Diskusi Seks dengan Anak: Tak Melulu Soal Intercourse

Edukasi seks pada anak dan orangtua, bagi saya adalah hal yang sangat urgent di dunia pendidikan Indonesia.

Saya nonton film “Dua Garis Biru” dua kali, sesuka itu pada filmnya karena jadi melahirkan diskusi panjang dengan suami dan teman-teman tentang edukasi seks. Saya lho, yang merasa sudah punya berbagai skenario jika anak hamil, narkoba, dll. Pernah saya tulis artikelnya di sini: 6 Hal Kontroversial tentang Anak yang Wajib Dibahas Bersama Suami.

Dua-Garis-Biru
Film ini memperlihatkan efek nyata apa yang terjadi ketika seorang perempuan hamil sebelum waktunya. Digarap dengan sangat detail oleh sutradara Gina S. Noer yang juga menulis sendiri skenarionya. Kemarin, saya hadir dalam diskusi “Membuka Ruang Diskusi Ibu Lewat Dua Garis Biru” di Kopi Pono, Kemang bersama mbak Nia Umar dari AIMI, pendidik serta pendiri Keluarga Kita Najelaa Shihab, serta Gina S. Noer.

(Baca: 5 Pesan Parenting Super Penting dari Film “Dua Garis Biru”)

Menurut Najelaa atau akrab disapa Mbak Ela, kita harus fokus dulu pada tujuan. Tujuan edukasi seksual pada anak adalah kita ingin anak kita tumbuh dengan seksualitas yang sehat. Tapi pada praktiknya, tentu banyak hambatan karena pengalaman masa lalu orang yang berbeda-beda.

“Bisa tidak sepakat, bisa ada hambatan yang bermacam-macam. Misal ada alasan dari sisi agama jadi tidak ngomong seperti itu, atau justru melihat pengalaman masa lalu. ‘Dulu juga saya nggak diajarin bisa’. Banyak juga yang ibunya mau, tapi bapaknya yang ‘ngapain sih bahas gitu sama anak kita?’. Dan banyak lagi,” ujar Mbak Ela.

Lebih lanjut, mbak Ela menjelaskan bahwa film ini hanya berupa tools tapi mengajarkan seksualitas dan hubungan yang sehat tidak sesederhana nonton film 2 jam dan diskusi setelahnya. Banyak sekali hal yang bisa mendukung sex education itu sendiri.

Ayah mencium ibu, pertengkaran orangtua, itu membentuk persepsi anak atas hubungan suami istri yang sehat. Maka dari itu, sebelum masuk ke edukasi seks pada anak, pemahaman orangtua soal seks itu juga harus utuh.

Sekarang nih ya, jangankan bicara soal seks dengan anak, membicarakan seks secara terbuka dengan suami saja banyak yang kesulitan lho! Kalau bicara dengan suami saja sulit, apalagi pada anak. Itu sebabnya pemahaman orangtua tentang seks dan berbagai hal lain harus sudah matang. Kita harus belajar apa sih tanda-tanda puber? Apa yang akan berubah pada anak remaja? Bagaimana menjawab pertanyaan anak soal bayi keluar dari mana? Bagaimana menjawab pertanyaan anak soal intercourse?

“Pertanyaan anak selalu ada kepalanya, anak bertanya merupakan tanda kemampuan verbal sudah baik. Di usia balita, anak masih bertanya banyak hal pada orangtua. Masuk usia 7-8 tahun, mereka sudah bisa memilih apa yang ditanya apa yang tidak. Sudah bisa memutuskan ‘oh better not asking’ karena mereka menyadari muka ortu berubah di pertanyaan tertentu. Di usia itu juga anak sudah mengerti rahasia, sudah senang mengobrol dengan teman, bahkan sudah bisa cari informasi sendiri di internet,” ujar Mbak Ela.

Itu baru anak kecil, anak yang lebih besar tentu beda lagi pendekatannya. Remaja punya karakteristik di mana mereka merasa hal buruk hanya terjadi pada orang lain. Remaja itu belum bisa merunut risiko atas sebuah kejadian. Makanya banyak remaja yang terjerumus jadi pecandu narkoba karena merasa kalau dia yang coba narkoba mungkin ia tidak akan ketergantungan. Begitu pun soal hamil, banyak yang merasa kalau intercourse sekali saja belum tentu bisa hamil.

“Yang harus diingat, pertanyaan soal seks tidak perlu dijawab dalam satu sesi. Tipsnya adalah tanya balik, sejauh mana pemahaman anak soal hal itu. Misal anak bertanya soal bayi keluar dari mana? Tanya dulu: Menurutmu dari mana? Kalau jawabannya tidak tepat, luruskan miskonsepsi itu. Pemahaman agama, norma, itu nggak cukup buat remaja. Hasratnya beda, tantangannya beda dengan orang dewasa. Orang dewasa punya mekanisme dewasa, remaja belum,” lanjutnya.

Mbak Ela juga menegaskan, untuk sering-sering bicara pada anak soal banyak hal. Contohkan skenario terburuk tentang suatu hal agar anak bisa terbayang apa yang akan terjadi.

“Seks, drugs, alkohol pada anak itu kompensasi dari masalah lain karena secara fisik dan psikologis, hal itu memang tidak sesuai dengan perkembangan anak remaja. Tapi ketika ortu khawatir, yang dibutuhkan kesiapan dan latihan. Remaja memang nggak siap untuk mengambil keputusan jangka panjang, remaja belum punya kemampuan untuk membayangkan rentetan kejadian di masa depan. Maka kita yang harus siap dan terus menerus bicara pada anak tentang berbagai skenario yang mungkin terjadi,” tutupnya.


Post Comment