Penyebab Salah Satu Janin Kembar Marrisa Nasution Berpulang

Setiap kehamilan pasti punya cerita tersendiri. Baik kehamilan tunggal atau kembar. Kali ini cerita datang dari public figure Marrisa Nasution. Salah satu janinnya meninggal dunia. Apa yang sebenarnya terjadi?

7 Februari lalu, Marrisa Nasution, public figure yang berprofesi MC berduka karena kehilangan salah satu janin kembar yang ia kandung, dan diberi nama Moana. Mengutip pada akun instagramnya ia menulis, “Sebagai orangtua kami berdua sangat berduka untuk anak perempuan kami. Tapi di sisi lain kami tetap bersyukur kakak Moana tetap berjuang untuk bertahan hidup.”

Apa yang Sebenarnya Terjadi pada Kehamilan Kembar Marrisa Nasution? - Mommies Daily

Setelah menjalani fetal surgery, istri dari Benedikt Brueggemam ini recovery di Singapore. Dan terus berharap saudara Moana selalu sehat hingga nanti proses persalinan. Doa yang sama dari kami, ya, Marrisa. Saudara Moana, lahir dengan selamat tanpa kurang satu apapun, begitupun ibu dan support system-nya.

Dalam dunia ilmu kedokteran, kasus Marrisa dikenal dengan nama TTTS (Twin to Twin Transfusion Syndrome). TTTS adalah salah satu komplikasi dari kehamilan kembar (gemelli) pada kembar yang berasal dari satu sel telur/kembar identik. Atau dalam dunia kedokteran disebut sebagai monokorion-diamnion atau kembar dengan satu plasenta.

“TTTS sangat berpotensi membahayakan kehidupan kedua janin di dalam kandungan. Angka kejadian TTTS tidaklah banyak, berkisar sekitar 10-15% dari seluruh kembar monokorion-diamnion,” papar Dr. Novan Satya Pamungkas, SpOG, yang praktik di RSAB Harapan Kita dan RSIA Brawijaya.

Lebih lanjut dr. Novan memberikan penjelasan rinci kronologis kasus TTTS pada kehamilan kembar. Pada TTTS kedua janin mendapat suplai oksigen dan nutrisi dari 1 plasenta dan terdapat hubungan pembuluh darah abnormal yang saling menghubungkan kedua janin tersebut.

Pada kondisi ini kemudian salah satu janin akan berperan sebagai “donor” yang memompakan darah ke janin lainnya yang kemudian disebut sebagai “resipien”. Janin donor akan mengalami dehidrasi, air ketuban sangat sedikit dan pertumbuhannya cenderung lebih kecil dibandingkan dengan janin resipien.

Sementara janin resipien akan mengalami kebalikannya, cairannya menjadi sangat berlebih sehingga janin menjadi edema (bengkak), air ketuban sangat banyak dan ukuran janin lebih besar daripada janin donor. Di satu titik dikarenakan volume cairan di dalam janin resipien sangat berlebih maka mengakibatkan beban jantung menjadi sangat berat dan kemudian janin akan mengalami gagal jantung dan meninggal.

Menurut dr. Novan. TTTS tidak dapat dicegah. Yang bisa dilakukan adalah mengenali faktor risikonya sedini mungkin. Harapannya, baik pasien dan dokter dapat lebih waspada dalam menjalani dan mengawasi kehamilan. Dr. Novan memberikan 3 poin penting terkait cara mengenalo faktor risiko TTTS:

  1. Sebagaimana sudah dijelaskan sebelumnya, TTTS terjadi pada kehamilan kembar monokorion-diamnion. Maka alangkah baiknya dilakukan pemeriksaan USG pada trimester pertama kehamilan untuk menentukan korionisitas kehamilan kehamilan tersebut. Bila terbukti kehamilan kembarnya adalah monokorion-diamnion maka perlu dijelaskan kepada Ibu hamil bahwa janinnya memiliki risiko mengalami TTTS.
  2. Bila terasa perut Ibu membesar dengan sangat cepat (tidak sesuai dengan usia kehamilan) maka perlu diwaspadai bahwa inilah tanda awal TTTS yang diakibatkan pertambahan cairan ketuban yang sangat masif dari janin resipien. Terkadang keluhan ini sampai membuat Ibu merasa sangat tidak nyaman sampai sesak.
  3. Dikatakan bila TTTS terjadi di usia kehamilan lebih dari 20 minggu, maka prognosisnya lebih baik dibandingkan apabila TTTS terdiagnosa sebelum usia kehamilan 20 minggu.

Apa itu fetal surgery yang dijalankan oleh Marrisa Nasution?

Dr. Novan bilang Fetal surgery yang dimaksud adalah laser ablation untuk memutus hubungan pembuluh darah di antara kedua janin. Terapi ini adalah terapi definitif untuk mengatasi permasalahan TTTS.

Kata dr. Novan lagi, tindakan ini cukup dilakukan satu kali. Dan sudah bisa lho, dilakukan di Jakarta. Salah satunya di RSAB Harapan Kita. Keberhasilan tindakan ini untuk menyelamatkan kedua janin berkisar antara 35-50%, sementara keberhasilan menyelamatkan salah satu janin berkisar antara 65-85%.

Bagi mommies yang sedang mengandung kembar, maupun tunggal. Atau mungkin ada yang kembar tiga? Berapapun jumlah janin yang sedang dikandung. Semoga janin dan ibu dalam keadaan sehat, sampai nanti proses persalinan, ya.


Post Comment