“Tunggu Dulu!”—Manfaat Menahan Diri

Seperti yang saya tulis sebelumnya, anak tidak bisa dibiarkan tumbuh menjadi Raja Kecil—egois, demanding, dan tak terkontrol. Setuju?

Nah, kalau sebelumnya saya bicara tentang membiarkan anak merasa frustrasi, sekarang saya mau terjun ke topik yang masih berhubungan, namun lebih dalam—delayed gratification atau menunda kepuasan.

Untuk memahami apa itu delayed gratification, simak cerita berikut:

Di tahun 1960-70an, seorang pakar psikologi, Walter Mischel, melakukan sebuah eksperimen kepada anak-anak usia 4-5 tahun. Tes ini dijuluki The Marshmallow Test. Begini cara kerjanya:

Anak dibawa masuk ke dalam ruangan. Ia disuruh duduk di depan meja, di mana terdapat sebuah marshmallow. Si anak tidak boleh mengambil marshmallow tersebut selama 15 menit. Kalau berhasil, ia akan mendapat hadiah satu marshmallow lagi. Kalau gagal, si anak hanya akan mendapat satu marshmallow itu.

Lalu sang penguji pergi meninggalkan ruangan.

Dari 653 anak yang diuji, yang berhasil tidak menyentuh marshmallow selama 15 menit hanya… tiga anak! Sisanya tidak tahan. Yang tidak tahan pun levelnya berbeda-beda. Ada yang langsung meraup marshmallow tersebut sedetik setelah sang penguji keluar ruangan. Ada yang tahan lima menit. Ada yang tahan sepuluh menit. Dan seterusnya.

Dua puluh tahun kemudian, Walter Mischel mendata kembali anak-anak yang pernah mengikuti The Marshmallow Test. Hasilnya mengagumkan—semakin lama seorang bocah mampu menahan diri terhadap marshmallow tersebut, semakin tinggi pula daya konsentrasi dan logikanya. Mereka juga cenderung awet memelihara persahabatan, dan mampu bertahan dibawah tekanan. They don’t crack under pressure.

Kesimpulannya, Mischel menemukan korelasi yang kuat antara kemampuan menahan diri (atau menunda kepuasan) dengan masa depan yang lebih baik.

Setelah membaca Bringing Up Bebe, bisa saya katakan bahwa warga Prancis punya budaya delaying gratification yang amat kuat. Inilah mengapa anak-anak Prancis umumnya jauh lebih tenang dan kalem dibandingkan anak-anak Amerika Serikat.

Budaya ini susah dijabarkan secara scientific dan satu persatu-satu. Ibaratnya begini: bisa nggak sih, kita menjelaskan logika budaya orang Jawa, mulai dari tatakrama sampai sifat mengabdinya? Agak susah ya, karena sifat-sifat tersebut cenderung sudah tertanam dalam jiwa orang Jawa, jadi pelaksanaannya otomatis saja.

Sama halnya dengan budaya delaying gratification di Prancis. It just happens. Bahkan penulis Bringing Up Bebe, Pamela Druckerman, agak kesulitan menguliknya.

Saya pun tidak bisa memberikan mommies step-by-step praktis dalam menanamkan budaya delayed gratification kepada anak. Gini deh, saya berikan saja contoh-contoh kasus dalam masyarakat Prancis, lalu mommies simpulkan sendiri. Oke?

  • Orang Prancis sangat percaya dengan budaya ‘menunggu’. Bahkan ketika seorang newborn menangis, ia tidak langsung digendong. Orangtuanya akan menunggu selama 3-5 menit, mendengarkan tangisan sang bayi, lalu baru menggendongnya. Ingat tulisan saya sebelumnya, bahwa anak harus merasakan frustrasi sejak bayi? Ini salah satu contohnya. Ketika newborn menangis, mereka akan ‘dibiarkan’ frustrasi selama beberapa menit. Lama-lama, bayi-bayi Prancis merasa familiar dengan perasaan tidak nyaman terbangun, sehingga perlahan, mereka bisa mengatasi sendiri perasaan tersebut. Maka di usia 2-3 bulan, rata-rata bayi Prancis sudah bisa tidur semalaman penuh. Kalau mereka terbangun, mereka bisa balik tidur sendiri. They learn to self-soothe quickly. Ini adalah skill kemandirian yang amat penting.

