Tana Suwardhono, “Kalau mau sehat, jauhkan keluarga dari makanan yang melalui proses masak terlalu banyak.”

Tana Suwardhono (37), bersama tiga sahabatnya  berhasil memiliki bisnis kuliner sehat, karena alasan kesehatan. Untuk dirinya, hidup sehat nggak terlalu sulit, kok. Malah bonusnya bisa langsing. Mau tahu nggak rahasinya?

Sekitar empat tahu lalu, Tana mempunyai masalah seputar hormonnya. Dampak dari serangkaian proses usahanya mempunyai keturunan, termasuk program IVF. Jadwal datang bulan yang berantakan, kerap merasakan pusing dan migrain, belum lagi berat badan yang meluncur ke arah kanan.

Tana Suwardhono, “Kalau mau sehat, jauhkan keluarga dari makanan yang melalui proses masak terlalu banyak.”

Di tengah masa “kelam”-nya tersebut, seakan sudah berjodoh dengan salah satu teman semasa SMA-nya Reina Wardhana. Mereka berdua komitmen menjalan pola hidup sehat, dengan alasan yang hampir mirip. Diawali mengatur asupan makanan dan olahraga. Tapi ternyata, apa yang dilakukan Tana untuk dirinya dan keluarga, berkembang menjadi usaha katering sehat, dan merambah membuak restoran MAM, di Senayan City.

Yuk, simak obrolan saya dengan perempuan jebolan University of Melbourne, Creative Arts & Chinese Language, dan ibu dari putri kembarnya Raissa (7) & Keandra (7).

Hai Mbak Tana, terima kasih ya buat waktunya. Mbak tolong ceritakan dong. Sekarang lagi sibuk apa saja, yang berhubungan dengan dunia asupan sehat, nih?

Hampir setiap hari mampir ke MAM (restoran 3 Skinny Minnies), sebelum jemput anak-anak. Selain itu, saya sekarang bersama Reina Wardhana dan Jessica Halim (founder original 3 Skinny Minnies). Kami baru saja tanda tangan kontrak untuk webseries, bersama vidio.com. Sedang menjalankan proses shooting, baru-baru ini sudah selesai empat episode. Mau bikin 8-10 episode pertama dulu. Masih berhubungan dengan dunia masa-memasak, olahraga, dan ada sentuhan  fashion dan beauty-nya sedikit. Intinya dunia ibu-ibu, deh.

Dari beberapa sumber yang saya baca dan curi dengar, kamu tuh concern banget, dengan pola makan sehat, bisa diceritakan asal mulanya?

Awalnya setelah saya melahirkan. Dan saya itu, hamilnya susah banget. Sudah pernah keguguran beberapa kali. Mencoba berbagai macam program untuk hamil, akhirnya, memutuskan untuk program IVF. Nah, dalam prosesnya itu, kan, harus suntik hormon. Karena dalam perjalanannya itu, tubuh saya dipenuhi berbagai macam hormon, yang berujung jadwal datang bulan saya kacau. Terus badan juga nggak enak rasanya. Tapi dari segi berat badan, nggak terlalu gemuk juga. Tapi ya itu, efek ke badan jadi nggak nyaman.

Habis itu, saya juga kebetulan dekat dengan Reina, dia adalah adik kelas saya sewaktu SMA. Dokter saya juga bilang, BB saya itu tidak boleh lebih dari 53. Kalau BB saya lebih dari itu, saya tidak bisa datang bulan. Tapi kalau terlalu kurus, juga nggak bisa mens. Jadi BB saya harus berkisar 51-53. Waktu BB saya berada di 56-57, sudah agak stres ya. Apalagi 4 tahun lalu belum banyak pilihan untuk program diet. Akhirnya saya ngobrol sama Reina. Dia itu juga baru melahirkan anak yang kedua. Akhirnya kami coba-coba diet. Diet yang pernah kami coba adalah, diet mayo. BB kami turun, tapi tidak bertahan lama. Efek ke tubuh juga kurang enak.

Lalu kami memutuskan mulai olahraga. Dulu jenis olahraga juga belum banyak, seperti sekarang ya. Ditambah kami membuat metode diet sendiri, jadwal olahraga teratur. Akhirnya merasakan efek yang jauh lebih enak ke badannya. Datang bulan saya teratur, migrain atau pusing hilang, nggak gampang sakit. Bawaannya juga lebih happy. Terus ketemu teman-teman baru. Efeknya positif banget.

Kan dietnya berawal dari makanan, itu ada metode tertentu yang diterapkan kah?

