Etika Menegur Anak Orang Lain yang Berbuat Salah

Saat menegur anak, jangan sampai anak merasa terpojok bahkan dihakimi. Mau itu anak sendiri, apalagi orang lain. Mari kedepankankan beberapa pemikiran ini. Agar kelak tumbuh kembangnya tidak terganggu.

Hati ibu mana yang nggak sedih, saat mengetahui buah hatinya mendapatkan perlakuan tidak manusiawi dari seseorang. Pada kasus yang terjadi dengan saya, anak saya ditegur, karena mengucapkan kata-kata yang tidak seharusnya diucapkan. Tapi dengan cara yang nggak kids friendly, plus ditambah dengan kalimat dan bahasa tubuh yang nggak pas diucapkan dan ditunjukkan ke anak-anak.

Menegur anak

Jika cara orang itu menegurnya, masih dalam rambu-rambu yang menurut saya dan teori parenting yang selama ini saya dapat dari teman-teman psikolog, masih manusiawi, tentu saya bisa maklum. Dan bahkan mendukung hal tersebut.

Kata Mbak Vera Itabiliana, Psikolog Anak dan Keluarga, “Sebenarnya namanya anak, kita nggak bisa memilih kalau ada anak yang berbuat kesalahan. Apa kah itu anak orang lain atau anak kita. Sehingga sikapnya jadi beda, kalau sama anak sendiri seperti ini, dan kalau menegur anak orang lain, seperti itu. Tidak boleh berbeda seperti itu. Jadi cara menegurnya pun, sama seperti kita menegur anak kita sendiri. Kecuali cara seseorang menegur anaknya di rumah, terbiasa emosi.”

Contoh kalimat yang Mbak Vera utarakan:

“lho kok ngomongnya gitu, bagus nggak ngomong kayak gitu?”

“Jordy tahu nggak sih, itu artinya apa?”, “Jordy tahu nggak perasaan orang itu kalau kamu bicara seperti itu? Dia nanti sedih lho.”

“Karena kadang anak tahu artinya, tapi belum tahu dampaknya seperti apa. Seumuran segitu, empatinya sedang tumbuh dan masih self center. Harus dijelaskan, artinya apa, dan berikan kata pengganti. Dia mungkin butuh satu kata yang ekspresif,lanjut Mbak Vera.

Saya juga, nggak lantas gelap mata kok, berpikir bahwa anak saya benar 100% atau perbuatannya harus dimaklumi. Saya yakin, ada banyak elemen yang membuat anak lanang saya yang hampir 4 tahun ini, melakukan kesalahan tersebut.

Hasil beberapa pengumpulan fakta yang saya lakukan (termasuk langsung bertanya ke Jordy), terkuaklah Jordy mendapatkan kosa kata kasar dari teman sekolahnya. Karena rumusnya masih children see, children do – children hear, children say.

Mbak Vera menambahkan, etika secara umum menegur anak yang melakukan kesalahan, baik itu anak sendiri dan anak orang lain, adalah ditegur baik-baik dan disampaikan ke orangtuanya. Karena berkewajiban meluruskan dan membereskan masalah ini adalah tetap orangtuanya.

Persepsi, bahwa melihat anak itu sebagai makhluk yang masih belajar berperilaku, HARUS TETAP ADA DI KEPALA KITA. Sehingga ketika kita menegur anak, kita mendalaminya sebagai momen belajarnya anak.

Semoga ilmu-ilmu dari Mbak Vera ini, bisa kita resapi. Baik itu anak sendiri maupun anak orang lain, tidak terluka dengan cara menegur kita, akan kesalahan yang mereka perbuat.

 


One Comment - Write a Comment

  1. Artikel yang menarik,
    Karena kadang kita suka bingung bagaimana menegur anak orang yang berlaku kasar bahkan sengaja menyakiti anak kita, dan pada akhirnya kita menegur anak itu secara kasar juga karena spontan. Tapi terkadang orang tua membela anak nya dengan membabi buta tanpa mau tau siapa yg salah dan ga terima anaknya di tegur, makanya saya suka malas kalo anak minta bermain di tempat bermain yng terlalu ramai kecuali saya bisa ngawasin.

Post Comment