Memberi Uang Untuk Orangtua atau Mertua, Seperti Apa Aturannya?

Ditulis oleh: Febria Silaen

Salah satu pengeluaran bulanan rutin bagi pasangan yang telah menikah adalah: memberikan uang bulanan untuk orangtua. Berhubung ini sensitif dan rentan memicu pertengkaran, bagaimana aturan mainnya?

Bicara tentang uang itu memang masalah yang lumayan (atau bahkan super) sensitif ya! Nggak jarang, pertengkaran antara suami dan isteri itu dipicu oleh urusan beri-memberi uang kepada orangtua. Makanya, salah satu nasihat saya kepada mereka yang mau menikah, di antaranya adalah tentang finansial. Harus hati-hati.

Kalau kita singgung tentang menafkahi orangtua, jangan dulu berpikir negatif. Ya memang anggap saja itu tanggung jawab kita sebagai orangtua. Apalagi, angkatan orangtua saya mungkin belum terlalu banyak yang paham untuk menyiapkan dana pensiun. Makanya, tak sedikit anak-anaknya yang akhirnya menjadi Sandwich Generation. Generasi ‘terjepit’ karena harus membiayai hidup diri sendiri, hidup anak, dan hidup orangtua.

Kalau dulu masih lajang dan sudah bekerja, memberikan uang kepada orangtua sudah pasti bisa sesuka hati. Nggak ada kompromi sama pasangan. Paling komprominya dengan kebutuhan kita yang lain, hahaha.

Nah, kalau sudah menikah, artinya nggak bisa lagi sebebas dulu dan suka-suka memutuskan. Memang sih, uang adalah uang kita, hasil kerja kita, bukan hasil kerja pasangan (untuk mereka yang suami istri bekerja), tetap saja ada kebutuhan rumah tangga dan anak yang harus didiskusikan bersama. Nggak bisa juga kita bebankan semua ke pasangan.

Kalau kondisi keuangan cukup atau bahkan berlebih, tentu bukan masalah memberikan uang bulanan. Apalagi, konon kabarnya, masih banyak orangtua yang menuntut jatah bulanan dengan meminta jumlah nominal tertentu. Nah, yang penuh tuntutan begini yang lumayan tricky menyiasatinya, ya, hehehe. Tapi sudahlah, anggap saja itu bukti bakti kita kepada orangtua.

Terpenting adalah, jangan main kucing-kucingan dengan pasangan. Karena kalau ketawan, yang ada kita ribut karena pasangan merasa dibohongi. Dan berujung dengan kecurigaan dari pasangan, akibat tingkah laku kita sendiri.

Memberi Uang Untuk Orangtua atau Mertua, Seperti Apa Aturannya?  - Mommies Daily

Agar nggak ruwet, berdasarkan pengalaman saya dan suami, kami mencoba menerapkan beberapa hal berikut ini:

1. Komunikasikan dari awal

Dari awal ini artinya bahkan sebelum menikah. Nggak hanya tentang tempat tinggal, jumlah anak, biaya pesta pernikahan, tapi juga apakah kita akan memberikan uang bulanan kepada orangtua? Dan kalau iya, berapa jumlah untuk masing-masing orangtua? Atau apakah ada salah satu orangtua yang tidak membutuhkan pemberian bulanan ini? Atau apakah sama sekali tidak perlu mengeposkan keuangan bulanan untuk orangtua sama sekali?

2. Bikin catatan tentang pos pengeluaran utama terlebih dahulu

Sebelum menentukan nominal yang akan kita berikan kepada orangtua, alangkah baiknya kita membuat catatan pos-pos pengeluaran lain di dalam rumah tangga. Ini membantu kita untuk mengira-kira berapa besar yang dapat kita berikan kepada orangtua. Utamakan membayar cicilan atau hutang serta biaya sekolah anak. Lalu kebutuhan bulanan rumah tangga, seperti listrik, telepon, ART kalau ada, asuransi, serta bulanan untuk orangtua.

3. Jangan terpaku pada nilai

Jangan memaksakan diri untuk memberikan nominal dalam jumlah besar kalau memang kemampuan kita tidak ada di titik itu. Sesuaikan dengan kemampuan finansial kita dan suami.

4. Lihat kondisi orangtua

Tidak sedikit pula beberapa orangtua dari teman-teman saya yang secara finansial sangatlah mapan. Ini bisa jadi membuat kita tidak butuh memberikan uang bulanan ke mereka. Bisa lho kita ganti dengan sesekali membelikan makanan, atau buah-buahan untuk mereka. Sebagai bentuk terima kasih.

5. Tidak harus selalu sama

Maksudnya, bisa jadi kondisi finansial antara orangtua kita dengan mertua kita itu berbeda. Kalau memang orangtua kita misalnya tidak terlalu butuh sokongan bulanan, sebaliknya mertua kita sangaaaat membutuhkan, maka penyesuaian perlu dilakukan. Nggak harus kepada kedua belah pihak jumlah pemberiannya harus sama. Dan, pastikan ini tidak menjadi sumber perdebatan. Apalagi jika hanya salah satu yang bekerja, terus merasa nggak rela memberikan jumlah yang lebih besar ke mertua. Duh, ini malah akan membuat rumah tangga menjadi tidak harmonis.

6. Tentukan bentuk pemberiannya

Nggak selalu harus berwujud uang alias cash keras ya. Bisa jadi dalam bentuk tabungan atau kebutuhan rumah tangga. Jadi, kita sudah membelikan terlebih dulu, segala macam beras, minyak goreng, gas, dll. Atau kita yang membayar langsung tagihan telepon atau listrik. Kembali lagi, diskusikan berdua.

7. Siapa yang memberikan

Kalau saya sih, ya si anak yang langsung memberikan kepada orangtuanya. Tapi siapa pun itu, bebas-bebas saja kok. Nggak ada larangan. Yang penting ikhlas, hehehe.

Seperti kata Wulan Ayu Ramadhani, M. Psi. “Menafkahi orang tua memang disarankan, apalagi jika orang tua sudah tidak memiliki penghasilan. Besar kecilnya tentu saja menyesuaikan dengan keadaan terutama jika sudah berkeluarga. Ingat untuk tetap melibatkan suami dalam pengambilan keputusan untuk menafkahi orang tua.”


Post Comment