Awalnya mencoba berbagai metode diet. Nah, karena dari dulu saya suka masak. Saya jadi yang berpikir, “Menu-menu diet ini seharusnya bisa lebih enak daripada ini, lho!.” Akhirnya saya dan Reina riset kecil-kecilan. Dalam satu metode diet, apa saja peraturan dasar yang mesti diterapkan. Akhirnya bikin sendiri, deh. Dan terbentuklah 3 Skinny Minnies.

Risetnya berbentuk apa?

Kebetulan dalam prosesnya, Reina sempat hamil lagi. Jadi konsultasi dengan dokter kandungan Reina saat itu. Logikanya, kalau untuk orang hamil saja sehat dan bagus. Buat orang biasa, artinya tidak hamil sudah pasti sehat dan bagus juga.

Kalau untuk olahraga yang sekarang rutin dilakukan, apa saja?

Barre, strength training, circuit training

Balik lagi ke soal asupan sehat. Memang makanan sehat, tetap bisa jadi makanan yang enak, ya, mbak? Boleh nggak bagi rahasianya?

Yang pasti memilih bahan yang bagus dan segar. Dan menurut saya, jangan terlalu banyak menggunakan penambah rasa instan , seperti saos. Yang mengandung zat pengawet, garam, gula yang lumayan banyak. Jadi kalau kami, memilih bikin saos sendiri, supaya membuat makanan jadi lebih enak. Kami anti dengan yang instan. Mayonnaise kami juga bikin sendiri

Tana Suwardhono, “Kalau mau sehat, jauhkan keluarga dari makanan yang melalui proses masak terlalu banyak.” - Mommies Daily

Anak-anak dan pasangan jadi sudah terbiasa ya, dengan olahan sehat di rumah?

Iya lama-lama juga terbawa. Apalagi awal-awal bikin catering, saya belum punya chef. Jadi semua masak sendiri. Dan itu terbawa sampai makanan ke rumah. Misalnya garamnya sedikit banget, dan malah kadang-kadang nggak pakai garam. Suami saya awalnya protes, tapi lama-lama lidah jadi terbiasa. Anak-lama-lama anak juga terbiasa. Misalnya di rumah, adanya cuma nasi cokelat, mereka jadi suka nasi cokelat.

Terus mengakalinya, kalau sedang pergi di akhir pekan atau traveling gimana tuh mba?

Kalau traveling, anak-anak saya kebetulan lebih suka makanan Jepang. Sashimi, sushi, yang dibakar. Dan mungkin karena dari kecil, saya tidak pernah membiasakan, makanan yang rasanya terlalu pekat, dan banyak tambahan saos. Jadi mereka juga nggak suka dengan tipe makanan seperti itu. Misalnya chicken teriyaki. Lebih sukanya, seperti, grill salmon, atau grill steik. Malah kadang-kadang saya yang pingin makanan padang! Ahahaha.

Tapi kamu juga masih suka ada cheating day gitu?

Masih lah, ahahaha. Kalau nggak, nanti hidup tak ada rasanya, hahaha. Misalnya hari ini saya kepingin banget makan nasi padang. Tapi, besok porsi olahraga saya harus ditambah.

Kiat-kiat dari kamu, buat mommies yang pelan-pelan mau menerapkan makanan sehat di rumah?

Mulainya dari yang kecil banget. Ganti bahan-bahan yang berisiko berbahaya untuk badan kita. Contohnya gula, kalau bisa jangan pakai gula putih. Bisa ganti dengan madu, gula aren atau brown sugar, dan coconut nectar. Zaman sekarang banyak banget, alternatifnya. Saya di rumah jarang menggunakan gula. Paling kalau lagi bikin cupcake. Tapi kalau misalnya minum teh, pakainya madu dan lemon. Selain itu, soal konsumsi nasi. Anak-anak kan masih bisa diajarin dari awal, konsumsi nasi merah. Penggunaan minyak, juga bisa diganti. Dari minyak goreng, bisa diganti sunflower oil, advocado oil, olive oil, dan lain-lain. Butter atau margarine, mind set-nya buat cheating saja, jangan dipakai buat masak setiap hari.

Dari cara pengolahannya juga diperhatikan, meminimalkan digoreng. Tapi saya juga nggak segitu “jahatnya” sama anak, ya. Kalau mereka mau makan goreng-gorengan, ya boleh saja. Misalnya mau makan nugget. Nanti saya yang bikin, lebih enak dari yang dijual dipasaran, malah, hahaha.

