Seandainya Saya Bisa Memberi Nasihat ke Diri Saya Sewaktu Masih Menjadi Ibu Muda

Ditulis oleh: Gita Putri Damayana

Melihat ke tahun-tahun yang lewat ketika anak-anak masih balita hingga usia sekolah dasar, banyak hal-hal yang saya syukuri maupun ingin saya koreksi.

Seandainya Saya Bisa Memberi Nasehat ke Diri Saya Sewaktu Masih Menjadi Ibu Muda - Mommies Daily

Si bungsu baru lulus sekolah dasar beberapa minggu lalu. Artinya, genap sudah tiga anak saya melangkah memasuki jenjang Sekolah Menengah Pertama alias resmi jadi ABG. Melihat ke tahun-tahun yang lewat ketika anak-anak masih balita hingga usia sekolah dasar, banyak hal-hal yang saya syukuri maupun ingin saya koreksi. Pengetahuan saya sekarang mengenai membesarkan anak sedikit lebih banyak dibanding saya di versi usia 30 tahun dulu.

Seandainya saya bisa berbicara pada “saya” yang waktu itu berusia 30 tahun dan sudah memiliki 3 anak dengan rentang usia bayi hingga balita, apakah yang akan saya katakan mengenai cara membesarkan anak? Sepertinya akan saya coba bagi menjadi bagian yang perlu saya syukuri dan yang ingin saya koreksi.

Bersyukurlah karena..

• Memberi ASI eksklusif pada mereka. Memberi ASI adalah perjuangan terjal dan mendaki yang seolah-olah heroik tapi sebetulnya amat cocok buat perempuan pemalas. Seperti saya! Setelah terampil menyusui sambil tidur, begitu si bayi menangis, tinggal singkap atasan langsung menyusui sambil lanjut tidur.

• Selalu menambahkan sayuran mulai dari brokoli, kangkung, kacang polong atau oyong sejak mereka cukup umur untuk mengonsumsi MPASI. Meski sayur bukan makanan favorit (tentu saja bukan!) tapi mengenalkan mereka ke sayur adalah investasi karena minimal mereka tidak terlalu asing dengan rasa sayur.

• Berusaha memasak sendiri semua MPASI. Mengenang masa perjuangan mencoba resep dan memasak MPASI sungguh membuat kita merasa sebagai ibu sempurna dambaan umat (meski sebetulnya dilakukan oleh begitu banyak perempuan lain).

• Skeptis dengan semua pendekatan revolusioner dalam merawat anak, kecuali sebagaimana disarankan WHO. Revolusioner dan terobosan cukup dalam pemikiran saja, soal anak, sebaiknya data, studi dan bukti ilmiah yang bicara.

Meski demikian, ada beberapa hal yang seharusnya bisa dilakukan dengan lebih baik..

• Tidak ada alasan bermalas-malasan menolak berolahraga sesudah melahirkan. Seharusnya tidak usah bersilat lidah melawan diri sendiri; kenakan sepatu olahraga langsung jalan keliling komplek.

• Tidak perlu defensif ketika ada pihak yang memberikan saran ini itu mengenai bagaimana mengasuh anak. Terbukti ada beberapa saran yang efektif kan? Bayi tidur tengkurap (terbukti kepala anak tidak ada yang peyang) sampai lebih rileks soal memberi makanan instan (sebaiknya tidak mengharamkan Pop Mie demi mempermudah momen kelaparan saat liburan keluarga) dan lebih berhati-hati makan ketika menyusui (bablas makan berefek ruam alergi di pipi bayi).

• Lebih rajin pakai gurita karena data anekdotal menunjukkan mereka yang pasca melahirkan pakai gurita lebih cepat langsing dibanding yang tidak. Ingat, anekdotal ya, bukan survey nasional!

• Hamil sama sekali bukan alasan untuk mengudap sesuka hati. Sama sekali tidak ada pembenaran untuk menghabiskan setengah stoples kastengel (atau nastar) dengan alasan “makan untuk berdua”.

• Lebih banyak mengonsumsi protein nabati dan lemak sehat seperti edamame, kacang bogor atau kacang mede karena selain untuk proteinnya, ASI selalu semakin deras setelah menikmati kacang-kacangan ini.

Tentu ada begitu banyak pendapat dari para ibu yang putra-putrinya telah melewati masa balita. Adakah kita berbagi pendapat yang sama?


Post Comment