Let’s Zero Waste, 5 Cara Kurangi Sampah Rumah Tangga

Mendengar kata “zero waste” itu rasanya memang intimidatif sekali ya. Rasanya gerakan itu identik dengan mahal dan jadi privilege bagi sebagian orang.

Padahal yang dimaksud dengan zero waste itu bukan berarti tidak membuat sampah sama sekali lho. Tetapi sebuah cara yang memang DINIATKAN untuk mengurangi jumlah sampah.

Jadi jangan terintimidasi dulu pada kata-kata “zero” nya. Zero di sini maksudnya adalah meminimalkan jumlah sampah yang kita buang. Juga tentang kesadaran ketika kita membuang sampah (plastik lebih spesifiknya), kita tahu bahwa kita membuang sampah karena tidak punya pilihan lain.

zero waste sampaj

Ada 5 tahap dalam zero waste lifestyle ini. Dan bukan, bukan melulu recycle. Malah, recycle adalah tahapan terakhir ketika kita mau menerapkan zero waste lifestyle. Kelima tahap ini dikenal sebagai 5R, yaitu:

Refuse: Sebisa mungkin menolak membeli dan membawa pulang plastik ke rumah. Plastik ini bukan cuma kantong plastik tetapi segala jenis barang/sayuran/buah yang dibungkus plastik.

Tolak penggunaan sedotan dan selalu bawa botol minum dari rumah. Sebisa mungkin, jika mau take away dari restoran pun, bawa kotak makan sendiri dari rumah.

Ribet? Nggak kok! Namanya juga usaha ya. Kalau memang sudah sangat kepepet sih nggak masalah juga, tapi kesadaran akan zero waste ini akan membuat hidup kita jadi lebih terencana,. Bukan sekali dua kali saya membeli makan malam dengan membawa kotak makan sendiri agar tidak menyumbang sampah.

Yang tersulit justru berbelanja di supermarket karena kebanyakan sayur dan buah harus menggunakan plastik untuk ditimbang. Sebisa mungkin belanjalah di pasar dan bawa kantong belanja sendiri.

Reduce: Buat decluttering sebagai rutinitas, sumbangkan barang tidak terpakai, dan selalu pikir ulang sebelum membeli sesuatu. Apakah benar berguna? Atau hanya akan jadi calon sampah?

Selalu buat daftar belanja sehingga mata tidak kalap untuk membeli yang tidak sesuai kebutuhan. Bisa jadi irit juga kan!

Reuse: Kurangi benda-benda sekali pakai dan mulai menggunakan benda yang bisa dipakai ulang. Seperti saputangan untuk mengganti tisu, selalu bawa botol minum, mulai menggunakan menstrual cup agar tidak lagi membuang pembalut, dan banyak lagi.

Tapi jangan pula menumpuk barang, misal memang betul toples kaca bekas selai bisa jadi tempat kacang-kacangan, tapi tetap simpan sesuai kebutuhan. Jika berlebih, pisahkan dan berikan pada pemulung yang lewat di depan rumah.

Recycle: Harap maklum karena di Indonesia kan belum ada sistem pemisahan sampah ya dan lebih baik, pisahkan sampah sejak di rumah. Karena kalau udah terlanjur sampai ke TPA ya pasrah deh numpuk di sana apapun bentuk sampahnya.

Yang dilakukan ibu saya sejak dulu adalah, memisahkan sampah organik dengan sampah plastik. Sampah plastik (yang sudah berusaha dikurangi) pun dibagi lagi dengan sampah plastik yang bisa didaur ulang (seperti bekas botol air mineral) dan sampah plastik yang tidak bisa didaur ulang.

Sampah plastik yang bisa didaur ulang, berikan pada pemulung karena mereka bisa menjualnya lagi. Sementara sampah plastik yang tidak bisa didaur ulang, barulah diberikan pada tukang sampah. Seharusnya ketika sudah menerapkan zero waste, sampah plastik ini jumlahnya akan sedikit sekali.

Bagaimana dengan sampah organik seperti potongan sayuran atau kulit buah?

Rot: Tahu biopori? Biopori adalah membuat lubang cukup dalam dengan alat khusus di tanah halaman rumah untuk membuang sampah organik. Manfaatnya, tanah akan subur dan bisa mencegah banjir!

Intinya lubang resapan biopori ini meningkatkan kualitas air tanah, meningkatkan daya resap air, mengubah sampah organik menjadi kompos, dan memelihara fauna di tanah.

Namun setahu saya baru di Jawa Barat alat biopori bisa dipinjam gratis melalui RT/RW, jika ingin membeli sendiri, e-commerce menjualnya di bawah 150 ribu rupiah saja.

Jadi yuk mulai 5R sekarang. Lebih aware pada pemakaian plastik karena plastik itu dipakai hanya sebentar sekali tapi butuh ratusan tahun untuk terurai. For our earth, for our children!


Post Comment