4 Alasan Saya Memilih Metode Montessori untuk Sekolah Anak

Sejak awal punya anak, tren Montessori berkembang seiring dengan banyaknya ibu-ibu share kegiatan Montessori mereka di rumah. Saya waktu itu tidak tertarik sama sekali.

Alasannya sederhana: repot. Ya maklum saya kan kerja, mikirin harus main pakai metode tertentu di rumah itu yang kepikiran ya ribet duluan. Apalagi dulu, kebanyakan foto tentang Montessori di rumah adalah sensory atau messy play.

montessori

Mikirin beres-beresnya aja saya malas. Tapi ternyata metode Montessori jauh lebih luas dibanding sensory play. Dan saya baru tahu soal ini setelah tidak sengaja memasukkan Xylo (4 tahun 3 bulan) ke preschool Montessori.

Kenapa tidak sengaja? Karena mencari daycare (seumur hidup saya tidak pernah pakai nanny di rumah) dengan program preschool itu susah banget. Saya keliling sekitar 7 daycare dan yang sreg dengan segala fasilitasnya ya preschool ini. Kebetulan mereka menerapkan metode Montessori.

Kini sudah setahun lebih Xylo belajar dengan metode Montessori, saya jadi jatuh cinta juga pada metode ini. Kalau hanya sekadar apa dan bagaimana itu Montessori mommies bisa googling sendiri ya. Sekarang saya akan jelaskan kenapa saya bisa jatuh cinta pada metode ini.

Yang harus dicatat, metode pendidikan itu bukan hanya harus cocok untuk anak tetapi juga harus cocok dengan value keluarga. Karena banyak juga kan orangtua yang ingin pendidikan yang tegas untuk anak-anaknya. Pendidikan yang mengajarkan disiplin dan punya target di setiap jenjangnya. Kalau mommies termasuk orangtua yang semacam ini, sudah jelas Montessori bukan jawabannya.

Kenapa saya memilih Montessori?

(FYI saya belum pernah mendalami Montessori secara formal ya, sekadar seminar pun belum pernah. Yang saya paparkan berikut ini hanya hasil konsultasi dengan guru dan penasihat di sekolah. Penasihat ini sudah puluhan tahun jadi guru preschool Montessori di Kanada)

Anak sebagai subjek dan selalu diberi pilihan

Ya, sejak kecil (meski belum kenal Montessori) saya tidak memperlakukan Xylo sebagai anak kecil. Ini sejalan dengan konsep Montessori bahwa anak adalah orang dewasa yang terjebak dalam tubuh kecil.

Makanya metode Montessori mempercayakan anak menggunakan alat-alat “orang dewasa” seperti gunting atau pisau tajam. Juga gelas kaca, menuang air dari teko kaca, dan lain sebagainya.

Jadi kami memperlakukan Xylo sebagai subjek yang punya hak pilih apapun yang ia mau, yang berhak punya emosi seperti marah atau menangis. Bukan sebagai objek yang melulu disuruh-suruh oleh orang dewasa.

Metode Montessori punya paham “following the child”. Anak maunya apa ya ikuti saja. Kecuali bahaya atau melanggar hukum, anak hampir tidak pernah dilarang. Meskipun hal-hal itu menurut kita absurd atau tidak masuk akal. Konsep ini jelas pula banyak tidak cocok dengan orangtua yang saklek.

Contoh hal absurd menurut orang dewasa: jalan-jalan nyeker di mall atau tiduran di aspal CFD. Kalau orangtuanya malu atau menganggap ini tidak sopan ya pasti sulit ya following the child. Padahal nyeker atau tiduran kan tidak mengganggu orang dan tidak melanggar norma serta peraturan apapun lol.

Freedom of movement

Following the child” ini juga berkaitan dengan “freedom of movement”. Anak bebas sekali mau ngapain, contoh kecil: mau goleran di kelas saat pelajaran ya boleh. Dan yang paling bikin jatuh cinta ya, anak mau minum, makan, atau ke toilet itu nggak perlu izin guru karena ya itu kan panggilan biologis kenapa harus minta izin segala?

Jadi inget dulu selama sekolah (saya seumur hidup sekolah negeri), mau minum di kelas aja nggak boleh kan. Mau ke toilet aja mikir-mikir karena harus ngangkat tangan dan izin.

Nah jadi biasanya kelas Montessori sudah terintegrasi sama toilet. Semuanya seukuran anak-anak termasuk kloset dan wastafelnya. Kalau pun seukuran dewasa, biasanya sudah ada dingklik jadi anak tidak perlu bantuan orang dewasa untuk cuci tangan di wastafel.

Bebas tapi teratur

Bebas banget dong ya kelas di sekolah Montessori itu? Ini pertanyaan saya ke psikolog Xylo di daycare yang lama. Jawaban mbak psikolog: “terlihat bebas tapi sebetulnya sangat teratur dan mengikuti urutan tertentu”.

Iya jadi lewat repetisi, anak memang punya kebebasan tapi juga terbiasa dengan disiplin pada aturan. Contoh aturan: cuci tangan dengan cara yang benar setiap dari luar rumah. Jadi tanpa disuruh pun, sekarang Xylo setiap dari luar rumah udah otomatis cuci tangan dan cuci kaki sendiri.

Sebelum tidur ya harus gosok gigi. Bahkan kalau habis gosok gigi dia makan lagi, dia gosok gigi lagi sendiri tanpa harus saya ceramahi dulu. Bahkan bukan sekali dia menolak makan sesuatu yang manis dengan alasan “males ah aku udah gosok gigi”.

Atau menyimpan piring kotor. Setelah makan sendiri, sudah otomatis ia akan berjalan dan simpan sendiri piringnya ke bak cuci piring. Jadi meski terlihat bebas, Montessori sebetulnya mengajarkan keteraturan lewat repetisi. Tujuannya adalah untuk menumbuhkan motivasi internal yang datang dari anak sendiri.

Kalau di sekolah ini tercermin dengan bagaimana anak membawa baki material, membentangkan alas batas kerja, menggunakan material sesuai aturan, sampai membereskannya lagi dan bergantian main material dengan anak lain.

Mixed age group

Dalam satu kelas Montessori, anak bergabung dengan anak lain yang seusia. 0-3 tahun, 3-6 tahun, 7-9 tahun, dan seterusnya. Tujuannya agar bisa saling belajar. Lagipula, metode Montessori menggunakan pendekatan individual. Jadi meski usianya sama, anak mungkin saja belajar hal yang berbeda, tergantung kemampuan masing-masing anak.

Jadi ada anak 4 tahun yang sudah belajar 2 suku kata, ada yang seperti Xylo baru 1 suku kata. Tapi ada pula anak 5 tahun yang masih belajar huruf. Tidak perlu dibandingkan karena anak punya pace sendiri-sendiri untuk belajar sesuatu.

*

Setahun di preschool Montessori, saya merasakan sekali sih Xylo jadi lebih bisa mengelola emosi, independen dan percaya diri. Mungkin juga karena usianya bertambah, tapi untuk ukuran saya yang di rumah jarang sekali main-main edukatif apalagi main Montessori, jadi terasa sekali perbedaannya.

Ada yang mau menambahkan, mommies?


Post Comment