko PPS cenderung meletakkan arti hidupnya pada gengsi terhadap jabatan dan kemampuan mengatur, berkuasa atas orang lain di sekitarnya.

(Baca: Terlambat Mempersiapakan Dana Pensiun, Harus Bagaimana?)

Apa sih biasanya konflik yang muncul saat orang tua kita mengalami post-power syndrome?

Dengan adanya sikap yang dimiliki penderita PPS tersebut, keluarga adalah lingkungan terdampak pertama. Biasanya keluarga mengeluhkan sulitnya berinteraksi dengan pasien dan tak jarang keluarga sulit memenuhi keinginan pasien.

Bila berlangsung lama akan menimbulkan kelelahan dan kejenuhan keluarga sehingga situasi dalam keluarga dapat terdampak; kebahagiaan dan sejahtera akan sulit diwujudkan, keluarga akan cenderung tegang, emosional dan saling melempar peran dan tanggung jawab. Hal ini lama-kelamaan berdampak pada lingkungan yang lebih luas selain keluarga; banyak teman yang merasa bosan, enggan bergaul dengannya dan semakin menjauh, akhirnya yang bersangkutan akan merasakan semakin kesepian dan sangat bosan.

Apa yang harus disiapkan keluarga untuk menghadapi orangtua post-power syndrome?

Penting untuk mempersiapkan pensiun dari semua aspek, meliputi fisik, psikologis dan finansial. Semakin awal mempersiapkan pensiun maka semakin banyak waktu, sehingga perencanaan akan semakin matang. Langkah awal menjaga kesehatan fisik yang baik perlu dilakukan, agar dapat menikmati masa pensiun.

Selain itu melakukan alih kerja sesuai bakat minat adalah hal yang penting dipertimbangkan sehingga orang akan tetap merasa berguna bagi sekitarnya, mengisi hari hari dengan berkualitas serta tetap mempunyai lingkungan yang senantiasa memberikan dukungan. Banyak hal yang dapat menjadi pilihan, antara lain menjadi relawan di organisasi sosial keagamaan, melakukan hobi yang dulu mungkin tidak sempat dilakukan serta aktif dalam kegiatan kemasyarakatan.

(Baca: Empat Hal yang Wajib Disiapkan Jika Ingin Pensiun Dini)

Lalu bagaimana mengatasi post-power syndrome ini?

Penting sekali bagi keluarga untuk mengenali gejala PPS sedini mungkin agar bisa diatasi dengan baik. Peran keluarga sangat diperlukan untuk memberikan dukungan dan memberikan makna yang positif bagi anggota keluarga yang memasuki masa pensiun. Memberikan awareness bahwa ia sudah melakukan bagian tugasnya dengan baik hingga masa pensiun. Ingatkan akan keberhasilan dalam hidupnya, prestasi dan perannya yang sudah ia lalui. Dengan demikian seorang yang memasuki masa pensiun akan merasa tetap berarti dan berguna hingga kapanpun.

Nah, jadi begitu ya moms! Kalau merasa tidak bisa meng-handle sendiri, mommies bisa cari dokter spesialis kejiwaan, konsultan psikogeriatri yang memang khusus menangani terapi gangguan fisik, psikolog/psikiatrik pada pasien lanjut usia.