banner-detik
BEHAVIOR & DEVELOPMENT

Puasa Ramadan Pertama Si Kecil di Negeri Kanguru

author

vivifajar27 Jul 2012

Puasa Ramadan Pertama Si Kecil di Negeri Kanguru

Tahun 2011 yang lalu, saya dan anak-anak diboyong suami pindah ke negeri tetangga, Australia. Kami sementara waktu akan tinggal di Adelaide, ibu kota negara bagian South Australia, tempat suami akan melanjutkan pendidikannya selama kurang lebih dua tahun.

Banyak hal yang mesti kami persiapkan sebelum kepindahan kami ke Adelaide, baik fisik maupun mental. Hal terpenting yang menjadi perhatian kami adalah menyiapkan mental anak-anak  agar dapat segera beradaptasi di lingkungan barunya nanti. Putri sulung kami, yang saat itu berusia 8,5 tahun dan adiknya yang berusia 4,5 tahun terlihat agak cemas saat mengetahui bahwa di Adelaide mereka akan bersekolah di sekolah publik yang siswanya sebagian besar adalah anak-anak asli Australia. Saya sangat mahfum, mengingat mereka berdua, saat di Indonesia telah terbiasa belajar di sekolah lokal yang siswanya adalah teman-teman sebaya dari lingkungan sekitar kami tinggal saja, jadi bukan tipe sekolah modern atau sekolah internasional dengan kurikulum lengkap serta bersiswakan anak-anak dari beragam latar belakang budaya. Bagi anak-anak menghadapi perbedaan drastis semacam ini sudah cukup membuat mereka cemas dan tidak percaya diri, sungguh pekerjaan rumah yang luar biasa bagi saya dan suami untuk membuat mereka nyaman di rumah barunya.

Berbagai pengalaman baru pun kemudian mulai menjadi menu keseharian kami di Adelaide, mulai dari melatih komunikasi sehari-hari dengan bahasa Inggris, mempelajari tata cara pergaulan, menghafal jalur bus dan transportasi umum lainnya serta mencari informasi mengenai tempat-tempat publik yang penting untuk menunjang kehidupan kami sehari-hari, semisal lokasi pasar, rumah sakit, perpustakaan, sekolah dan pusat-pusat komunitas lainnya.

Salah satu pengalaman paling berkesan bagi kami adalah saat menjelang datangnya bulan Ramadan. Sebagai kota di mana masyarakat muslimnya adalah minoritas, Adelaide sepertinya tidak bersiap menghadapi Ramadan. Sebagai warga baru di Adelaide, yang menjadi pengingat kami akan datangnya bulan suci hanya datang dari lingkungan teman-teman Indonesia sesama muslim. Pengumuman mengenai kepastian datangnya Ramadhan kami peroleh dari Imam Masjid City of Adelaide, yang menjadi pusat kegiatan masyarakat muslim di Adelaide. Kami bahkan harus menunggu hingga tengah malam sebelum akhirnya mendapatkan kepastian hasil rukyat, yaitu hasil penglihatan para ahli atas munculnya bulan sabit yang menandakan datangnya bulan baru.

Sebuah pengalaman baru pula bagi saya saat menemani anak-anak menjalani puasa Ramadan mereka yang pertama kali di Adelaide. Kebetulan Ramadan bertepatan dengan datangnya musim dingin, sehingga waktu Subuh baru datang menjelang pukul enam pagi dan waktu Maghrib sudah datang hanya lebih sedikit lewat pukul lima sore, sehingga lamanya menjalani ibadah puasa kurang lebih dua belas jam saja, tak jauh berbeda saat kami di Indonesia. Bagi si sulung yang sudah berhasil menamatkan puasa Ramadannya sebulan penuh sejak berusia enam tahun, tantangan berpuasa di tempat baru hanya semata masalah beradaptasi dengan suasana dan cuaca saja. Tidak demikian dengan sang adik, yang kala itu baru akan menginjak usia lima tahun.

Bagi putri saya yang kedua, Ramadan di Adelaide ini menjadi pengalaman pertamanya menjalani puasa, setelah tahun-tahun sebelumnya ia hanya ikut-ikutan saja menjalani kegiatan selama Ramadan, namun ia belum berhasil sekalipun berpuasa sehari penuh. Nah, jauh-jauh hari sebelum Ramadhan datang, saya sudah terus mengingatkan dia bahwa tahun ini ia harus sudah berlatih berpuasa dari sahur hingga Maghrib, persis yang dilakukan kakaknya. Ia pun kelihatan bersemangat dan tak sabar menunggu saatnya menjalani kesempatan itu.

Tantangan yang ia hadapi kali ini lumayan berat juga, sebab, bertepatan dengan datangnya puasa hari pertama, adalah saatnya ia pertama kali masuk sekolah sebagai siswa sekolah dasar. Kebetulan, satu hari sebelum hari pertama masuk sekolah, ia tepat berulang tahun yang kelima. Menuruti kebijakan pemerintah South Australia yang menetapkan bahwa anak yang telah berusia lima tahun dapat mulai bersekolah di sekolah dasar, maka saya pun mendaftarkannya untuk mulai bersekolah di salah satu sekolah dasar milik pemerintah di lingkungan yang dekat dengan rumah.

