Jangan Panik Jika Alami 5 Hal Ini di Trimester Tiga Kehamilan

Ditulis oleh: Lariza Puteri

Panik saat kehamilan trimester tiga sebetulnya merugikan dan menguras energi.

Dari dua kali kehamilan yang pernah saya alami, keduanya mengajarkan banyak hal bagi tubuh saya. Bila awalnya, saat kehamilan kedua, saya merasa lebih santai dan pede, karena saya beranggapan: “Aaahh, udah pernah hamil, pasti sama-sama aja.”

Maka saya harus meralat perkataan saya tersebut di awal kehamilan kedua. Sebaaabbb, kenyataannya, kehamilan kedua ini seperti memberikan pengalaman baru. Ada, sih, hal-hal yang mirip dengan kehamilan pertama, tapi saya tetap merasa semuanya berbeda. Menurut teman saya, “Itu karena usia kamu yang sudah lebih tua!” Oke, baik!

Satu hal yang masih sama antara kehamilan kedua dengan yang pertama adalah rasa panik. Masuk trimester ketiga, saya tak lagi bisa berpikir santai. Segala sesuatu saya tanggapi dengan rasa panik berlebihan. Oiya, dan takut!

Hingga suatu ketika saat saya berkunjung ke dokter untuk melakukan pemeriksaan rutin, pak dokter meyakinkan saya bahwa beberapa hal yang terjadi di trimester ketiga itu normal, asalkan tidak ada perdarahan tiba-tiba, tidak pingsan tiba-tiba, dan tidak pecah ketuban dini.

Infeksi Saluran Kemih pada Ibu Hamil, Ini Sebab dan Tanda-tandanya - Mommies Daily

Berikut daftar kepanikan saya saat kehamilan memasuki trimester ketiga (yang seharusnya tak perlu terjadi):

1. Kontraksi palsu

Kontraksi ini pada dasarnya mirip kontraksi yang terjadi menjelang persalinan, tapi kontraksi palsu jelas tidak terjadi di detik-detik menjelang persalinan. Bisa di trimester ketiga atau bisa juga terjadi di trimester kedua. Kontraksi ini dikenal dengan sebutan kontraksi Braxton Hicks.

Namanya juga kontraksi, ada yang tegang di area perut, sudah pasti panik, dooongg. Tapi tenang, kalau kontraksi yang terjadi adalah palsu, dengan ciri-ciri seperti frekuensi atau pola kontraksi acak dan tidak teratur, tidak bertahan lama, tidak semakin parah, kontraksi berhenti saat Anda melakukan aktivitas lain, tidak ada bercak darah dan air ketuban tidak pecah, berarti semua masih aman terkendali.

Saat kondisi ini terjadi, yang diperlukan adalah tarik napas panjang dan tenang. Pada dasarnya kontraksi palsu terjadi sebagai cara tubuh bersiap dalam menyambut kelahiran bayi. Yah, hitung-hitung latihan menghadapi kontraksi yang sebenarnya. Tapi kalau mommies ragu apakah ini kontraksi palsu atau bukan, segeralah hubungi dokter.

(Baca: 18 Cara Mengurangi Sensasi Sakitnya Kontraksi dari Sesama Mommies)

2. Proses persalinan

Kehamilan yang kedua ini, mau tak mau saya harus kembali menjalani operasi caesar. Inginnya sih, VBAC ( Vaginal Birth After C-Section). Tapi kemudian karena janin di dalam kandungan terlilit tali pusat, maka operasi caesar adalah jalan keluarnya.

Beberapa hari sebelum tanggal yang sudah ditentukan untuk operasi ditentukan, saya terserang rasa panik. Takut! Entah apa yang saya takutkan, namun hal ini sukses membuat suami saya bingung. Padahal, proses persalinan adalah proses alami untuk mengeluarkan bayi dari dalam perut, salah satunya dengan operasi caesar. Asalkan dilakukan oleh dokter terlatih, sebetulnya tak ada yang perlu dikhawatirkan. Justru rasa panik tak ada gunanya, hanya akan membuat orang-orang di sekeliling bingung.

3. Sulit bernapas

Menjelang akhir trimester ketiga, tiba-tiba saya jadi sering merasa kesulitan bernapas. Kepanikan melanda. Saya pun menghubungi dokter kandungan saya dan meminta dipasangkan oksigen. Perlahan, dokter menjelaskan, tak perlu panik, dan menyarankan untuk bernapas perlahan.

Sesak napas yang terjadi pada trimester ketiga kehamilan bisa saja terjadi akibat janin yang ‘bersandar’ di diagfragma Anda sehingga sedikit menekan paru-paru. Keadaan ini masih aman, selama Anda masih bisa mengatur napas dengan mencoba mengganti-ganti posisi duduk atau tidur.

4. Bercak darah setelah bercinta

Jangan meninggalkan aktivitas seksual selama hamil. Itu pesan dokter saya, tentu dengan memilih posisi-posisi yang nyaman, ya. Namun, suatu ketika saya menemukan sedikit bercak darah setelah berhubungan seksual. Namun selama tidak mengalami kram perut, maka semuanya baik-baik saja.

(Baca: Menurut Riset, Ayah yang Ikut Cuti Melahirkan Ingin Anak Lebih Sedikit)

5. Proses persalinan yang memalukan

Mommies pasti pernah mendengar ada ibu melahirkan yang tak sengaja buang air besar saat mengejan, memaki pasangan (atau bahkan dokter?) saat menahan sakit kontraksi atau bahkan muntah di depan dokter saat persalinan. Tentu ini sangat memalukan dan bisa saja membuat cemas.

Tapi tenang saja, semua petugas kesehatan, baik dokter, perawat maupun bidan sudah sangat terbiasa dengan peristiwa memalukan itu. Jadi, tak perlu dipikirkan hingga mengakibatkan panik. Bila hal itu memang terjadi saat proses persalinan, anggap saja sebagai cerita indah saat bersalin. :)


Post Comment