Begini Cara Negosiasi Sehat dengan Toddler

Behavior & Development

annisast・02 Nov 2018

detail-thumb

Anak baru berumur 2 tahun, baru belajar berkomunikasi. Bisakah bernegosiasi?

Tergantung hahahaha. Sebelumnya mari kita samakan dulu definisi toddler. Di artikel ini saya akan menyebut toddler sebagai balita berusia 1-3 tahun ya.

Jangan abaikan cerita balita2

Yang membingungkan, di usia itu apakah ia sudah bisa bernegosiasi? Ataukah orangtua harus tegas sehingga anak jadi disiplin?

Kembali ke value masing-masing keluarga ya moms. Kalau memang tidak mau memberi anak pilihan dan ingin ia disiplin mengerjakan segala sesuatu, maka ya nggak perlu negosiasi. Tegas saja, boleh ya boleh, tidak ya tidak.

Tapi misal bagi saya yang selalu memberi pilihan pada anak apa pun itu, negosiasi adalah mutlak. Mutlak dilakukan dulu, kalau anak tetap menolak, baru kita harus tegas.

Beri penjelasan dan validasi emosinya

Misal ia tak boleh makan coklat. Jelaskan saja kalau coklat akan membuatnya sakit gigi dan kalau makan coklat mama akan menyikat gigi kamu lama sekali. Validasi juga emosinya, misal dengan kalimat “Mama tahu kamu sedih karena tidak boleh makan coklat, tapi sekarang sudah malam, waktunya untuk tidur”.

Memberi penjelasan memang kadang seperti sia-sia. Tapi pengalaman saya, semua penjelasan saya sejak bayi masih diingat lho oleh anak sampai kini usianya 4,5 tahun. Sekarang ia juga jadi tahu persis kenapa ini dan itu tidak boleh. Jadi memberi penjelasan itu tidak pernah sia-sia karena akan selalu diingat oleh anak.

Beri pilihan yang lebih sulit

Misal ingin meminta membereskan mainan. Beri pilihan yang lebih sulit seperti “Kamu mau bereskan mainan atau bantu mandi sekarang lalu tidur siang?” Anak kecil biasanya benci tidur siang jadi kemungkinan dia akan mau bereskan mainan atau ya tantrum hahahaha.

Jangan kalah pada tantrum. Show them who’s the boss! Kalau kalah mungkin mommies punya masalah otoritas lho. Baca artikelnya di sini ya.

Beri syarat atau sogokan

Iya menyogok toddler juga bagian dari negosiasi kok. Seperti ia boleh makan biskuit kalau sayurnya sudah habis. Atau ia boleh main air selama 10 menit setelah selesai mandi. Bebas, sesuaikan dan tetap sabar.

Jika ketiga tips itu tidak bisa dilakukan bisa jadi ia hanya mengetes batas kesabaran kita dan kemudian akan tantrum agar permintaannya dituruti.

Kuncinya adalah jangan kalah! Sekali kalah dan memberi yang ia mau, ia akan menganggap menangis sebagai senjata dan akan melakukannya lagi lebih dahsyat.

Semangat moms! This too shall pass. HAHAHAHA.