Indonesia, Peringkat Nomor Dua Penyampah Makanan. Apa Kita Berkontribusi di Dalamnya?

Indonesia menduduki peringkat kedua soal sampah makanan setelah Saudi Arabi, di 2017. – The Economist Intelligence Unit.

Peringkat tersebut dibarengi dengan nilai 42,11. Penilaiannya berdasarkan, total produksi makanan negara, respon kebijakan akan kehilangan pangan, sampah makanan per kapita per tahun, dan respon kebijakan terhadap sampah makanan.

Indonesia Penyampah Makanan - Mommies Daily

Saya mengulik data soal sampah makanan ini dari video yang dirilis AJ+,  karena selalu mengulang perasaan sedih setelah menghadiri pesta pernikahan. Menemukan dalam satu piring, nyaris utuh nasi dan lauk pauknya, paling hanya satu sampai dua suap yang berhasil masuk perut. Pingin rasanya negur si pelaku: “kok tega? Buang makanan segitu banyak?.” Tak hanya makanan berat yang bernasib seperti itu. Makanan pendamping, seperti dessert dan buah-buahan juga sama.

Pemandangan serupa juga kerap saya jumpai  di restoran. Sebuah keluarga dengan entengnya meninggalkan meja mereka, dengan piring-piring yang masih menampung sisa makanan. Nggak juga dibungkus untuk di rumah, ditinggalkan begitu saja. Hampir pasti, pihak restoran akan membuang sisa makanan tersebut.

Dua situasi di atas, menjadi sangat ironi, jika kita sandingkan dengan sebagian masyarakat Indonesia yang masih tergolong miskin. Tercatat di Badan Pusat Statistik (BPS), September 2015 tingkat kemiskinan berada di 10,12 %, atau sekitar 26,58 juta penduduk Indonesia. Sebagian masyarakat dengan entengnya membuang makanan, di sisi lain sejumlah orang harus berjuang, hanya untuk mendapatkan makanan layak konsumsi.  

Dampak pada lingkungan pun sangat serius. Beberapa waktu lalu, kami sempat mengundang Dwi Sasetyaningtyas, untuk berkolaborasi di channel youtube MD. Ia adalah penggiat sustainable living, dan juga punya usaha yang menjual barang-barang menggunakan bahan ramah lingkungan. Tyas memberikan contoh, warga Jakarta membuang sampah sebanyak 7.000 ton sampah setiap hari ke Bantar Gebang, Tempat Pembuangan Akhir (TPA) . Jumlah tersebut setara dengan 35 kali paus biru, yaitu mamalia terbesar di dunia. Salah satu sampah yang “disumbangkan” ke sana, pasti berasal dari sampah makanan, kan?

Baca juga: Apa, sih, Zero Waste Itu?

Pertanyaannya, bagaimana menghentikan mata rantai sampah makanan ini? Menurut saya bukan semata-mata pekerjaan rumah pemerintah. Yuk, kita mulai dari mengendalikan diri sendiri dulu, lalu tularkan ke keluarga dan lingkungan terdekat.

Pertama, kendalikan rasa lapar. Biasanya sebelum pesan makanan, tapi perut sudah sangat lapar, saya biasakan untuk minum dulu, untuk mengurangi rasa lapar, yang berujung “lapar mata.” Tahu kan ini akibatnya apa? Pas lihat daftar menu restoran, semua kayaknya enak. Hal yang sama berlaku saat kondangan. Lihat semua gubuk makanan, mau dimakan. Coba duduk sesaat, tanya sama diri sendiri, “Lagi ingin banget makan apa?”

Kedua, makan tengah atau sharing dengan menu seimbang. Nah, ini sering saya lakukan kalau pergi bareng teman atau keluarga. Kuncinya pesan makanan yang mewakili zat makanan yang dibutuhkan tubuh. Masing-masing satu atau dua saja, disesuaikan dengan jumlah orang. Karbohidrat (pilihannya: nasi, aneka pasta, kentang dan lain-lain.) Protein (pilihannya: ikan, ayam, daging, tempe dan tahu.) Serat (pilih satu atau dua jenis sayuran.) Masih mau hidangan pencuci mulut? sharing satu menu berdua atau bertiga sudah lebih dari cukup, kok. Kan tujuannya hanya ingin membuat mulut kita segar, setelah menyantap yang asin-asin dan mengandung minyak.

Ketiga, bungkus makanan jika terpaksa. Di rumah bisa kita jadikan lauk tambahan. Poinnya, jangan ada yang terbuang percuma. Membelinya juga pakai uang hasil jerih payah, kan?

Keempat, cari tahu frekuensi membeli bahan makanan segar rumah tangga. Selama beberapa kali trial and error, akhirnya saya tahu, kalau saya cukup belanja mingguan saja khusus bahan-bahan segar untuk bekal makan siang. Menyetok terlalu banyak pun di freezer, malah jadi tidak terlalu segar dan malah dibuang. Dan sering kali lupa, kalau ternyata masih ada seonggok dada ayam *__*

Rumus lainnya yang saya pegang teguh selama ini adalah, pesan, beli atau ambil sedikit dulu, gampang nambah atau beli lagi, kok!

Semoga ke depannya, kita jadi bagian yang berkontribusi mengurangi sampah makanan, bukan sebaliknya.

 


Post Comment