Saat hari pertama masuk sekolah tiba, saya sedikit khawatir juga. Saya tak ingin ia gagal menjalani puasa pertamanya hanya karena harus menjalani kegiatan sekolahnya. Maklumlah, kegiatan belajar di sekolah dasar di Adelaide berlangsung hampir sepanjang hari, mulai pukul setengah sembilan pagi hingga pukul tiga sore, tambahan pula, amat jarang siswa di sekolahnya yang beragama Islam dan sama-sama menjalani puasa, ditambah dengan cuaca musim dingin yang biasanya malahan membuat anak-anak kelaparan terus sepanjang hari, maka lengkaplah sudah tantangan bagi puteri saya di hari pertamanya.

Hari itu saya mengantarkannya ke sekolah dengan maksud memberikan semangat baginya di hari pertama sekaligus hendak bertemu dengan wali kelasnya. Pada gurunya saya memberi tahu bahwa hari itu puteri saya akan melewatkan waktu reses, yaitu waktu istirahat di pagi hari untuk menikmati makanan kecil dan buah, dan juga akan absen di saat makan siang, dan akan begitu seterusnya selama sebulan penuh. Saat saya menyampaikan hal tersebut, sang wali kelas tampak terkejut dan terlihat bertanya-tanya, “Wah, apakah puasa tidak menyiksa anak sekecil itu, dia baru lima tahun,” katanya dengan nada khawatir. Saya pun menjelaskan, bahwa sebagai muslim, kami harus mulai melatih anak-anak menjalankan ibadah wajibnya sejak usia dini dan ia tak perlu khawatir, sebab anak-anak akan tetap dijaga kebutuhan fisiknya seperti layaknya orang yang tak menjalani puasa. Saya pun lalu menjelaskan konsep berpuasa, yang pada intinya bahwa selama beribadah puasa anak-anak hanya harus menggeser saat makan dan minum mereka yang tadinya bisa dilakukan kapan saja, menjadi hanya dilakukan pada saat makan sahur dan berbuka puasa. Kepadanya saya mohonkan bantuan agar saat reses dan makan siang tiba, puteri saya diijinkan melakukan kegiatan lain sehingga tidak tergoda mencicipi makanan atau minuman seperti teman-teman lainnya.

Saat tiba di rumah pada sore harinya, putri kecil saya sibuk bercerita berbagai keasyikan yang ia temui di kelas barunya. Tampaknya hari pertama sekolah dilewati olehnya dengan sukses. Akan halnya puasa hari pertamanya, hanya empat puluh menit menjelang waktu maghrib, ia terpaksa membatalkannya. Mungkin karena kedinginan dan capek belajar seharian, ia tak lagi kuasa menahan lapar. Jadilah ia menangis dan memohon untuk mencicipi makanan yang sedang saya siapkan untuk berbuka puasa. Namun demikian, saya bersyukur ia sudah mau mencoba menjalankan puasa seharian penuh, dan baginya yang baru sekali mencoba, membatalkan puasa di sore hari pun sudah merupakan prestasi tersendiri.

puteri kedua saya (saat berusia 5 tahun), pengalaman  pertama puasa Ramadhannya sungguh seru ^^

Untuk menyemangati putri kecil saya agar tetap melanjutkan latihan puasanya, saya, ayah dan kakaknya berusaha membuat agar puasa itu menjadi menyenangkan. Saya kebagian tugas menyediakan makanan kesukaannya saat sahur dan berbuka, ayahnya, membuatkannya star chart, tabel berkolom tiga puluh yang dapat diisinya dengan stiker bintang, setiap kali ia mampu menamatkan puasanya hingga Maghrib. Di akhir Ramadan, jumlah bintang yang terkumpul dapat ditukar dengan hadiah dari ayah. Sementara itu, kakak kebagian peran sebagai partner ngabuburit, alias teman bermain selama waktu menunggu saat berbuka puasa. Di sekolah, wali kelasnya juga konsisten mendukung puteri saya untuk menjalankan ibadahnya. Setiap kali waktu istirahat atau makan siang tiba, ia akan mengantar puteri saya ke ruang seni agar ia bisa berkegiatan seperti membuat lukisan atau meronce. Ia bahkan menggeser jadwal kelas memasak yang sedianya dilaksaksanakan pada bulan itu menjadi dilaksanakan setelah hari raya Idul Fitri, semata-mata untuk menghormati beberapa siswa di kelasnya yang sedang menjalankan ibadah puasa Ramadan. Hal itu menjadi tambahan pelajaran tentang toleransi yang penuh hikmah bagi putri saya.

Alhamdulillah, hingga akhir Ramadan, si kecil berhasil menamatkan dua puluh enam hari puasanya hingga maghrib, dan empat hari sisanya terpaksa dibatalkannya karena sakit atau kehausan yang sangat akibat terlalu banyak bermain di luar rumah. Pengalaman menemaninya berlatih puasa ini menjadi momen belajar bagi saya dan keluarga, bahwa keberhasilan salah satu anggota keluarga bisa dicapai jika didukung penuh oleh anggota keluarga lainnya. That’s what family are for.

Adelaide, Juli 2012

Share Article

author

vivifajar

a mother of three kids, love music, movie and read, currently living in Adelaide, SA


COMMENTS


SISTER SITES SPOTLIGHT

synergy-error

Terjadi Kesalahan

Halaman tidak dapat ditampilkan

synergy-error

Terjadi Kesalahan

Halaman tidak dapat ditampilkan