Pola Asuh Orangtua Dulu yang Bisa Kita Contoh

Tepatnya di era 1950-an, orangtua pada zaman itu kerap mendidik anak dengan pola asuh yang bisa kita contoh di bawah ini.

Pola Asuh  Orangtua Dulu  - Mommies DailyImage: Daniel Cheung on Unsplash

Jadul, sih, ya kesannya, tapi pas saya teliti satu persatu di web romper.com, apa yang orangtua 1950-an terapkan benar adanya, lho. Apa saja itu?

1. Percaya sama anak

Ketika kita memberikan tanggung jawab ke anak. Secara bersamaan, kita mengirimkan pesan, bahwa kita percaya sama kemampuan mereka. Baik dari segi keputusan dan aksi mereka. Sedikit saja memberikan kepercayaan, sangat membantu membangun kepercayaan diri anak.

2. Attitude is everything!

Yang paling saya ingat soal etika dari papa saya, adalah menghargai waktu orang lain (FYI, beliau kelahiran tahun 1950-an). Saya pernah dimarahi habis-habisan, karena ojek yang saya tumpangi harus putar balik ke rumah dari terminal, lantaran ada dokumen kuliah yang ketinggalan. FYI, ketika itu saya kuliah di Universitas Padjadjaran, Jatinangor.

“Tukang ojek waktunya juga harus kita hargai! Lain kali, kalau mau pulang ke Jatinangor, barang-barang kamu ditulis dulu, apa yang mau dibawa.” Begitu kira-kira, wejangan dari papa, di hari “naas” saya.

Di romper.com, disinggung juga, sopan santun adalah cara untuk menunjukkan rasa hormat, sekaligus membangun citra positif kita di mata orang lain.

3.Tidak semua kemauan anak dituruti

Ini orangtua saya banget! Senada seperti yang psikolog keluarga John Rosemond katakan. Orangtua 1950-an, sangat konservatif, mereka tidak menuruti semua keinginan anak-anaknya. Atau tidak membanjiri mereka dengan barang-barang mewah.

Dengan begini, anak akan bersyukur dengan apa yang mereka miliki. Belajar bermain dengan alat seadanya, dan merawat mainan atau fasilitas yang sudah ada.

Pernah, sih, saya dibeliin kamera DLR yang sedang hits pada zamannya dulu. TAPI! 3 semester berturut-turut, IPK saya tidak boleh bergeser dari 3,5. Dibeliin nggak? Iya dong, hahaha. Kan berhasil menuruti syarat papa.

4. Main di luar

Saya nggak punya memori buruk tentang hal ini. Benar-benar dikasih kebebasan. Yang paling, jangan pulang terlalu malam, jangan terlalu jauh, jangan percaya sama orang asing, dan seterusnya. Menurut Child Mind Institute Amerika. Main di luar melatih kepercayaan diri, kreativitas, imajinasi dan latihan fisik.

Baca juga: Kenapa Bermain di Luar Penting?

5. Tradisi makan malam bersama di meja makan

Mungkin agak sulit, ya, kalau tradisi ini harus dilakukan setiap malam (terutama hari kerja). Karena kesibukan masing-masing anggota keluarga, apalagi yang tinggal di kota besar, sudah tersita di jalan. Paling tidak, jadwalkan di akhir pekan, masih bisa, kan?

Menurut The Family Dinner Project, makan bersama akan membentuk self-esteem anak, harga diri dan kemajuan akademik anak.

6. Melatih anak-anak melakukan pekerjaan rumah

Saya adalah produk orangtua yang lumayan “kejam.” Ada masanya rumah kami tidak punya Asisten Rumah Tangga. Konsekuensinya, semua pekerjaan rumah harus dibagi rata pada semua anggota keluarga. Ada yang membangkang? Papa yang paling marah. Semua itu sudah biasa saya lakukan sejak SD.

Kini hal yang sama saya terapkan ke si kecil. Masuk usia 4 tahun, anak lanang saya Jordy, saya latih cuci piring, bekerja sama membereskan tempat tidur, menyiapkan bahan-bahan makanan untuk masak, mencuci dengan tangan, dan seterusnya. Kalau nggak dibekali soft skill seperti itu, percaya deh, kelak anak tidak bisa bertahan menghadapi kerasnya dunia.

Baca juga: Ketika Semua Selalu Kita Bantu, Kita Ini Ibunya Atau Asistennya?

7. Tidak melulu mementingkan aspek akademik

Sebetulnya poin ini sudah banyak dilakukan orangtua millennial ya. Mulai paham aspek EQ sama pentingnya dengan IQ. Setidaknya di lingkungan kantor saya. Tak mewajibkan anak bisa membaca dan menulis, ketika usianya memang belum siap. Trennya sekarang yang saya perhatikan, mengarahkan anak kenal dengan dirinya sendiri. Tahu apa dia suka, kalau sedih atau bahagia responnya seperti apa. Dan balik lagi ke poin nomor 2, etika saling menghormati antar manusia dan makhluk hidup lainnya seperti apa.

8. Membiarkan anak merasakan kegagalan dan kecewa

Ketika kita selalu melindungi anak-anak dari konsekuensi logis dari perbuatan mereka. Misalnya cepat ambil alih menyelesaikan masalah untuk menyelamatkan mereka. Itu sama saja, merampas kesempatan mereka untuk membangun percaya diri dan menyelesaikan masalahnya sendiri.

 


One Comment - Write a Comment

Post Comment