O, ya, hal ini berbeda dengan metode Ferber dari Amerika Serikat, di mana bayi bisa dibiarkan menangis sampai sejam sampai ketiduran karena capek. Di Prancis, bayi tetap digendong, namun tidak langsung.

Tidak ada ‘ahli’ atau ‘profesor’ yang mengajarkan hal ini kepada orangtua Prancis. It just happens in France for many, many years.

  • Jika seorang anak Prancis merengek kepada orangtuanya, sang orangtua tidak mengeluarkan kata, “Stop!” atau “Jangen rewel!”. Mereka akan bilang, “Tunggu!”. Artinya beda, lho. Perintah ‘tunggu’ bermakna: ‘Mama sedang sibuk sebentar. Tunggulah beberapa menit, lalu Mama akan meladeni kamu.’ Menunggu di sini bukan berarti berjam-jam, ya. Bisa hanya 10-20 menit. Namun karena dipraktikkan terus menerus, anak-anak Prancis terlatih untuk sabar. Mereka tahu, kalau mereka sabar, pada akhirnya mereka akan diladeni, kok.

Menurut Pamela Druckerman, jarang sekali ia menelpon temannya, lalu temannya harus pamit karena, “Aduh, udahan dulu ya! Anakku rewel nih!” (JLEB! Sounds familiar?) Tidak ada. Anak Prancis sabar menunggu sampai ibunya selesai menelepon, dan sebaliknya, sang ibu tidak menyerah kepada kerewelan anak.

  • Anak-anak Prancis punya hobi yang sama setiap weekendbikin kue. Tanpa disadari, ini adalah latihan kesabaran yang amat efektif untuk anak. Bayangkan—mereka harus pelan-pelan menakar bahan, hati-hati memasukkan adonan ke dalam oven, lalu menunggu manis sampai kuenya matang. Setelah matang, mereka mendekor kue mereka dengan cermat. Ketika kue sudah jadi pun, biasanya anak-anak Prancis tidak diperbolehkan langsung mencaplok hasil baking-nya. ‘Tunggu jam makan!” kata orangtua mereka. Maka lagi-lagi, delayed gratification dipraktikkan.
  • Di Prancis, kalau seorang ibu sedang masak, lalu anaknya merengek di dalam playpen, apa yang kira-kira akan dilakukannya? Ya, lanjut masak. Mau diapakan lagi? Toh, nangisnya bukan karena kesakitan, tapi hanya ingin diladeni. Di saat seperti ini, bagi mereka, memasak lebih penting. Lagipula, bagi mereka, langsung menggendong si anak berarti memberikan instant gratification dan pesan yang salah: the kid is rewarded for bad behavior.

Yang saya simpulkan, inti dari delayed gratification adalah menunda kepuasan anak. Bukan berarti melarang, lho, ya. Kadang anak boleh mendapat apa yang ia mau, tapi ia WAJIB bersabar.

Kembali ke The Marshmallow Test. Ketika rekaman video The Marshmallow Test ditonton ulang oleh Walter Mischel, ia mendapati bahwa anak-anak yang mampu menahan diri agak lama punya kemampuan hebat dalam menghibur diri mereka sendiri. Untuk mengalihkan perhatian, mereka nyanyi-nyanyi sendiri, mainin jari jemari, dan melakukan berbagai hal demi mengalihkan perhatian dari marshmallow.

Seperti halnya self-soothing pada newborn, kemampuan menghibur diri sendiri pada anak adalah sebuah skill, bukan bawaan lahir. Ya, skill, yang berarti hal yang bisa diajarkan. Dan bagi warga Prancis, skill ini amat penting bagi anak.

Selain dengan delaying gratification, salah satu cara untuk melatih skill menghibur diri sendiri adalah dengan membatasi stimulasi kepada anak. Menurut Bringing Up Bebe, kita tidak boleh, lho, terus-terusan menemani dan menstimulasi anak (kasih mainan atau buku cerita, diajak nyanyi, kasih TV, dsb). Perhatikan baik-baik. Kalau anak sedang mampu menghibur dirinya sendiri, BIARKAN SAJA. Kalau mereka butuh perhatian, baru ajak main bersama.

