Philips Menyelamatkan Calon Ibu dengan Teknologi

Saat kita hamil, pergi ke dokter dan memeriksakan kandungan dengan mesin Ultrasound merupakan sesuatu yang biasa ya. Bahkan saat kandungan sudah mencapai usia 26 – 30 minggu, kita juga bisa melihat janin kita di dalam perut lewat ultrasound 4D, sehingga semua kondisi yang berpotensi membahayakan si janin dan ibu bisa diantisipasi. It’s so easy that we almost take it for granted, right?

Padahal masih banyak para calon ibu di Indonesia, dan juga di belahan dunia lainnya, yang sama sekali tidak mempunyai akses ke fasilitas kesehatan seperti ini. Boro-boro USG, kadang-kadang rumah sakit atau puskesmas pun tidak ada di desa mereka. Ini juga salah satu alasan mengapa tingkat kematian ibu dan anak di Indonesia masih tergolong tinggi, yaitu 359 per 100,000 kelahiran. Baru-baru ini Tempo merilis data dari Global Burden Disease 2013 yang menyatakan bahwa dalam satu jam, satu orang Ibu di Indonesia meninggal dalam kondisi hamil atau melahirkan. Sedih banget kan, Mommies!

Tentunya hal ini merupakan peer yang besar untuk Menteri Kesehatan kita yang baru dan pastinya ini bukan pekerjaan yang enteng. Namun satu hal yang jelas, fasilitas dan teknologi medis yang kita nikmati saat ini di kota-kota besar, harus juga bisa diakses oleh para ibu yang ada di daerah terpelosok.

Rupanya hal ini menjadi salah satu perhatian Philips, perusahaan teknologi asal Belanda, yang baru-baru ini kota kelahirannya saya kunjungi. Pada saat acara Philips Innovation Experience di Eindhoven, CEO Philips, Frans van Houten, mengatakan bahwa inovasi sudah merupakan dan akan selalu menjadi “jantung” dari perusahaan Philips. Di acara Innovation Experience ini mereka ingin menunjukan bagaimana mereka bisa mendobrak berbagai batasan untuk menciptakan produk dan jasa yang benar-benar membantu meningkatkan kualitas hidup orang banyak.

Pernyataan ini tidak berlebihan kok. Karena dari sekian banyak produk yang dipamerkan hari itu, ada beberapa yang saya rasa bisa menjadi solusi untuk masalah kesehatan ibu hamil dan melahirkan. Bahkan salah satunya udah diterapkan di Indonesia. Tidak heran mengapa Philips tahun ini memutuskan untuk membagi perusahaannya ke dalam dua jenis yaitu HealthTech dan Lighting solutions, karena mereka menganggap langkah ini dianggap mampu menajamkan lagi kekuatan inovasi mereka, terutama di pasar yang growing seperti negara kita ini.

Apa aja sih inovasinya?


Post Comment