Ketika Panti Asuhan (Benar-benar) Jadi Lahan Bisnis

Selentingan soal panti asuhan jadi ladang bisnis sih saya sudah sering dengar ya. Tapi yang saya baru tahu, ternyata bisnis ini sangat masif sampai banyak anak yang sebetulnya masih punya orangtua namun dipaksa berpisah dengan keluarga demi masuk panti asuhan.

Faktanya, 90% anak yang tinggal di panti asuhan itu masih punya orangtua lho! Lalu kenapa harus masuk panti asuhan?

panti-asuhan-bisnis

Bayangkan, ada 500ribu anak yang tinggal di delapan ribu panti asuhan di seluruh Indonesia. Angka ini salah satu yang tertinggi di dunia, hanya kalah dari Rusia. Seperti masih belum cukup, jumlah panti asuhan juga meningkat empat kali lipat selama 10 tahun terakhir.

Alasannya jelas, pendanaan pemerintah dan swasta yang melulu memprioritaskan panti asuhan. Jarang sekali yang fokus pada keluarga miskin. Jadi daripada hidup dengan orangtua tapi tidak bisa sekolah, ya mending dititip ke panti asuhan agar anak tidak putus sekolah.

”Sistem kesejahteraan anak di Indonesia hampir sepenuhnya berfokus pada penyediaan dukungan melalui institusi atau LKSA (Lembaga Kesejahteraan Sosial Anak) sehingga keluarga yang rentan tidak dapat mengakses layanan kecuali mereka menempatkan anak mereka dalam perawatan institusional,” ujar Senior Communication Manager Yayasan Sayangi Tunas Cilik, Fajar Jasmin di acara media luncheon beberapa waktu lalu,

Saya kaget lho. Meskipun jika dipikir ulang semua fakta itu memang masuk akal. Sering banget kan kita lihat artis charity ke panti asuhan, perusahaan CSR ke panti asuhan juga, bahkan ulang tahun anak aja dirayakan bersama teman-teman di panti asuhan.

Padahal demi terus mendapat dana charity, panti asuhan juga berusaha mati-matian mempertahankan jumlah anak atau malah menambahnya. Karena ya mau bagaimana lagi, jumlah anak berbanding lurus dengan jumlah pendanaan.

Kebanyakan panti asuhan ini juga hanya milik pribadi dan tidak terdaftar apalagi mengikuti aturan pemerintah. Dengan demikian, pengasuhan anak juga jadi sangat berisiko. Kita tidak akan pernah tahu apakah anak-anak itu mengalami tindak kekerasan baik secara fisik atau seksual.

Padahal urusan mengasuh anak ini sudah diatur dalam undang-undang lho. Jika memang orangtuanya tidak mampu maka dicarikan kerabat yang mampu atau dicarikan orangtua asuh secara formal yang bisa support secara materil. Jika tidak ada maka dicarikan wali baru kemudian orangtua angkat lewat proses adopsi. Kalau sampai tidak ada yang mau mengadopsi, maka baru boleh dimasukkan ke panti asuhan.

Kenyataanya banyak fase yang di-skip begitu saja dan dengan berbagai alasan seperti orangtua bercerai atau kehilangan pekerjaan, anak langsung dimasukkan ke panti asuhan.

Yayasan Sayangi Tunas Cilik akhirnya meluncurkan program Family First yang fokus pada isu perlindungan anak. Program ini bertujuan untuk mencegah dan merespon berbagai kasus kekerasan, penelantaran dan eksploitasi terhadap anak.

Jadi mereka berupaya untuk mengembalikan anak-anak panti asuhan ke orangtuanya. Kemudian orangtuanya yang diberi pendampingan dan pelatihan agar bisa kembali berdaya. Apa manfaatnya?

Tentu agar anak bisa tumbuh dan berkembang di keluarganya sendiri. Ia merasa terlindungi oleh orangtuanya dan punya hubungan emosional yang baik. Tergambarkan dengan baik di video ini.

Jadi jika ingin charity, pastikan menyumbang ke saluran yang tepat ya mommies. Jangan sampai kita masih jadi bagian dari bisnis anak-anak ini.

The Body Shop Indonesia juga turut mendukung program ini dan menyalurkan dana sebesar lebih dari Rp 620juta untuk mengembalikan anak-anak ke keluarganya lagi. Uang ini merupakan dana sumbangan dari pembeli The Body Shop sepanjang bulan Ramadan 2018.


Post Comment