Tak tega membiarkan anak merengek? Nah, kalau menurut para ahli, keinginan seorang anak itu bottomless pit. Nggak ada ujungnya. Sudah diberi anu, lalu minta itu. Kasihan, lho. Mereka diperbudak diri mereka sendiri akibat tidak bisa puas.

Sebagai orangtua, kita harus mengajari mereka untuk membatasi diri sendiri. Kalau sudah terbebas dari belenggu napsu (ceileh…), anak akan lebih hepi. Pasti tau ‘kan istilah, “When you want nothing, you’ve achieved happiness”?

Dan sebagai bonus, kita—sebagai orangtua—bisa menjalani hidup dengan lebih tenang.

Selengkapnya, silahkan ulik sendiri mengenai delayed gratification dalam French parenting, yaaa :)

Akhir kata, saya ingin berbagi secuplik cerita dari buku anak-anak Prancis, The Perfect Princess, dimana mommies bisa lihat betapa budaya delayed gratification tertanam kuat pada mereka:

Seorang bocah bernama Zoe berjalan bersama ibunya, dan berpapasan dengan penjual crepe manis. Zoe ingin crepe tersebut, namun ibunya melarang. Di lain hari, ketika Zoe kembali melewati penjual crepe tersebut, alih-alih kembali merengek, Zoe menutup matanya agar ia tidak tergoda.

PS. Mommies bisa tonton salah satu reka ulang The Marshmellow Test jika penasaran :)


11 Comments - Write a Comment

  1. Nah, pertanyaan gue, gimana caranya mengatasi anak yang rewel tengah malam untuk minta nenen? :( udah beberapa hari ini lagi berusaha untuk menenangkan Rasya tanpa nenen, cuma diusap2 atau dipuk2 punggungnya. kadang bisa tidur lagi, tapi lebih banyak nggak berhasilnya. err…..ini termasuk ngebahas delaying gratification ga ya?

    bagus juga sih, pas anak lagi asik bermain sendiri, kita ga perlu ‘menginterupsi’ keasyikannya bermain. pada saat bersamaan, kita juga jadi bisa me-time sekedar baca timeline atau bbm :p so, no more guilty feeling anymore!

  2. Oooo gitu ya, walopun gw gak slalu nurutin mau anak gw yang berhubungan ama barang (beli2an,main2 yg bahaya) tapi kalo kaya butuh perhatian gt gw langsung kasih,abis kesian hehe…dan ngerasa ketampar bgt bagian lagi masak anak rewel,terusin masak,kalo gw sih pasti lgsg ambil hehe pdhl bener juga ya masak/cuci piring/beberes lbh penting drpd ngeladenin rewel,toh di jam jam lain perhatian kita juga full ke dia..
    Oiya baru inget,pernah baca di majalah ibu&anak ttg parenting all over the world,jawaban ibu Perancis kurang lebih kaya di artikel ini,tapi versi kerasnya (gw gak tau itu nerjemahinnya yang kurang pas apa emang emaknya keras) dan gw lgsg mikir ih ni ibu gini amat,kesian kali anaknya..tapi pas dijabarin kaya gini jd lbh make sense sih hehe

    Anyway mo nanya tentang hubungannya sama attachment parenting deh,bertentangan atau 2 hal yg berbeda sih?
    Soalnya argumennya kan anak bayi dicukupi kebutuhannya pas bayi (kasih sayang&perhatian,salah 1nya dengan gendong2 terus) pas gede jadi anak yang content&penyayang… Buat next article mgkn hehe

  3. so i don’t have to feel guilty if over the weekend when my daughter wants my attention when i cooked by i prefer to finish it then play with her afterwards? karna toh masaknya buat dia2 (dan bapaknya) jugak yah, hihiihi..

    eniwei, nice article lei! dan sangat setuju dan pengen nerapin. sayangnya karna gue working mom yang bisanya nerapin ini hanya pas pulang kerja dan wiken, jadinya ya pasrah pas wikdeys mbaknya nurut sama anak gue walo udah selalu gue remind jangan terlalu diturutin -________-

  4. ini kayak salah satu plot iklan susu uht gitu, ya? bener gak sih?

    anyway, sejak usia 3 bulan, Menik udah tidur pulas sih. Gue ga pernah keganggu malam hari, cukup buka baju kalo si Menik minta jatah nyusu malam. Bukannya ngerengek nangis bangun trus melek semalaman. Jadi lumayan nih, sekarang udah usia 19 bulan. Menik sering ”nunggu” sebelum bisa dapet apa yg dia mau. Nungguin gue mandi di depan kamar mandi, nungguin gue beres ngirim email sebelum boleh make iPad, nungguin gue beres pake baju habis mandi sebelum bisa nyusu, dan bilang ‘sssttt’ klo misalnya ngeliat gue lagi nerima telpon. Walau ya, banyak juga kejadian gak sabarnya, ya hehehe.. Hmm, Baru tau namanya delayed gratification :) TFS, Lei!

