Dear Orangtua Mayoritas, Kenalkan Anak tentang Kaum Minoritas, Yuk!

Sebagai orang yang lahir dan besar di Bandung (ya tentu Pulau Jawa), tinggal di Jakarta, muslim, berjilbab, menikah di usia 25 tahun, langsung punya anak laki-laki, saya sadar sepenuhnya bahwa ini adalah kemewahan.

Iya saya adalah kaum mayoritas yang punya banyak sekali privileges di negeri ini. Saya tidak pernah diolok-olok karena ras apalagi agama. Tapi saya tahu, banyak sekali teman minoritas saya yang tidak bernasib demikian.

mengajarkan-perbedaan
Melihat apa yang terjadi belakangan ini tentang teman-teman di Papua, saya jadi ingin sekali berbagi cara mengenalkan ras pada anak. Sejak balita sudah bisa lho diajari soal ras ini. Apalagi di usia TK ketika mereka sudah sadar bahwa manusia itu ternyata berbeda-beda dan tidak semua sama seperti dia.

Bagaimana cara mengenalkan anak tentang kaum minoritas?

Beritahu bahwa ada banyak sekali manusia di dunia

Bisa dimulai dengan bercerita. Tentang negara, tempat tinggal, dan diakhiri dengan ras. Bahwa tidak semua orang warna kulit dan rambutnya sama seperti kita lho!

Kalau dirasa sulit, bisa lewat buku atau film. Jelaskan juga bahwa mereka disebut minoritas karena jumlahnya lebih sedikit dari jumlah mayoritas.

Aktif bertanya

Tanyakan anak apakah ia mengerti konsepnya? Apakah ia sadar kalau ia punya kemewahan dengan jadi mayoritas?

Tanya pula apa ia punya pengalaman teman yang minoritas. Siapa tahu punya dan si teman itu menjadi bahan olok-olok misalnya, bisa jadi cara untuk mengajarkan anak kalau meski mereka berbeda dan lebih sedikit jumlahnya, bukan berarti kita bisa bersikap tidak adil pada mereka.

Kalau tidak punya, tetap ingatkan saja ia memang berbeda mungkin dari sisi ras atau agama (atau lainnya), tapi bukan berarti ia jadi boleh diolok-olok karena ia berbeda.

(Baca: Begini Cara Menjawab Pertanyaan Seputar Politik dari Anak)

Empower them

Cari contoh orang dari kaum minoritas yang berprestasi, tunjukkan pada anak bahwa mereka juga tak ada bedanya dengan kita kalau memang mau berusaha.

Jangan matikan rasa ingin tahunya

Tinggal di apartmene dengan orang berbagai negara, anak saya, Xylo (5 tahun) seringkali menatap orang lekat-lekat kalau orang itu kebetulan dari ras yang berbeda. Saya biasanya tak langsung memarahi atau menegur dia, biarkan saja dulu.

Sampai di rumah, suasana sudah lebih nyaman, barulah saya sampaikan kalau tidak boleh lho menatap orang seperti itu karena mereka juga manusia yang tentu tidak nyaman kalau ditatap terlalu lama oleh orang lain.

Saya menghindar menegur langsung karena memberi ia kesempatan dulu untuk memuaskan rasa penasarannya. Khawatinya, kalau langsung dilarang ia akan jadi tambah penasaran namun ragu untuk bertanya karena takut dimarahi.

Jadi contoh yang baik

Ini nggak kalah pentingnya sih. Pastikan anak tahu kalau kita juga punya teman dari berbagai kalangan dan baik-baik saja memperlakukan mereka.

Duh, rasanya kurang sekali ya poin-poin saya di atas dibanding apa yang dialami oleh rekan-rekan minoritas. Tapi paling tidak kalau kita sudah mengenalkannya sejak kecil, ia tidak kaget lagi pada perbedaan. Semoga berguna ya, moms!


Post Comment