Pesan dan Harapan Para Ibu untuk Para Capres

Ditulis oleh: Rachel Kaloh

Saya mencoba bertanya kepada para perempuan sekaligus kaum ibu, mengenai harapan mereka terhadap Capres dan Cawapres di tahun 2019 ini. Adakah salah satunya juga menjadi harapan Anda?

Nggak terasa, Pemilu sudah semakin dekat. Debat capres yang sudah beberapa kali diadakan seharusnya sudah bisa membuat kita lebih yakin dengan pilihan calon presiden masing-masing. Sebagai perempuan dan ibu, tentu kita punya harapan akan program yang ramah anak dan perempuan, yang hingga saat ini belum terlaksana. Berikut hasil dari jawaban para ibu yang saya temui.

Pesan dan Harapan Para Ibu untuk Para Capres  - Mommies Daily

Cuti Melahirkan Enam Bulan

Sampai sekarang, baru beberapa perusahaan yang menerapkan cuti melahirkan selama enam bulan. Padahal, kalau dipikir-pikir, tiga bulan itu singkat banget, rasanya baru kemarin melahirkan, eh, besoknya sudah harus siap-siap ninggalin si kecil. Belum lagi harus kejar-kejaran dengan stok ASIP. Begitu si kecil masuk usia enam bulan dan mau mencoba MPASI, sebagian besar ibu merasa perlu ambil cuti lagi supaya nggak melewati pengalaman makan anaknya pertama kali (tentu kepingin, dong, ngerasain serunya nyuapin anak). Akan menyenangkan bila peraturan terkait cuti melahirkan diperpanjang.

Paternity Leave

Orangtua itu bukan hanya ibu. Yang mengalami kejutan paska-melahirkan si kecil bukan hanya ibu. Yang perlu adaptasi saat pertama kali menjadi orangtua bukan hanya ibu. Yang begadang dan mengurus anak bukan hanya ibu. Sebagai number one support system, sudah seharusnya ayah juga dapat jatah cuti melahirkan, setuju? Meski beberapa perusahaan sudah menerapkan cuti melahirkan bagi para ayah, umumnya sebanyak tiga hari (hiks, sebentar banget, ya?), rasanya perlu dibuat aturan Cuti Melahirkan untuk Ayah dengan jangka waktu lebih lama, minimal dua minggu (pesan tambahan dari salah satu ibu: wajib diambil, tidak boleh diganti dengan uang, hahaha!).

Aturan yang Lebih Ketat untuk Area Bebas Asap Rokok

Sampai sekarang, memang sudah menjadi standar, bahwa setiap tempat umum, termasuk mal harus bebas dari asap rokok. We are so grateful for that! Meski demikian, masih banyak juga orang dewasa yang “bandel” dan tetap suka merokok seenaknya, begitu melihat adanya ruang yang terbuka. Padahal, ruang terbuka tidak semudah itu membuat asap rokok lebih cepat hilang. Nggak muluk-muluk, sih, tapi mungkin harapan para ibu adalah pengawasan yang lebih ketat dari para petugas kawasan bebas asap rokok ini, kalau perlu diberlakukan peraturan denda bagi yang melanggar.

Kurikulum Dua Ribu Tiga Belas

Beberapa ibu dengan anak usia sekolah dasar ternyata menganggap kurikulum 2013 sebagai metode yang cukup menyulitkan untuk anak. Memang, sih, kurikulum ini memiliki aspek penilaian yang lebih menyeluruh, yakni aspek pengetahuan, aspek keterampilan, aspek sikap dan perilaku. Berbagai mata pelajaran seperti Bahasa Indonesia, IPS, PPKn, dsb dirangkum menjadi satu dengan tambahan materi Matematika. Kurikulum ini bahkan nggak hanya sulit diterima oleh anak, namun banyak guru yang sepertinya juga belum siap. Belum lagi, yang dites saat Ujian Nasional tidak mencakup keseluruhan materi yang dipelajari, tidak heran rasanya jadi percuma. Semoga nantinya pemerintah lebih konsisten lagi terhadap kurikulum sekolah dasar.

Ruang Menyusui di Gedung Perkantoran

Beruntunglah ibu-ibu yang kantornya sudah dilengkapi ruang menyusui atau ruang pompa ASI, bahkan fasilitas Daycare. Namun ternyata, masih banyak gedung perkantoran yang tidak memiliki ruang khusus menyusui. Alhasil, para ibu bekerja mesti kompakan untuk “berkreasi” mengubah ruang meeting, bahkan pantry, menjadi ruang pompa. Bicara soal ruang menyusui, di beberapa mal juga masih menerapkan aturan bahwa hanya ibu yang boleh masuk. Kalau anak kebetulan sedang dibawa jalan-jalan sama ayahnya lalu mesti ganti popok, kasihan kan, kalau ayahnya nggak boleh masuk.

Larangan Penggunaan Plastik yang Lebih Konsisten

Semua orangtua menginginkan lingkungan yang ramah bagi anak. Sebagai penghuni lingkungan tersebut, orangtua dan anak juga berperan dalam menjaga dan memelihara lingkungan. Oleh karena itu, apabila pemerintah memantapkan program atau aturan yang lebih konsisten mengenai larangan penggunaan plastik (nggak hanya memberlakukan plastik berbayar, ya), maka kondisi lingkungan akan jauh lebih baik. Memang, sih, sebagian dari kita masih memerlukan plastik, namun pemerintah sebagai pemegang kendali bisa membatasi penggunaan plastik, dengan memperbolehkan penggunaan plastik HANYA yang ramah lingkungan.

Nah, apakah harapan para ibu ini ada di dalam program jagoan yang ditawarkan oleh para Capres dan Cawapres? Tunggu tulisan saya berikutnya ya.


Post Comment