Terima Saja, Ini Masalah Kulit yang Biasanya Muncul Setelah Melahirkan

Selain bentuk tubuh yang berubah (kraaay), saat hamil atau post-partum, kulit seorang wanita pun bisa bermasalah.

Bagi sebagian ibu, masa-masa kehamilan merupakan masa-masa glowingnya kulit. Mulus banget. Tapi buat sebagian lain, itu hanya mimpi belaka. Dikutip dari penjelasan Dr. Jenny Murase, M.D, seorang ahli dermatologi dari Amerika Serikat, sekitar 40% wanita yang hamil, pasti akan mengalami yang namanya jerawat saat hamil. Bukan cuma jerawat saja, banyak masalah kulit lain yang bermunculan ketika kita ditahbiskan menjadi seorang ibu.

Masalah Kulit Wajah Usia 30-an dan Rangkaian Skincare yang Tepat - Mommies Daily

Datangnya jerawat

Ketika jerawat datang saat hamil, ya sudahlah, terima nasib saja, demikian penjelasan Dr. Hilary Baldwin, M.D., direktur medis Pusat Penelitian dan Pengobatan Jerawat di New Jersey dan New York, Amerika Serikat. Pasalnya, obat jerawat untuk ibu hamil sangatlah terbatas, ini tentu saja demi menghindari masalah yang sangat mungkin terjadi pada janin.
Sejauh ini, hanya beberapa obat jerawat oles yang boleh digunakan pada ibu hamil, termasuk metronidazol, klindamisin, dan asam azelaic. Namun begitu, selalu pastikan ibu hamil konsultasi terlebih dahulu kepada dokter sebelum menggunakan obat jerawat, baik oles maupun oral.

Kabar baiknya, siksaan jerawat selama kehamilan bisa diatasi ketika menyusui. Menurut Dr. Baldwin hampir semua perawatan topikal aman digunakan selama masa menyusui.

Oya, jika mommies punya jerawat akibat kehamilan, hal ini mungkin akan berlangsung lebih lama. Nggak berarti selesai hamil, selesai pulalah masalah jerawatnya. Ada kemungkinan besar jerawat akan terus muncul setelah masa menyusui sekali pun. Hadeuh…

Masalah pigmentasi

Mulai dari sejak hamil area aerola akan semakin gelap, timbul pula garis hitam di tengah perut yang dikenal sebagai linea nigra, plus melasma yang dikenal juga dengan topeng kehamilan, serta ditandai dengan munculnya bercak cokelat di area pipi, dahi, juga bibir atas.

Menurut Dr. Andrew Alexis, MD, ketua departemen dermatologi Mount Sinai St. Luke’s Amerika Serikat, masalah pigmentasi ini akan lama hilangnya, atau bahkan nggak hilang sama sekali, walau bertahun-tahun masa kehamilan sudah lewat. Kok, sedih?

Untuk meminimalkan munculnya melasma, Dr. Alexis menyarankan ibu hamil sesedikit mungkin terpapar oleh sinar matahari. Tapi kalau sudah terlanjur muncul, tunggu hingga masa menyusui selesai karena dokter spesialis kulit biasanya akan memberikan retinoid topikal mau pun oral untuk mengatasi melasma.

Stretch mark, oh stretch mark

Kabar buruknya, hampir tidak ada yang bisa dilakukan untuk menghindari stretch mark. Losion yang mengandung shea butter terbukti meminimalkan jumlah stretch mark yang muncul, tapi bukan berarti nggak ada sama sekali.

Sayangnya lagi, selama hamil dan menyusui tidak banyak yang bisa dilakukan untuk mengatasi stretch mark, jadi tunggu selesai saja dulu. Paling-paling hanya menggunakan losion atau oil. Kalau masa menyusui sudah selesai, ada treatment khusus seperti laser atau penggunaan retinoid untuk menghilangkan stretch mark.

Jadi buibu, walaupun masalah kulit itu sudah takdir, yang akan datang pada kita, tetap ada cara, kok, untuk meminimalkan atau mengatasi masalah-masalah kulit tersebut. Yang penting diingat, selalu konsultasikan masalah kulit pada dokter yang mumpuni, dokter kandungan atau pun dokter spesialis kulit, terutama di masa kehamilan dan menyusui.


Post Comment