Memberi Uang Bulanan Untuk Orang Tua atau Mertua, Seperti Apa Aturannya?

Sex & Relationship

Mommies Daily・31 Aug 2021

detail-thumb

Salah satu pengeluaran rutin bagi pasangan yang telah menikah adalah: memberikan uang bulanan untuk orang tua. Berhubung ini sensitif dan rentan memicu pertengkaran, bagaimana aturannya?

Bicara tentang uang itu memang masalah yang lumayan (atau bahkan super) sensitif ya! Nggak jarang, pertengkaran antara suami dan istri itu dipicu oleh urusan memberikan uang bulanan untuk orang tua. Makanya, salah satu nasihat saya kepada mereka yang mau menikah adalah tentang finansial. Harus hati-hati.

Kalau kita singgung tentang menafkahi orang tua, jangan dulu berpikir negatif. Ya memang anggap saja itu tanggung jawab kita sebagai anak. Apalagi, angkatan orang tua saya mungkin belum terlalu banyak yang paham untuk menyiapkan dana pensiun. Makanya, tak sedikit anak-anaknya yang akhirnya menjadi Sandwich Generation. Generasi ‘terjepit’ karena harus membiayai hidup diri sendiri, hidup anak, dan hidup orang tua.

Kalau dulu masih lajang dan sudah bekerja, memberikan uang kepada orang tua sudah pasti bisa sesuka hati. Nggak ada kompromi sama pasangan. Paling komprominya dengan kebutuhan kita yang lain, hahaha.

orang tua, mertua

Nah, kalau sudah menikah, artinya nggak bisa lagi sebebas dulu dan suka-suka memutuskan. Memang sih, uang adalah uang kita, hasil kerja kita, bukan hasil kerja pasangan (untuk mereka yang suami istri bekerja), tetap saja ada kebutuhan rumah tangga dan anak yang harus didiskusikan bersama. Nggak bisa juga kita bebankan semua ke pasangan.

Kalau kondisi keuangan cukup atau bahkan berlebih, tentu bukan masalah memberikan uang bulanan. Apalagi, konon kabarnya, masih banyak orang tua yang menuntut jatah bulanan dengan nominal tertentu. Nah, yang penuh tuntutan begini lah yang lumayan tricky menyiasatinya. Tapi sudahlah, anggap saja itu bukti bakti kita kepada orang tua.

Terpenting adalah, jangan main kucing-kucingan dengan pasangan. Karena kalau ketawan, yang ada kita ribut karena pasangan merasa dibohongi. Dan berujung dengan kecurigaan dari pasangan, akibat tingkah laku kita sendiri.

Berdasarkan pengalaman saya dan suami, kami mencoba menerapkan beberapa hal berikut ini terkait uang bulanan untuk orang tua dan mertua:

1. Komunikasikan dari awal

Dari awal ini artinya bahkan sebelum menikah. Nggak hanya tentang tempat tinggal, jumlah anak, biaya pesta pernikahan, tapi juga apakah kita akan memberikan uang bulanan kepada orang tua? Dan kalau iya, berapa jumlah untuk masing-masing orang tua? Atau apakah ada salah satu orang tua yang tidak membutuhkan pemberian bulanan ini? Atau apakah sama sekali tidak perlu mengeposkan keuangan bulanan untuk orang tua sama sekali?

2. Bikin catatan tentang pos pengeluaran utama terlebih dahulu

Sebelum menentukan nominal yang akan kita berikan kepada orang tua, alangkah baiknya kita membuat catatan pos-pos pengeluaran lain di dalam rumah tangga. Ini membantu kita untuk mengira-kira berapa besar yang dapat kita berikan kepada orang tua. Utamakan membayar cicilan atau hutang serta biaya sekolah anak. Lalu kebutuhan bulanan rumah tangga, seperti listrik, telepon, ART kalau ada, asuransi, serta bulanan untuk orang tua.

BACA JUGA: Kekhawatiran Uang Keluarga Modern: Dari Keluarga Lengkap, Single Parents, sampai Sandwich Generation

3. Jangan terpaku pada nilai

Jangan memaksakan diri untuk memberikan nominal dalam jumlah besar kalau memang kemampuan kita tidak ada di titik itu. Sesuaikan dengan kemampuan finansial kita dan suami.

4. Lihat kondisi orang tua

Tidak sedikit pula beberapa orang tua dari teman-teman saya yang secara finansial sangatlah mapan. Ini bisa jadi membuat kita tidak butuh memberikan uang bulanan ke mereka. Bisa lho kita ganti dengan sesekali membelikan makanan, atau buah-buahan untuk mereka. Sebagai bentuk terima kasih.

5. Tidak harus selalu sama

Maksudnya, bisa jadi kondisi finansial antara orang tua kita dengan mertua kita itu berbeda. Kalau memang orang tua kita misalnya tidak terlalu butuh sokongan bulanan, sebaliknya mertua kita sangaaaat membutuhkan, maka penyesuaian perlu dilakukan. Nggak harus kepada kedua belah pihak jumlah pemberiannya harus sama. Dan, pastikan ini tidak menjadi sumber perdebatan. Apalagi jika hanya salah satu yang bekerja, terus merasa nggak rela memberikan jumlah yang lebih besar ke mertua. Duh, ini malah akan membuat rumah tangga menjadi tidak harmonis.

BACA JUGA: 3 Masalah Keuangan di Masa Pandemi, Apa Solusinya?

6. Tentukan bentuk pemberiannya

Nggak selalu harus berwujud uang alias cash keras ya. Bisa jadi dalam bentuk tabungan atau kebutuhan rumah tangga. Jadi, kita sudah membelikan terlebih dulu, segala macam beras, minyak goreng, gas, dll. Atau kita yang membayar langsung tagihan telepon atau listrik. Kembali lagi, diskusikan berdua.

7. Siapa yang memberikan

Kalau saya sih, ya si anak yang langsung memberikan kepada orang tuanya. Tapi siapa pun itu, bebas-bebas saja kok. Nggak ada larangan. Yang penting ikhlas, hehehe.

Seperti kata Wulan Ayu Ramadhani, M. Psi. "Menafkahi orang tua memang disarankan, apalagi jika orang tua sudah tidak memiliki penghasilan. Besar kecilnya tentu saja menyesuaikan dengan keadaan terutama jika sudah berkeluarga. Ingat untuk tetap melibatkan suami dalam pengambilan keputusan untuk menafkahi orang tua."

Ditulis oleh: Febria Silaen