Etika Menjenguk & Menanyakan Kabar Pasien Anak Demam Berdarah

Tak sekadar hadir memberikan dukungan moril. Jangan lupakan beberapa etika ini, terutama saat berbicara dengan orangtua dari pasien anak DBD.

Etika Menjenguk & Menanyakan Kabar Pasien Anak Demam Berdarah - Mommies Daily

Jangan tanya, deh, perasaan orangtua kalau anak lagi sakit. Rasanya ingin bertukar posisi, saking nggak tega melihat anak merintih kesakitan. Terlebih sakit yang sudah membutuhkan penanganan intensif seperti Demam Berdarah. Seperti yang anak saya alami. Dirawat seminggu di rumah sakit, artinya, saya dan pasangan mengalami turun naik emosi yang tak jarang membuat kami berdua malah terlibat konflik-konflik kecil, selama menjaga si kecil dirawat.

Tak hanya faktor antar pasangan. Ternyata faktor dari luar juga memengaruhi situasi  mood kami sebagai orangtua. Ada saja yang bikin kami geleng-geleng kepala, hingga mengundang rasa kesal. Supaya tidak terulang pada orang lain, saya rangkum untuk dijadikan referensi mommies jenguk atau sekadar bertanya kabar pasien anak yang didiagnosa demam berdarah.

Baca juga: Bersama Melawan Demam Berdarah Dengue!

1. Pintar membaca situasi

Khususnya di hari ke-4 anak mengalami DB, virus dengue sudah mulai menjalar ke seluruh tubuh. Rasa ngilu sudah tidak karuan, makanya wajar anak akan rewel luar biasa. Ini juga terjadi dengan Jordy. Hari 1 sampai 3 ketika masih diobersevasi demam, tingkahnya masih adem ayem, begitu masuk hari ke-4, dan sudah tegak diagnosa ia terkena DB, rewelnya melebihi saat dia sehat. Semua serba salah, semua harus sesuai dengan apa yang ia mau.

Jadi ketika mommies jenguk, dan kebetulan “terjebak” berada di situasi ini. Lebih baik diam saja, ya. Jangan berusaha ikut menenangkan anak. Semakin banyak saran dan orang dewasa, anak merasa terganggu karena berisik dan tingkahnya makin nggak karuan. Biarkan satu suara dari ibu atau ayahnya yang memenangkan anak. Percayakan kepada mereka. Dan jangan juga menyentuh anak. Mengingat sendi sekujur tubuhnya sedang nyeri luar biasa.

Baca juga: DBD:Lebih Berbahaya Pada Anak Dibanding Pada Orang Dewasa?

Solusi: pelan-pelan ingatkan ke ibu atau ayahnya saja untuk bersabar, sambil pegang pundak atau tangannya, ketika situasi ini masih bergulir. Dan saat ingin jenguk, bisa tanyakan ke mereka, mau dibawakan apa yang spesifik supaya dongkrak mood selama jaga anak. Paling ampuh sih, makanan enak!

2. Jenis pertanyaan atau pernyataan yang wajib dihindari

- “Kok bisa, kena dimana, sih, emangnya?”

Kalau saya ingat-ingat ketika Jordy DB dua tahunan lalu. Pertanyaan bodoh semacam ini yang sering muncul. Kebetulan nyamuk itu kecil, kalau ukurannya minimal seperti unggas saya pasti bisa jawab.

- “Kayaknya kena di sini deh”

Tiba-tiba punya keyakinan anak saya kena gigit nyamuk di tempat tertentu, hanya karena melihat postingan Instagram saya beberapa hari lalu. Halooo, anak kan nggak cuma berkutat main di rumah. Ada sekolah, dan lain-lain. Bahkan tempat bersih seperti mall, juga masih berisiko nyamuk dengue hilir mudik.

Solusi:

-Fokus bertanya ke proses recovery anak. Misalnya dari peningkatan trombosit anak, bagaimana dengan nafsu makan minumnya, siapa tahu bisa bantu membelikan sesuatu yang membangkitkan selera makan anak.

-Sesederhana mengucapkan atau mengetik kalimat “aman” : “Semoga lekas sembuh, ya!”.

-Ingatkan orangtunya untuk menjaga pola makan, tidur dan minum vitamin selama menjaga pasien. Situasi akan semakin nggak terkendali, kalau yang jaga pasien ikutan tumbang. Dan percayalah menjaga pasien anak itu: MELELAHKAN LAHIR DAN BATIN.

-Memberikan saran asupan alternatif untuk meningkatkan angka trombosit anak. Tapi tanpa paksaan.

-Mengingatkan orangtuanya untuk fogging lingkungan rumah dan sekolah anak.

Baca juga: Perlindungan Ganda Menangkal Gigitan Nyamuk

3. Ngobrol pelan-pelan

Sebetulnya orangtua yang kedatangan tamu untuk jenguk si kecil senang banget, karena bisa mengobati rasa bosan. Nah, tapi pas ngobrol usahakan dengan nada suara pelan-pelan mommies. Karena sering kali, pas kami kedatangan tamu, pas Jordy lagi tidur atau menjelang tidur. Suara ngobrol yang terlampau keras, akan mengganggu istirahat si anak.

4. Jangan cerita kasus menyeramkan seputar DBD/penyakit lainnya

Sudahlah kami orangtua masih harap-harap cemas menunggu hasil angka trombisit setiap hari. Terus ada yang cerita seputar kasus-kasus DBD atau penyakit lainnya. Yang ada, kami juga terbawa suasana mencekam. Karena yang kami butuhkan adalah pikiran yang tenang dan suasana hati yang stabil. Agar energi positif mengurus anak juga maksimal. Meminimalkan terbawa emosi saat anak cranky.

Semoga berguna, mommies.


Post Comment