Kecil-kecil Kok Bossy? Cara Menghadapi Balita Tukang Atur

Memasuki usia 1,5 tahun, balita yang sebelumnya manis tiba-tiba berubah. Mereka merasa semua keinginannya harus dipenuhi. Welcome to the bossy toddler phase!

Di fase ini, bahkan warna sendok pun bisa jadi masalah ketika tidak sesuai dengan kemauannya. Yang terparah jika terjadi di tempat umum, ia bisa jadi tantrum dan di sinilah kesabaran kita diuji.

Bye Bye Balita, Welcome ABG! - Mommies Daily

Menurut Psikolog Anak dan Remaja, Vera Itabiliana Hadiwidjojo, hal ini memang wajar terjadi ketika usia anak 1,5 hingga 3 tahun. Di usia itu anak baru mengembangkan senses of autonomy, anak baru menyadari kalau ia individu sendiri yang terpisah dari ibunya sehingga ia bisa punya kemauan sendiri.

“Anak mulai mengembangkan “ke-aku-an” di mana ini sebenarnya merupakan tahapan perkembangan yang penting karena anak mulai mengembangkan kemandirian. Anak menjadi ingin melakukan apapun sesuai dengan kemauannya dan membatasi intervensi/aturan dari luar sehingga tampil sebaga anak yang sulit diatur, tidak mau dilarang, tidak mau dibantu, dan lain sebagainya,” ujar Mbak Vera.

Di titik ini, ketegasan kita sebagai orangtua yang harus dipertahankan. Bisa juga dengan memberinya pilihan sehingga seolah anak memilih sendiri padahal ya, dipilihkan oleh orangtuanya.

“Orangtua perlu tetap konsisten dengan aturan; jika tidak ya tetap tidak. Anak usia ini juga akan mudah tantrum jika tidak dapat apa yang ia inginkan, ya dihadapi saja tantrumnya, anak tetap harus paham bahwa ada batasan,” papar Mbak Vera.

“Anak seperti ini dapat “dikendalikan” dengan pilihan, misalnya daripada diperintah untuk mandi, lebih baik tanyakan pada dia langsung seperti ini “mandi yuk, mau sambil mandiin mainan ikan atau bebek?” Dengan diberi kesempatan untuk memilih, anak merasa dia yang pegang kendali atau tetap merasa jadi boss,” pungkasnya.

Masih bingung menghadapi balita yang jadi bos di rumah? Mommies bisa ikuti tips ini:

– Jangan jadi temannya. Iya, kita orangtuanya, bukan temannya. Sebagai orangtua, kita harus punya aturan kedisiplinan yang jelas. Tidak maka tidak, anak butuh sosok tegas yang bisa diandalkan.

– Buat rutinitas dan patuhi. Rutinitas sangat penting bagi balita agar mereka untuk mengerti waktu dan membuat mereka lebih nyaman. Rutinitas juga cara penting untuk mengenalkan mereka pada kebiasaan baik seperti mencuci tangan atau menyikat gigi.

– Harus satu suara dengan suami atau orang rumah. Ini biasanya yang tersulit terutama jika satu rumah dengan orangtua dan mertua. Perbedaan disiplin bisa membuat anak tahu bahwa tangisan bisa memberinya segalanya.

– Beri pujian saat ia berperilaku baik. Puji saat ia membereskan mainan atau menghabiskan makanan. Puji ketika ia bisa mencuci tangan sendiri tanpa diminta, dan sebagainya.

Intinya, jangan kalah pada anak!


Post Comment