Ibu Hamil & Kursi Prioritas

Behavior & Development

sazqueen・17 Apr 2014

detail-thumb

Kemarin mengikuti hebohnya postingan seorang perempuan di akun sosial medianya, ia berpendapat kalau ibu hamil yang suka minta tempat duduk di kendaraan umum itu hanya menyusahkan orang lain saja.  Saya tidak ingin memberikan pendapat lagi tentang bagaimana kurang peka-nya pendapat tersebut. Saya hanya ingin meneruskan pengetahuan, kenapa harus ada yang namanya kursi prioritas.

Courtesy_Seating_sign

Di Indonesia, hanya dikenal satu nama : Kursi Prioritas. Kursi ini diperuntukan pada manula, penyandang cacat, ibu hamil, dan orang yang membawa anak kecil. Di beberapa negara lain, ada yang membedakan antara kursi yang harus diberikan dan kursi yang harus ditawarkan. Priority Seating means must be vacated for persons with disabilities (khusus untuk penyandang cacat) dan Courtesy Seating means please offer your seat if someone is in need (untuk orang yang membutuhkan karena satu situasi atau keadaan, misalnya hamil, manula, atau membawa anak balita). Setiap alat transportasi umum, akan memasang tanda ini di atas dua atau tiga buah kursi, artinya kursi ini disediakan untuk mereka yang membutuhkan.

Mungkin yang paling susah dicerna dengan akal sehat, kenapa sih ibu hamil itu perlu dikasih kursi? Katanya hamil itu bukan penyakit, bukan hambatan, bukan gangguan, tidak termasuk difabel pula. Kalau nggak mau ribet, ya, jangan hamil! Kalau begitu, kenapa ibu hamil punya jatah di kursi prioritas?

  • Di trimester pertama, saat perut belum membesar dan bahkan terlihat belum hamil, justru merupakan saat paling rawan dalam masa kehamilannya. Bayangkan, ada banyak hal yang bisa menyebabkan keguguran di masa rawan ini, salah satuny adalah terlalu lelah.
  • Ketika perut mulai membesar, kemungkinan terjatuh karena kurang keseimbangan sangat mungkin terjadi. Kalau ibu hamil tersebut jatuh, sudah tahu, dong apa, risiko bagi si bumil tersebut?
  • Selain ketidakseimbangan yang suka datang tanpa diundang, hormon yang pergerakannya bagai roller coaster saat hamil ini, suka tiba-tiba menyebabkan sakit kepala, kaki kram (jangankan berdiri, lagi duduk saja bisa kram tiba-tiba), kaki bengkak, sesak nafas, heart burn, mual, muntah, dan perasaan tidak terduga lainnya. Tidak sedikit teman yang cerita kalau dirinya sempat pingsan di KRL, setelah beberapa kali meminta tempat duduk karena badan mulai terasa tidak enak, tapi diabaikan oleh orang sekitar.
  • Ibu hamil punya insting melindungi. Bagaimana cara melindungi janin dalam rahimnya? Dengan menjaga tubuh agar tidak terlalu lelah. Makanya, kadang jika terlalu lama berdiri dengan bobot badan yang mungkin sudah naik 10 kg, rasanya ingin istirahat sejenak. Tahu tidak risiko jika terlalu lelah? Bisa keguguran di trimester pertama atau kelahiran dini di trimester tiga.
  • Perkara ini mungkin tidak bisa dibandingkan dengan negara lain, karena masalahnya tidak hanya pada budaya dan sistem tapi juga individunya. Tapi boleh deh, kita cek satu negara, untuk membandingkan sistem saja. Di Jepang, ketika periksa dan dinyatakan hamil oleh dokter kandungan, ibu hamil akan langsung diberi pin sebagai tanda bahwa dirinya mengandung dan berhak atas beberapa fasilitas. Jadi tanpa perlu meyakinkan orang lain bahwa diri sedang hamil padahal perut buncit belum terlihat, ibu hamil bisa langsung diberikan tempat duduk, masuk di line antrean khusus, dan sebagainya. Di Indonesia kapan, ya?

    Selanjutnya: Jadi, ibu hamil itu manja? >>

    Nah, saya yakin sekali, deh, tidak ada ibu hamil yang ingin hamilnya drama. Semua ingin merasakan kehamilan yang santai dan indah, semacam iklan-iklan di tv.  Tapi memang hamil itu ajaib, dan jika belum pernah merasakannya, at least turn your empathy button on. Karena di Indonesia ini terbiasa dengan cuek saja, maka perasaan antipati saat naik ke kendaraan umum itu pasti ada. Saya dulu deg-degan saat mau antre naik bis Trans Jakarta di line ibu hamil. Deg-degan dituduh ngaku-ngaku hamil, deg-degan kalau nanti pusing dan ingin minta tempat duduk pasti harus melewati drama, dan lainnya. Nggak nyaman, ya? Inilah mungkin alasan ibu-ibu hamil yang suka minta haknya untuk duduk terdengar menyebalkan. Karena dari dalam hatinya, ada perasaan tidak nyaman.

    Jadi perkara ibu hamil yang manja itu menurut saya tidak benar. Tawarkan tempat duduk sebelum mereka meminta, pasti akan situasinya akan lebih menyenangkan. Saat hamil dulu dan menjadi pelanggan bus, saya tidak selalu minta atau menerima tawaran kursi, loh. Jika memang tujuannya tidak jauh, jalanan tidak padat, dan badan sedang bugar, maka saya dengan senang hati akan berdiri. Percayalah, tidak ada ibu hamil yang ingin terlihat susah karena kehamilannya. Ibu hamil itu bahagia dengan kehamilannya, dan karena sedang menjaga janin, cikal bakal manusia yang nantinya hidup sama seperti kita, ia perlu bantuan orang lain untuk memastikan calon manusia yang ada di rahimnya akan baik-baik saja. Kalau sedikit empati untuk ibu hamil saja tidak ada, bagaimana untuk berbagai hal yang harus dijalani sebagai makhluk sosial nantinya?

    seatsss

    And little note to all Mommies, rasa kesal yang timbul karena membaca pendapat orang lain ini jangan hanya sekedar jadi energi negatif, ya. Jadikan ini reminder  soal bagaimana cara mendidik anak. Malu, dong, kalau sudah protes sama yang berpendapat, tapi ternyata kita juga tidak pernah mendidik soal empati, simpati, toleransi, dan rasa lainnya pada si anak. ;)