Punya Masalah Bonding dengan Anak? Coba Metode Theraplay Yuk!

Mommies, adakah yang anaknya sulit diajak kerja sama atau sering tantrum? Mungkin mommies dan si kecil punya masalah attachment. Untuk mengatasinya, kenalan dengan Theraplay yuk!

Minggu lalu, saya diundang oleh preschool dengan metode fun active learning Rumah Anak Cilandak untuk mengikuti kegiatan Theraplay bersama 26 keluarga peserta loyalty program S-26 di Bali selama 2 hari. Rumah Anak Cilandak dipilih oleh tim S-26 karena dianggap berpengalaman soal Theraplay yang belum terlalu akrab di telinga orangtua Indonesia.

Tim psikolog Rumah Anak Cilandak.
Tim psikolog Rumah Anak Cilandak.

Apa itu Theraplay?

Theraplay adalah sebuah metode terapi anak dan orangtua untuk membantu mengatasi masalah attachment.

Theraplay bisa dilakukan untuk anak yang punya masalah dengan pencarian perhatian, sering tantrum besar, kurang percaya diri, atau sangat penakut. Hal-hal ini nantinya berpengaruh pada kepercayaan diri dan self esteem anak lho!

“Orang pikir masalah attachment itu nggak seksi, misal anaknya mencari perhatian, tantrum besar, sangat penakut, kurang percaya diri, dia jadi nggak punya regulasi yang membantu anak jadi lebih tenang. Theraplay bantu regulasi dengan core attachment. Bayangin, kalau ada anak nangis tantrum, kita marahi dia berhenti nangis itu karena dia di bawah tekanan kita, bukan karena dikasih pendekatan kasih sayang agar tangisannya berhenti,” papar Astrid Wen, psikolog yang juga pendiri dan ketua Theraplay Indonesia.

Astrid saat menjelaskan tentang Theraplay di Puri Langon, Ubud.
Astrid saat menjelaskan tentang Theraplay di Puri Langon, Ubud.

Bagaimana metodenya?

Lewat Theraplay, anak akan merasa dicintai dan dimengerti orangtua. Anak juga akan punya konsep diri yang baik karena ia tidak perlu diancam untuk melakukan perbuatan baik.

Lewat Theraplay, anak bisa menemukan solusi berdasarkan logika, bukan emosi.
Karena otak manusia bukan hanya bisa mengingat emosi, tapi juga atensi. Jadi anak bisa banget lho mengingat kejadian lampau yang menyenangkan atau traumatis seperti dimarahi atau dihukum orangtua. Itu sebabnya Theraplay tidak menerapkan hukuman bagi anak.

“Theraplay nggak mengenal punishment dan timeout. Obedience comes after love. Tanpa gesture threatening, anak bisa lebih teregulasi dan punya konsep diri yang baik,” lanjut Astrid.

Ada 4 aspek dalam Theraplay, nurture, structure, challenge, dan engagement.

Nurture adalah dimensi kasih sayang, bagaimana kita memeluk, membelai, menyuapi, agar anak merasa aman. Ini akan mempengaruhi regulasi, self worth, dan membangun empati anak.

Kemudian structure adalah dimensi soal keamanan dan otoritas. Orangtua harus bisa menjadi seseorang yang bisa diandalkan, pelindung dan pembuat aturan yang akan menjaga anak.

Selanjutnya challenge adalah dimensi yang mendukung kompetensi anak.
Bagaimana dukungan dan semangat orangtua akan jadi faktor utama yang berpengaruh pada kesuksesan anak dalam melakukan sesuatu.

Yang terakhir adalah dimensi engagement untuk bonding yang lebih kuat dan berbagi kebahagiaan.
Orangtua bisa engage dengan anak lewat kontak mata, tertawa bersama, dan sebagainya.

Apa contoh aktivitas Theraplay?

Saat sesi bersama Rumah Anak Cilandak, ada 5 kegiatan yang dilakukan bersama kedua orangtua dan anak.

Pertama, mengoles lotion ke badan anak. Orangtua harus fokus sampai semua titik di kulit anak terlihat. Jangan lupakan kontrak mata dan interaksi. Selain mengoles lotion, bisa juga dengan memijat kaki anak. Tapi harus duduk berhadapan ya! Kegiatan ini masuk dalam dimensi nurture.

lotion

Kedua, cotton ball blow. Ayah ibu dan anak duduk membuat lingkaran kemudian simpan bola kapas di kedua tangan dan angkat bola kapas setinggi wajah. Tiupkan ke kedua telapak tangan anak. Selanjutnya anak harus meniup bola kapas dari telapak tangannya pada telapak tangan ayahnya. Terus begitu berputar-putar.

cotton-ball

Ketiga, cotton ball hide. Sembunyikan bola kapas di tubuh anak kemudian ibu dan ayah harus mencarinya. Kedua permainan bola kapas ini untuk memperkuat dimensi engagement.

Keempat, main tumpuk tangan. Dari posisi duduk, anak dan orangtua menumpuk tangan bergantian terus sampai posisi berdiri. Ini masuk dalam dimensi struktur, apakah anak mampu fokus dan melakukan perintah dengan baik?

tumpuk-tangan

Kelima adalah terapi otoritas dengan cara bermain bubbles dengan syarat “ibu yang meniup, anak yang memecahkan bubbles”. Di sini bisa terlihat orangtua yang kemungkinan tidak punya otoritas pada anak, anaknya merebut bubbles dan tidak mendengar aturan yang sedang dijelaskan ibunya.

bubbles

Padahal pemegang otoritas dan pembuat peraturan adalah orangtua. Jika anak memegang otoritas, anak akan mudah marah jika permintaannya tidak dipenuhi. Ia juga akan kurang mampu mengelola emosi karena semua permintaannya selalu diberi.

Theraplay ini bukan cuma untuk anak sendiri lho! Bisa juga dilakukan untuk anak adopsi atau anak-anak yang sejak kecil tidak dirawat orangtua misal karena berbeda domisili untuk mempererat bonding.

Info lebih lanjut mengenai Rumah Anak Cilandak bisa lewat Instagram @rumahanakcilandak atau rumahanakcilandak.com ya. Selamat bermain dan membangun bonding bersama anak, mommies!


Post Comment