ML Bareng, yuk, Bro!

Ditulis oleh: Amalia Virginia

“ML bareng, yuk, Bro!” itulah pesan yang muncul di notifikasi hanpdhone suami. Berpuluh-puluh kali. Nggak hanya dari nama-nama yang familiar, tetapi nama-nama asing.

Belakangan, suami saya terlihat lebih asyik dengan handphone-nya. Saya seringkali memergoki dirinya sedang serius di depan handphone. Posisi handhopne melintang. Kemudian, kedua tangannya memegang ujung-ujung handphone tersebut.

Hampir dua puluh menit lebih, posisi tersebut nggak berubah. “Yah, titip anaknya, ya. Tolong pakein baju,” kemudian, saya melengos untuk pergi mandi. Beberapa menit berselang, saya kembali masuk ke dalam kamar dengan situasi seperti ini: anak kecil (hanya) berpopok yang meloncat-loncat kegirangan di atas kasur, dan SUAMI YANG MASIH ASYIK DENGAN HANDPHONE-NYA.

“Kok belum pakai baju, Nak?” Saya bertanya kepada si anak kecil.

“Kan, Ayah lagi sibuk main game, Bu,”—rupanya dia sempat mengintip layar handphone Ayahnya.

Saya naik pitam! Selama sekian menit ditinggal mandi, saya berharap si kecil sudah dalam balutan piyama. Siap untuk membaca buku cerita, kemudian berpelukan hingga tertidur pulas.

Sementara, fakta yang saya terima di depan mata adalah: Suami yang masih berkutat dengan handphone-nya, dan si kecil yang asyik melompat-lompat di atas kasur—dengan mengenakan popok saja.

“ML bareng, yuk, Bro!” itulah pesan yang saya pergoki muncul di notifikasi hanpdhone suami.

ML adalah salah satu games mobile yang sedang hits, Bu-ibu. Saya sendiri nggak tahu persis permainan apa yang ada di dalamnya. Yang saya tahu, permainan ini SANGAT SERU hingga mampu menyita perhatian suami saya lebih dari dua puluh menit.

ML, Yuk, Bro! - Mommies Daily

Pemainnya tidak hanya bapak-bapak—ada juga anak muda. Melalui games ini, suami saya berkenalan dengan beberapa anak sekolah. Mereka membentuk semacam squad untuk bermain bersama. Bahkan, mereka mempunyai Whatsapp Group sendiri!

Biasanya, mereka akan bermain di malam hari. Saat anak dan istri sudah tertidur. Waktu yang dibutuhkan untuk menyelesaikan satu games dari permainan ini cukup lama, dua puluh menit. Sehingga, butuh ‘menyepi’ untuk menuntaskannya.

Kadang-kadang, suami saya pura-pura ke toilet. Padahal, di dalam sana dia asyik ML bareng Bros-nya.

“Masih lama?” saya mengetuk pintu kamar mandi.

“Masiiihhhh,” katanya dari dalam sana.

“Masih ML, ya?” saya bertanya,

“Yoihhhh!” Begitulah kira-kira percakapan kami.

Melihat suami begitu menggandrungi permainan ini, hati kecil saya pun terketuk. Ayah juga butuh me-time. Selama ini, saya yang selalu menuntut me-time kepada suami. Saya selalu bilang kalau saya lelah. Saya selalu bilang bahwa saya butuh waktu untuk santai sejenak. Padahal, ia juga butuh me-time tetapi nggak pernah menuntut—SEKALI PUN!

Hingga ML datang…, dia tampak sungguh-sungguh memperlihatkan kepada saya bahwa dirinya butuh me-time. Mungkin, dia nggak menyadari hal tersebut. Namun, waktu yang dia habiskan di toilet untuk ML, menjadi indikasi bahwa dia berusaha ‘mencuri’ waktu untuk memainkannya. Dia pun melakukan itu secara konsisten.

Hampir tiga tahun belakangan ini, kami sibuk. Kami membenamkan diri sebagai orangtua. Kami lupa untuk saling memberikan perhatian. Keseharian kami terfokus untuk menjadi orangtua yang sigap dan selalu siap sedia bagi si kecil.

Saya dan suami berangkat kerja bersama, saat sinar matahari masih malu-malu. Kemudian, tiba di rumah selepas pukul delapan malam. Waktu berdua kami hanyalah di dalam mobil. Di waktu secuil itu pun saya selalu sibuk melihat Instagram. Sementara, suami terus memantau Waze.

Kadang jika kelaparan, kami berhenti sejenak, untuk makan. Saat makan bersama, kami bersenda gurau, saling curhat, kemudian kembali menatap handphone.

Kami lupa cara untuk bercengkrama, saling memberikan perhatian.

Suatu hari, seorang bijak pernah bilang kepada kami, “Saat menikah dan tua bersama, suami-istri sering kali terfokus pada urusan rumah tangga. Mereka seringkali lupa memberikan perhatian, satu sama lain,” ia menambahkan.

Kemudian, orang bijak ini bercerita betapa pentingnya berpelukan setiap hari bagi pasangan. Kalimat ajaib, saya cinta kamu, juga dapat menghangatkan hati yang dingin. “Sayangnya, banyak pasangan yang melupakan ini. Mereka terlalu sibuk untuk hal lainnya.”

Ya, kami lupa memberikan perhatian, satu sama lain. Kami disibukkan dengan urusan pekerjaan dan rumah tangga. Saya bahkan lupa terakhir kali memeluk suami sambil berkata, “Saya cinta kamu.”

ML pun menjadi pengingat yang sempurna. Alih-alih semakin emosi, saya jadi merasa bersalah. Perhatian yang selama ini saya curahkan hanya untuk diri sendiri. Kapan saya memberikan perhatian kepada suami? Kapan saya memberikan ruang baginya untuk melakukan hal-hal yang dia sukai?

Jadi, saya memutuskan untuk memberikan ruang baginya, melakukan yang dia sukai: ML with Bros.

Sekarang, setiap kali melihat suami sedang ML, saya tersenyum geli. “Karakterku di ML ranking dua se-Indonesia, loh!” Begitu lapornya. Seakan-akan melaporkan prestasi yang membanggakan.

“Karakternya bisa dijual , nggak?” tanya saya.

“Hah? Kenapa dijual?” dia bertanya penasaran.

“Duitnya buat beliin aku sepatu laaahhh…,” jawab saya sambil melengos pergi.

Note: tulisan ini didedikasikan untuk suami tercinta, yang selalu sabar dan tidak pernah protes menghadapi saya. Suami yang pantang menyerah menghadapi keras kepala dan keras hati saya. Suami yang tidak pergi meninggalkan saya. Saya cinta kamu!


Post Comment