Ibu Adalah Pembohong Terbaik di Dunia? Ya Itu Benar, Nak!

Self

Mommies Daily・17 Jan 2019

detail-thumb

Ditulis oleh: Febria Silaen

Pernah ada kalimat yang membuat saya sempat tidak terima. "Ibu adalah pembohong terbaik di dunia!"

Duh, mendengarnya seram sekali. Masa iya sih ibu adalah pembohong. Bukannya seorang ibu itu adalah sosok yang mulia, tulus dan seharusnya memberikan contoh terbaik bagi anggota keluarga. Lalu, kalau ibu pembohong terbaik apa maksudnya? Jawaban ini pun akhirnya saya dapat setelah menjadi ibu selama hampir 10 tahun.

Ternyata, saya juga adalah pembohong besar. Bahkan saya tidak malu jika dicap sebagai pembohong terbaik di dunia. Karena memang saya ternyata banyak bohong pada anggota keluarga, terutama pada anak. Kalau dibuat daftar kebohongan selama menjadi ibu, sepertinya saya akan menghabiskan lebih dari satu buku untuk menulis daftar kebohongan.

Kebohongan yang paling sering saya lakukan adalah, saya mengatakan, baik-baik saja. Padahal kondisi yang saya rasakan sedang tidak baik. Atau saya suka bilang, ini tidak sulit kok, nak. Padahal, saya tahu bahwa yang akan kami lalui adalah sesuatu yang sulit dan penuh tantangan.

Entah, apa yang membuat seorang ibu menjadi pembohong. Sejak kecil, pun ternyata saya melihat sosok ibu di rumah piawai berbohong. Apalagi kalau urusan makanan dan perasaan, ibu pandai sekali menutupinya.

Dia akan mengatakan, "Kamu makan yang banyak, ya. Paha ayamnya habiskan saja. Mama sudah makan, kok". Padahal, saya belum melihat mama makan.

Atau ketika, saya melihat mata mama sembap, pertanyaan, "Mama, habis nangis?". Dengan tegas akan dijawab seperti ini,"Nggak, tadi kelilipan dan kucek-kucek mata."

Dan ternyata apa yang pernah mama lakukan, kini saya pun melakukan. Saya piawai berbohong kepada anak.

Ibu Pembohong Terbaik di Dunia? Ya Itu Benak, Nak! - Mommies Daily

Pernah satu ketika, ia bertanya, "Menyusui itu sakit ya, Bu?", Saya jawab tidak. Padahal, ya ampun kalau bicara pengalaman menyusui, adalah hal yang cukup menguras air mata dan mengaduk-aduk emosi.

Air susu yang tidak langsung keluar, payudara bengkak, puting lecet. Hingga badan demam karena menyusui. Bukankah itu semua hal yang cukup meninggalkan rasa sakit? Tapi kenapa saya jawab, menyusui tidak sakit? Karena saya tidak ingin membuat anak takut dengan menyusui, jika kelak menjadi ibu. Saya ingin membentuk pengalaman yang baik soal menyusui. Tapi ternyata kebohongan itu tidak baik.

Tidak hanya itu berhenti di situ saja. Kebohongan yang sering kali ketangkap basah oleh anak, adalah saya tidak memberikan perhatian penuh atas cerita atau coletahannya. Saya tidak memberikan hati dan waktu dengan bersahabat.

Saya hadir secara fisik di depannya. Tapi pikiran dan hati menerawang ke mana-mana. Memikirkan pekerjaan ini dan itu yang mesti saya selesaikan.

Sampai satu waktu, saya ditegur oleh celotehannya. "Ibu, bohong. Ibu nggak dengarin aku ngomong. Ibu cuma bilang iya, tapi hati ibu tidak di sini."

Makjleb! Saya tertangkap basah sebagai pembohong. Jujur, saya pun malu dan sedih. Sulit untuk mengelak, karena memang saya telah berbohong.

Dan ternyata saya tidak sendiri, beberapa teman pun mengaku sangat sering berbohong kepada anak-anak.

Amara, 32 tahun ibu dua anak, karyawati

"Bohong kalau lagi sakit. Padahal anak sudah bilang, ibu sakit ya. Muka pucat. Tapi selalu saya bilang, nggak, ibu sehat." Menurut, Amara, ini dilakukan agar anak-anak tidak kuatir. Padahal jika boleh jujur, dia ingin agar anak-anak pun tahu dirinya perlu istirahat.

Pungky, 29 tahun, ibu satu anak, ibu rumah tangga

"Banyak banget bohongnya. Saya bisa bilang dengan muka senyum, mommy nggak marah kok ketika si kecil menumpahkan coklat cair ke sofa. Hahaha padahal, saya mau ngamuk melihat aksi si kecil." Dikatakan Pungky, ia tidak ingin anaknya mengecap dirinya sebagai monster yang kerap kali marah. Ia ingin dianggap sebagai malaikat nan lemah lembut oleh buah hatinya.

Efita, 36 tahun, ibu dua anak, single mom

"Saya paling sering bohong soal uang. Saya selalu berusaha bilang kepada anak-anak kalau semua cukup. Ibu ada uang, kok. Tenang, saja."

Efita cerita, kalau anak-anak meminta sesuatu apalagi statusnya sebagai single mom, membuat dirinya tidak tega menolak. Padahal, kondisi keuangan memang sedang tidak bersahabat. Bahkan dirinya pernah sampai berhutang, untuk memenuhi keinginan anak untuk membeli mainan. "Saya hanya ingin membuat mereka bahagia."

Meski kami tahu bahwa bohong adalah tidak baik. Tapi ketahuilah, Nak, kebanyakan alasan kami berbohong karena tidak ingin kalian sedih.

Namun, kami pun harus belajar untuk bisa jujur pada kondisi dan perasaan kami. Untuk kalian pun belajar dewasa dan kami tidak lagi berlabel pembohong terbaik di dunia.