Saat Anak Ketahuan Mencuri

Nggak ada orangtua yang mau anaknya mencuri, apa pun alasannya. Ketika ini terjadi, apa yang bisa kita lakukan?

Beberapa waktu lalu, anak dari Asisten Rumah Tangga saya kepergok mengambil mainan anak-anak saya yang disimpan di kamar main. Mengambilnya pun dari jendela, menjulurkan tangan, mengambil mainan yang paling dekat untuk digapai (di sini saya memergokinya). Ternyata sudah beberapa kali. Saat ditanya orangtuanya, dijawab “Ini dikasih kok sama mamanya (atau ayahnya) Djati atau Bagus.” Tidak ada cross check karena ibunya percaya saja.

Tak ada satu pun orangtua yang mau atau senang anaknya kerap mengambil barang atau uang milik orang lain. Mencuri adalah perbuatan salah, rasa-rasanya sudah menjadi ajaran dasar setiap orangtua kepada anak-anaknya, ya, kan? Maka, saat itu terjadi, apa yang bisa kita lakukan sebagai orangtua?

Anak Mencuri - Mommies Daily

Berikut hasil wawancara saya dengan mbak Vera Itabiliana, Psikolog Anak dan Remaja:

1. Apa sih biasanya yang menjadi penyebab seorang anak suka mencuri? Entah mencuri barang atau uang orangtua hingga temannya?

- Kebutuhan mendesak yang harus dipenuhi dan anak takut untuk bicara ke orangtua. Misalnya, harus mengganti barang milik teman yang ia rusak atau hilangkan.

- Menjaga gengsi atau self esteem di depan teman-temannya. Ingin dianggap hebat, pemberani atau ingin diterima dalam suatu kelompok tertentu.

- Untuk memenuhi kebutuhan yang tidak terpenuhi di rumah. Misalnya, kurang perhatian dari orangtua, maka ia mencari perhatian dari teman-temannya dengan cara mentraktir atau istilahnya membeli teman.

- Mendapat contoh buruk. Mungkin ia pernah melihat orang dekatnya melakukan pencurian dan tidak ketahuan.

- Sebagai alat balas dendam atau protes terhadap perlakuan orangtua pada dirinya. Misal, marah pada ayah lalu mencuri dompet ayah agar ayah merasa bingung.

- Berasal dari kelas ekonomi rendah yang mencuri karena mereka tidak mampu membeli barang yang mereka inginkan.

2. Bagaimana cara mencegah hal ini agar tidak terjadi?

- Penanaman nilai-nilai dasar, di antaranya tentang kejujuran dan menghormati hak atau barang orang lain. Bisa juga pendekatan lewat nilai agama. Dibarengi dengan contoh dari orangtua, ya. Misal, tidak berbohong pada anak, minta izin jika mau menggunakan barang milik anak atau tidak memakai tabungan tanpa seizin anak.

- Menjalin hubungan yang erat dengan anak dan ini sebaiknya dilakukan sejak dini. Jangan tunggu ketika usia anak lebih tertarik untuk berkumpul dengan kelompok peer-nya dan menjauh dari orangtua. Hubungan yang erat membuat anak nggak sungkan mengungkapkan apa yang dia butuhkan.

- Beri anak uang saku yang cukup. Tidak kurang dan tidak berlebih. Jangan lupa ajarkan anak juga untuk menabung.

- Berikan contoh yang baik: Misalnya tidak mengambil makanan dari dapur tanpa sepengetahuan mama. Mengembalikan barang yang dia temukan.

- Tidak memberi godaan dengan menaruh uang, dompet atau barang berharga di sembarang tempat.

3. Bila anak sudah terlanjur memiliki kebiasaan mencuri, apa yang harus dilakukan orangtua?

Apa yang harus dilakukan orangtua, prinsipnya adalah SEGERA dan KONSISTEN:

- Reaksi harus tetap terkendali. Jangan marah berlebihan seperti membentak dan menyalahkan diri sendiri atau orang lain atas perilaku anak.

- Minta anak untuk mengembalikan barang yang ia curi. Temani anak ketika mengembalikan barang curian tanpa marah-marah. Jangan paksa anak untuk meminta maaf, karena biasanya anak sudah merasa sangat malu. Jika barang curian sudah rusak atau uangnya sudah habis, minta anak menggantinya dengan usaha sendiri (misal, potong uang jajan).

- Berikan hukuman atas perbuatannya namun bukan secara fisik. Misal, tidak boleh nonton televisi, tidak boleh menggunakan ponsel untuk jangka waktu tertentu. Kurangi atau hilangkan hal-hal yang disenangi anak sebagai hukumannya.

- Bicara dari hati ke hati dengan anak (bukan memarahi) untuk mengetahui motif sebenarnya kenapa anak melakukan perbuatan mencuri. Dengarkan apa yang dirasakan oleh anak, jangan langsung menghakimi atau menilai.

– Jika sudah terjadi berulang kali, maka sudah waktunya butuh bantuan pihak ketiga, seperti psikolog.


Post Comment