5 Cara Menjadi Pendengar yang Baik

Ternyata tidak mudah, tapi juga tidak sesulit itu. Ini cerita saya berusaha menjadi seorang pendengar yang baik untuk teman atau saudara yang sedang butuh teman cerita karena masalah yang sedang menghimpitnya.

 5 Cara Menjadi Pendengar yang Baik - Mommies DailyImage: by Matthew Henry on Unsplash

Menurut saya, salah satu hal tersulit dari interaksi kita ke sesama manusia dalam keseharian, adalah menjadi pendengar yang baik. Dalam hal ini, saya mau spesifik dalam dunia persahabatan. Karena membutuhkan kehadiran yang utuh. Artinya, tak hanya telinga saja yang mendengarkan, tapi juga dibutuhkan kosentrasi otak. Simpan dulu segala jenis gadget, jika yang bersangkutan curhat langsung ke kita.

Saat ada seseorang yang memutuskan  untuk cerita masalah yang sedang dia hadapi, saya percaya hatinya gundah luar biasa. Butuh “tempat sampah” yang bisa menenangkan dirinya, membuang semua energi negatif. Minimal, dia merasa punya teman yang peduli, merasa tak sendiri.

Apa saja yang saya tanamkan dalam mind set setiap menjalankan peran sebagai seseorang yang dipercaya menjadi tempat curhat? Baik itu langsung atau media komunikasi seperti handphone.

1.Menyelami bentuk emosinya

“Kalau gue ada di posisi dia, seperti apa, ya, rasanya?” dalam konteks masalah apapun itu. Supaya tanggapan kita tepat sasaran. Bisa bikin dia tenang dan nggak kalut. Karena yang namanya emosi negatif, sedih, marah benci dan kesal bahkan dendam bisa merusak diri sendiri. Setidaknya hal-hal tersebut yang nyata dari hasil observasi saya. Biasanya jadi tidak fokus menjalan aktivitas sehari-hari, sering bengong dan melakukan pelampiasan yang tidak-tidak. Minimal kkit mengambil peran, mencegah mereka melakukan sesuatu yang membahayakan keselamatan diri sendiri.  Karena merasa ada yang peduli.

2.Coba kasih solusi jangka pendek

Solusi yang mudah untuk dieksekusi. Apalagi kalau masalahnya lagi berat, emosi akan naik turun. Jangankan kepikiran jalan keluar, buat tidur nyenyak saja sulit. Solusi yang terukur, misalnya menyarankan dirinya ngobrol dengan orang yang sedang berkonflik, ditemani seseorang yang netral dan bisa menjadi mendiator yang baik.

3.Tidak menghakimi

Baik untuk yang sedang curhat atau orang lain yang sedang berkonflik dengan dirinya. Misalnya teman mommies adalah pihak istri, dan dia sedang terlibat masalah serius dengan suaminya. Katakanlah kasus yang sedang dihadapi suami teman anda selingkuh. Ia tahu, si suami teman mommies salah, tapi dalam proses mommies ngobrol, anda jangan menjadi “kompor.” Sudah pasti teman mommies sedang emosi tingkat tinggi, kalau ditimpali dengan kalimat-kalimat provokatif dan menghakimi suaminya, yang ada teman mommies jadi tidak berpikir logis dan tenang.

4.Fokus pada dirinya

Adakalanya kita terbawa suasana, dan teringat diri kita juga sedang punya masalah dan ingin sekali cerita. Tahan dulu, jangan tergoda langsung mengeluarkan unek-unek. Saya pernah mengalami ini, rasanya sangat tidak nyaman. Lagi fokus membahas masalah sendiri, yang dicurhatin malah ikutan sibuk bahas masalahnya juga.

5.Ingatkan dirinya sangat berharga

Fokus pada kalimat-kalimat positif, misalnya: “Gue yakin, lo bisa melalui ini semua. Ada anak lo yang butuh lo!” “Selama gue kenal elo, elo itu pribadi yang positif. Jadi masalah ini, dengan cara lo, mudah-mudahan bisa selesai dengan baik.” Kalimat-kalimat yang memberi pesan, dirinya itu penting untuk orang lain dan sudah pasti untuk dirinya sendiri.

Ada yang ingin menambahkan?


Post Comment