  5. aihhh…gw sbg first time parent malah tambahhh binguuunnggg!! ehehehehe..
    Gw kayaknya sejalan sama ravenska, gw adopt attachment parenting ” anak bayi dicukupi kebutuhannya pas bayi (kasih sayang&perhatian,salah 1nya dengan gendong2 terus) pas gede jadi anak yang content&penyayang…”
    Tapi gw jg selama si baby masih bisa self soothing dan gak frustrasi gw suka biarin dia sibuk sendiri :D
    Yaaaa liat2 sikon lahhh..ehehehe..
    So far so good sihh, Sejak 3bln udah sleep thru the night, kalo kebangun malem2 bisa self soothing trus bobo lagi sendiri, dan bisa “nunggu” di playpen klo mami nya lagi sibuk.

  6. …dan selama ini gue ngerasa egois krn nerapin ini tanpa tau di belahan bumi lain ternyata ini malah jd panduan ya >.<.
    sering2 gue justru kelarin kebutuhan gue dulu sebelum megang anak. in the meantime anak bisa menghibur dirinya sendiri, atau ya silakan mau jejeritan, yg penting waktu mama pegang kamu mama ngga lagi spaneng krn ada yg kegantung/ketunda (misalnya duluin anak yg ngek sementara gue lagi butuh ganjel perut dikit, ato butuh ke kamar mandi dulu bentar).

    poin “toh nangisnya juga bukan karena kenapa2″ itu juga gue pake banget. makanya gue tulis juga di artikel how to handle 2,3 or more kids itu.

    ravenska & de2licious, gue tetep terapin itu jg kok, tapi sampe bates umur tertentu, sekitar 6-12m, abis itu terapin ini. it does work.
    kemarin waktu liput #seminarToA gw bawa semua D1234 + ayahnya buat handle D4. turns out emak2 panitia (yg notabene emang temen2 bbg & support group gue) katanya pada heran gimana 3 anak itu bisa sibuk sendiri. terus terang sebelum baca artikel ini juga gue ga bisa jawab kenapanya. I think I know but I just can’t tell.

    thanks ya Leija, your 2 articles has made me feel less guilty less ‘ngerasa ngawur dan nyasar’ in my parenting style *kisseuss from D1234*

  7. ditunggu artikel lain yang mengupas parenting style negara lain ya Lei :)
    komen gue aga SARA sih nih.. tp sejak dapet ‘rejeki’ berinteraksi di komunitas prancis sini, ada pertentangan soal parenting style mreka, krn outputnya .. bgitu, susah dijelaskan di forum.
    gue gak bilang jelek dan jangan ditiru, tapi we just can’t win it all and each of us have different prefences.
    i can only say, i prefer my children doesnt have certain traits that the french (adult) people have. so i’ll try to avoid applying certain things/methods that they apply to their children… since those methods can lead them to grow up like the current french adults i met. hihi.

  8. wahh.. ini kemaren prof gwe baru bahas ttg gold standard yg sebenernya lebih bagus cumaan lama dan painful processnya, si prof gwe ini bilang kalo ini semua karena sebagian besar manusia itu terbiasa dengan instant gratification.. maunya langsung2.. dan waktu dgr itu gwe langsung inget diri sendiri, yg ga bisa nunggu, yg maunya cepat dan langsung dipuaskan.. tp emang kalo reflect ke diri sendiri, ya akibatnya kepuasan gwe short lived, dan need another fixed jadinya… jd ya gwe mao nerapin inih ke anak2 gwe..

    btw finaisme kasi tau doong, napah itu si orang2 ferancis, hehehe

    good article leija, tfs yaaa.. suka banget sama tulisan2 leija :)

Post Comment