Lindungi Anak Dari Penculik

Self

Mommies Daily・11 Aug 2015

detail-thumb

Ditulis oleh: Nayu Novita

Karena tak bisa mengawasi si kecil sepanjang hari, saya pun memutar otak untuk mencari cara agar membuatnya tetap aman di sekolah hingga tiba di rumah. Berikut cara saya.

Kasus penculikan anak yang semakin sering terjadi membuat saya semakin ketar-ketir untuk melepas Alika (9) ke sekolah.Tak sampai sebulan setelah kasus penculikan anak di daerah Bintaro (yang ternyata diculik oleh ayahnya sendiri!), berita tentang penculikan anak di Pusat Grosir Cililitan (PGC) singgah ke telinga saya.

Tak cukup sampai di situ, seminggu setelah kasus PGC, saya mendengar berita tentang percobaan penculikan anak di sekolah yang terletak tak jauh dari sekolah anak saya. Modusnya dengan berpura-pura menjadi supir yang bertugas menjemput anak tersebut. Untungnya, petugas keamanan sekolah cepat tanggap dan si anak pun tak mudah dibujuk sehingga penculikan tak sampai terjadi.

Maunya sih, 24 jam sehari saya bisa selalu ada di samping anak saya. Tapi apa daya, nggak mungkin juga saya bersikap overprotektif seperti itu kan. Setelah mendapat “serangan” berita bertubi-tubi itu, alhasil “radar” di kepala saya pun secara otomatis bertambah sensitif 10 kali lipat alias parno!

Basic RGB

*Gambar dari sini

Sibuk saling mengingatkan dengan sesama mommies di sekolah, cari-cari tips di internet dan banyak lagi deh. Dari hasil ngobrol dengan sesama mommies, akhirnya saya mendapatkan beberapa kiat yang kayaknya bisa saya ikuti. Ini beberapa di antaranya:

  • Ikuti prosedur keamanan di sekolah
  • Sejumlah sekolah memiliki prosedur keamanan yang berlaku pada saat penjemputan siswa pulang sekolah. Di sekolah Alika misalnya, kendaraan penjemput wajib ditempeli stiker berlogo sekolah. Orang yang bertugas menjemput pun wajib memperlihatkan kartu khusus yang dibubuhi nama serta foto penjemput kepada petugas keamanan. Pastikan prosedur ini telah kita penuhi secara benar agar kerjasama dengan pihak sekolah bisa terjalin dengan baik. Tak jarang saya temukan ada beberapa orangtua yang menganggap remeh peraturan ini dan saat ditegur oleh pihak sekolah, orangtua malah bete.

  • Pastikan anak memahami prosedur keamanan
  • Pernah nggak kita bertanya pada si kecil, apakah ia mengerti tentang prosedur keamanan yang ada di sekolahnya? Karena, yang sering terjadi orangtua terlalu heboh dengan diri sendiri, kemudian lupa untuk ‘mengenalkan’ si kecil pada standar keamanan ini.

    Ini untuk mengantisipasi terjadinya kealpaan dari pihak sekolah maupun dari sisi orangtua dalam proses penjemputan pulang sekolah. Percuma kan, sudah capek-capek menyusun sistem pengamanan, tetapi si kecil dengan mudahnya bisa dibujuk ikut orang asing yang menyodorkan permen.

  • Membuat password
  • Anjuran untuk membuat kata sandi alias password kala menjemput anak di sekolah ini sempat ramai beredar di timeline Path beberapa waktu lalu. Bukan hanya bisa diberlakukan untuk menjamin kerahasiaan data digital kita, pemakaian password juga bisa diterapkan demi keamanan si kecil. Buatlah password yang diganti secara berkala dan pastikan kata sandi tersebut hanya diketahui oleh Anda dan si kecil. Katakan kepadanya bahwa ia hanya boleh dijemput pulang oleh orang yang bisa memberikan kata sandi tersebut.

  • Tidak mencantumkan nama anak di tempat terbuka
  • Memakaikan topi, jaket, ataupun tas bertuliskan nama si kecil memang bisa membuatnya merasa senang dan istimewa. Tapi hati-hati moms, informasi tentang nama si kecil bisa terekspos kemana-mana sehingga memudahkan orang tak dikenal (termasuk si penculik!) memanggilnya dengan nama yang benar. Makanya, alih-alih diletakkan di luar, lebih baik sematkan nama si kecil di bagian dalam topi, jaket, maupun tas, dimana orang lain tidak bisa dengan mudah membacanya.

    Masih suka menempelkan stiker Happy Family di kendaraan Anda? Coba dipikir-pikir lagi deh moms. Lihat alasannya di halaman berikut.

    Happy Family Kode H

     

    *Gambar dari sini

  • Hati-hati, stiker “happy family”!
  • Stiker mobil berbentuk karikatur anggota keluarga lengkap dengan nama mereka masing-masing, masih ngetren di kalangan orangtua. Bagus sih, tapi dengan alasan yang sama seperti poin nomor 4, informasi ini bisa disalahgunakan oleh orang jahat. Coba bayangkan, saat si kecil tengah asyik bermain, ada orang yang mengaku berteman dengan kakaknya (yang tentu bisa disebutkan namanya secara tepat!) dan mengajaknya pergi ke suatu tempat untuk menemui sang kakak—padahal si kakak sedang asyik tidur di dalam kamarnya. Duh, jangan sampe, deh!

  • Selektif memilih jasa jemputan
  • Banyak orangtua memanfaatkan jasa jemputan sebagai sarana transportasi si kecil menuju sekolah maupun tempat kursus. Saya juga pernah mendaftarkan Alika ikut jemputan. Supaya aman, saya memilih penyelenggara jasa jemputan yang memiliki kerjasama resmi dengan pihak sekolah. Tak ada salahnya juga sesekali ikut menumpang mobil jemputan—seperti yang pernah saya lakukan, untuk lebih mengenal si pengemudi serta mengetahui caranya membawa kendaraan. Percayai insting Anda dan hentikan penggunaan jasa jemputan jika ada suatu hal yang membuat tidak nyaman—entah cara mengemudi supir yang ugal-ugalan ataupun gerak-geriknya yang mencurigakan.

  • Pergi berkelompok
  • Bukan hanya membayang-bayangi anak yang masih kecil, anak besar pun tak bisa bebas sepenuhnya dari risiko menjadi korban penculikan. Terlebih jika ia terbiasa berangkat dan pulang sekolah sendiri. Untuk meminimalkan risiko tindak kejahatan, biasakan anak untuk pergi kemana-mana secara berkelompok. Dengan begitu, ia dan teman-temannya bisa saling menjaga dan membantu apabila terjadi hal-hal yang tidak diinginkan.

    Anda punya “resep” jitu lainnya untuk menjaga keamanan si kecil selama di sekolah? Yuk, ikutan share di sini!