Jangan Katakan Empat Hal ini Pada Orangtua dengan Anak Autis

Mari jadi support system yang sehat untuk keluarga dengan anak berkebutuhan khusus – autisme. Caranya? Sesederhana dengan tidak mengatakan empat hal ini, kepada mereka.

Hari gini saya masih dengar bercandaan yang menyisipkan kata-kata “autisme”. Biasanya terucap, ketika seseorang merasa terganggu dengan temannya yang terlalu asik main gadget, sampai lupa sama ngobrol sama teman di sekelilingnya. Padahal ya, mommies, menurut Psikolog Anak dan Remaja, Vera Itabiliana “Kata “autisme” itu melambangkan satu perjuangan, yang sama sekali tidak mudah, jadi jangan dijadikan bahan candaan. 

Jangan Katakan Empat Hal ini Pada Orangtua dengan Anak Autis - Mommies Daily

“Jangan sampai, kita baru paham dan mengerti kalau itu sudah terjadi pada kita. Jika kita sebagai orangtua sudah menunjukkan penghargaan kepada penderita autisme dan keluarganya, ini sama saja dengan kita mengajarkan anak kita cara berempati,” lanjut Mba Vera, yang pernah dibahas dalam artikel terdahulu di MD Gejala Autisme dan Cara Penanganannya.

Autisme menurut Mbak Vera adalah suatu bentuk gangguan perkembangan, yang terjadi pada tiga aspek. Yang pertama gangguan berkomunikasi, kemampuan anak untuk berinteraksi sosial juga terganggu dan yang ketiga biasanya disertai perilaku khas yang sering dilakukan anak. Misalnya melakukan gerakan seperti anjing laut menepuk-nepuk tangannya atau meloncat-loncat.

Nah, selain menghindari bentuk candaan seperti yag sempat saya singgung di atas. Dalam situs boldsky.com, menyarankan tidak mengatakan empat kalimat ini, kepada orangtua atau support system yang sedang berjuang membesarkan anak dengan autisme.

1.”Seiring tumbuh kembangnya, nanti juga hilang kok.”

Autisme bukan bukan semacam suasana hati yang punya fase tertentu, dan akan hilang dengan sendirinya. Autisme ada gangguan yang harus ditangani secara terintegrasi. Mengatakan kalimat semacam ini, hanya akan membuat orangtua semakin sedih.

2. “Usahakan dia bisa melakukannya!”

Tahu kah mommies, anak dengan autisme sulit untuk menerima perintah. Seperti dua ciri yang Mbak Vera pernah utarakan kepada MD.

-Tidak bisa komunikasi dua arah, jika dipanggil namanya

-Tidak merespon dan asyik dengan dunianya sendiri, misalnya jika kita menirukan sesuatu – si anak tidak akan menirukan apa yang kita lakukan.

Secara logika sehat saja, orangtua tidak mungkin memaksa mereka melakukan sesuatu. Nantinya anak dengan autisme akan tambah agresif, jika menerima paksaan dari lingkungan sekitarnya.

3. “Dia harus bisa disiplin”

Sesederhana mendapatkan respon saat namanya dipanggil saja, orangtua harus bekerja keras. Bagaimana bisa kita tega, mengatakan soal disiplin pada anak, dengan fungsi kognitif yang harus mendapatkan intervensi lebih lanjut?

4. “Dia kelihatan normal-normal saja kok buat saya”

Pernyataan ini benar-benar menyakiti orangtua dengan anak berkebutuhan khusus, lho mommies. Merasa diremehkan dengan kondisi yang sebetulnya butuh penanganan sangat serius.

Jadi, yuk! Menjadi support system yang sehat untuk mereka. Bentuk dukungan sederhana seperti ini, justru bisa jadi penguat keluarga yang sedang berjuang medampingi anak dengan autisme.

*Artikel ini diadaptasi dari boldsky.com


Post Comment