Agar Anak Tumbuh Jadi Orang Dewasa yang Benar-benar Bahagia

agar-anak-bahagia

Membesarkan anak kadang memang pelik ya jika tidak punya tujuan. Ingin anak seperti apa nanti saat dewasa? Kalau saya sih ingin dia benar-benar bahagia.

Saya sih ingin dia bahagia, benar-benar bahagia. Tapi ketika ditanya definisi bahagia pun saya agak sulit menjawabnya. Lebih mudah menjelaskan kondisi tidak bahagia dibanding diminta mendefinisikan bahagia.

Saya ingin dia menjadi orang dewasa yang well-adjusted. Terus terang saya kesulitan mencari padanan untuk well-adjusted ini, tapi kurang lebih adalah orang yang merasa cukup akan dirinya sendiri sehingga bisa melihat segala sesuatu dengan kalem dan positif.

I want him to be fulfilled, loving, humble, well-rounded, happy. Semoga mommies bisa paham ya yang saya maksud. :)

Contohnya, ketika melihat orang kesusahan dia langsung sigap membantu tanpa pamrih, saat melihat orang mendapat kabar bahagia, ia bisa ikut tersenyum bahagia.

Saya ingin dia jadi orang yang tidak memaki saat mobil lain memotong jalurnya secara tiba-tiba, yang tidak berteriak kesal saat sulit sekali mencari parkir. Yang tidak sering bertengkar dengan pasangannya hanya karena kunci hilang atau terjebak macet berjam-jam di jalan.

Sounds too perfect, ya?

Saya pun kemudian bertanya pada Psikolog Anak dan Remaja Vera Itabiliana Hadiwidjojo, bagaimana cara membesarkan anak yang well-adjusted?

Mbak Vera menjelaskan bahwa penerapan aturan yang tegas dan konsisten di rumah itu sangat penting. Gunanya agar anak mudah beradaptasi dengan aturan di mana pun. Yang berikutnya adalah empati dan toleransi. Kita lihat sendiri ya mommies, zaman sekarang ini banyak sekali orang yang kehilangan empati dan maunya menang sendiri.

“Kembangkan empati anak untuk memahami apa yang dirasakan orang lain, misalnya mengantri tidak boleh menyelak karena orang yang mengantri sebelumnya sudah lelah dan pasti akan marah,” jelas Mbak Vera.

Juga toleransi. Orang yang well-adjusted percaya akan prinsip yang ia yakini tanpa perlu memaksakan prinsipnya pada orang lain. Tidak pula merasa terancam pada perbedaan.

“Toleransi akan perbedaan, mulai dari rumah dibiasakan bahwa berbeda itu biasa dan tidak harus sama, misalnya kesukaan dalam menghabiskan waktu luang di rumah; ada anak yg lebih suka main dan ada yang lebih suka baca, tidak boleh saling merendahkan,” lanjutnya.

Berat ya, mommies! Rasanya diri sendiri juga masih harus banyak belajar untuk bisa jadi pribadi yang seperti itu. Apalagi kebahagiaan juga dipengaruhi banyak hal seperti background keluarga, kondisi ekonomi, dan berbagai masalah lainnya.

Tapi menurut saya, belajar bahagia kan tidak akan pernah salah. Belajar dari mensyukuri hal kecil dan meredam emosi. Buat rasa marah, dengki, iri sebagai sesuatu yang sangat mahal sampai kita sulit mendapatkannya.

Ayo bahagia dan besarkan anak jadi pribadi yang bahagia!


Post Comment