Editor's Letter: Life is a Roller Coaster!

Editor's Note

nenglita・03 Jun 2013

detail-thumb

Hola,

Wow, tak terasa sekali, ya, sudah masuk di bulan ke-6 tahun 2013. Time flies when you’re having fun, isn’t it?

Setelah menjadi orang tua, saya merasakan sekali bahwa waktu cepat sekali berlalu. Perasaan, baru kemarin (ya, nggak kemarin-kemarin amat, sih, haha) saya telat datang bulan, lalu testpack dan dinyatakan hamil. Rasanya baru kemarin saya menghadapi rasa takut luar biasa saat detik-detik menjelang persalinan. Tau-tau, sekarang Langit sudah berusia 5 tahun! Persis seperti naik roller coaster. Perasaan baru tadi ngantre, naik dengan perasaan deg-degan, jerit-jerit, eh.. tau-tau selesai!

Ngomong-ngomong tentang kehamilan, bulan ini tema Mommies Daily adalah pregnancy. Hamil, bagi saya adalah momen tersehat dan tak terlupakan. Kapan lagi semua teman kantor menyetujui makanan pilihan saya saat kami makan siang? Kapan lagi diantar jemput setiap hari sama suami karena di awal kehamilan saya sempat nge-flek? Haha, mengingatnya momen yang kecil-kecil, ya.

Tapi sekarang, kalau ditanya, kapan hamil lagi? Saya akan menjawab, tidak tau, belum kepikiran. Kenapa? Punya anak, bagi saya adalah hal yang complicated. Bukan sekedar masalah fisik yaitu perubahan fisik saat hamil, menyusui, kurang tidur, dan lain sebagainya. Tapi lebih kompleks! Mulai dari emosi, psikis, hubungan dengan pasangan sampai ke masalah keuangan yang harus disiapkan secara detail. Memang, rezeki bisa datang kapan saja, tapi di zaman yang apa-apa ada nominalnya ini, rasanya harus lebih realistis, deh.

Setelah kehamilan, lalu menjadi orang tua. Bulan Mei kemarin, kami membahas tentang school is cool. Bagi saya, menjadi orang tua nggak boleh berhenti belajar. Proses belajar bisa kita dapatkan kapan saja dan dari siapa saja.

Dari Adis, saya belajar bahwa kejujuran itu mahal harganya. Leija mengajari saya bagaimana supaya tidak membesarkan ‘raja kecil’ di rumah dan mengenalkan anak pada Delay Gratification. Darina mengajari saya tentang bagaimana membuat kesepakatan dengan anak. Miund membagi cerita pelajaran apa yang bisa diambil selama 6 bulan jadi ibu. Dan yang paling penting, Ayah ASI juga berbagi pandangan kenapa suami HARUS belajar mengurus anak. Masih banyak lagi artikel yang sangat berguna bagi saya pribadi. Dan saya yakin, Mommies semua juga setuju, ya.

Pertengahan bulan lalu juga saya melakukan perjalanan ke Nias untuk menengok desa yang diaposi oleh Tango, sebagai bagian program Tango Peduli Gizi. Sebelum berangkat, saya mengajak Langit menyortir mainan layak pakainya untuk saya bawa ke sana. Sambil menyortir, Langit sibuk bertanya, mainannya mau dibawa ke mana?

Saya: “ini untuk dede-dede di Nias”

Langit: “kenapa dikasih ke sana?”

Saya: “karena dede-dede di sana nggak punya mainan”

Langit: “emang nggak dibeliin sama ibunya?”

Saya: “enggak. Karena uangnya hanya cukup untuk beli makan aja. Boleh nggak mainan ini dikasih ke  mereka?”

Langit (sambil meletakkan semua mainannya di kardus yang akan dibawa): “boleh, dong. Aku kan baik”

Apakah terlalu dini kalau saya berharap Langit juga bisa mempelajari bahwa berbagi dengan yang ‘less-fortunate’ itu baik? Ah, mudah-mudahan tidak. Mommies ingin mengajari si kecil berbagi juga? Kami akan mengadakan sebuah program yang detailnya menyusul, ya. Stay tune!

Ya, perjalanan menjadi orang tua (dan istri) sejauh ini menurut saya bagaikan naik roller coaster. Kadang santai, naik, turun, bahkan terbalik! Kita nggak pernah tau apa yang akan kita hadapi di depan sana. Mempersiapkan diri adalah hal yang terbaik. Setuju?

Salam hangat :)