Selain itu, please, jangan makan makanan yang sudah diproses, khususnya buat anak-anak. Sesekali boleh, sih. Contohnya sosis. Kalau memang mau, di Instagram sudah banyak banget, kan, yang jual sosis buatan rumah. Contoh lainnya ham. Alternatifnya, ada yang bentuknya masih daging, diiris tipis-tipis, baru nanti diasap. Ada kok dijual di Supermarket Ranch Market dan Kem Chicks. Dari hal-hal kecil yang seperti itu mulainya. Dan intinya, hindari makanan yang sudah melalui proses masak terlalu banyak. Kalau kita jeli, sebetulnya masakan Indonesia, lebih mudah. Misalnya ikan rica-rica, sambal matah, ayam panggang, tapi santannya bisa diganti dengan susu rendah lemak.

Dari sekian banyak kesibukan kamu mengurus bisnis dan keluarga. Ada aplikasi khusus nggak yang dipakai buat mengatur kerjaan dan jadwal?

Paling kalender biasa yang ada di HP saja, ya. Yang penting ada catatannya dan dibantu juga sama asisten saya.

Urusan antar jemput anak, kamu juga kah yang handle?

Iya, pokoknya antar dan jemput sekolah kan pasti saya. Karena suami saya, juga nggak kasih izin anak-anak pergi dan pulang sekolah, sendirian hanya dengan supir, tanpa ada anggota keluarga di dalam mobil. Selain itu, juga urusan les. Yang jadwalnya hampir setiap hari.

Apa saja mbak les anak-anak?

Les golf, cinematography, berenang, origami, matematika, dan ngaji.

Mengingat anak kamu kembar, apa nih, mbak tantangan membesarkan anak kembar perempuan?

Karakter kedua anak itu, kebetulan beda banget, ya. Yang satu, si kakak rajin rapih, yang satu lagi, adik berantakan dan jorok, ahahaha. Nah, makin mereka besar, tantangan yang sekarang saya hadapi, mereka sangat ketergantungan satu sama lain. Misalnya kakak kan orangnya rapih, nanti adiknya akan ketergantungan, kalau ditanya sesuatu, dia akan jawab “Nggak tahu, tanya saja sama kakak.” Semacam itu. Si kecil sampai saya harus terapi. Karena, kalau ditanya nggak mau ngomong. Semuanya tergantung si kakak. Sudah beberapa bulan terapi, sudah jauh berbeda. Tadinya si kakak senang bersosialisasi, punya geng cewek. Kalau adiknya lebih suka gambar, bikin cerita di kelas. Yang lebih nggak mau gabung main sama teman-temannya. Tapi sekarang, adikny sudah berani. Malah diprotes sama gurunya, nggak pernah berhenti ngomong di kelas.

Kamu sendiri dan tipe orangtua yang seperti apa?

Yang jelas saya bukan tipe orangtua yang easy going, hahaha. Saya super tiger mom dan ambisius. Pokoknya anak-anak saya, harus selalu top three di kelas. Saya punya standar nilai sendiri, pokoknya saya tiger mom banget. Makanya, saya sangat terlibat dengan aktivitas anak-anak. Malah tadinya pas anak-anak baru kelas 1 SD, saya yang ngajarin semua mata pelajaran. Sampai akhirnya saya stress sendiri, ahahaha. Akhirnya sekarang saya menghadirkan guru les. Tapi tetap saja, kalau mau ulangan, saya akan terlibat langsung. Artinya, saya tipe yang sangat perhatian dengan hal-hal kecil yang berhubungan dengan sekolah anak-anak. Belum lama ini, saya menemukan ada kesalahan perhitungan nilai di rapot anak saya.

Kalau ambisiusnya sendiri, dalam hal apa mbak?

Karena saya merasa , anak-anak saya itu pintar. Kalau nggak mereka nggak akan ada di ranking top three terus-terusan. Selain itu saya merasa, mereka juga berbakat. Dan berbakatnya, nggak harus pelajaran, ya. Karena mereka potensi banyak, buat saya  yang bisa bikin saya bahagia itu,kalau mereka bisa mencapai potensinya mereka. Mau itu nantinya jadi supermodel, apapun itu deh. Nggak usah harus jadi, arsitek dan semacamnya. Pokoknya apapun passion dan bakat mereka, dan mereka bisa mencapai itu, saya sudah senang banget.

Tana Suwardhono, “Kalau mau sehat, jauhkan keluarga dari makanan yang melalui proses masak terlalu banyak.” - Mommies Daily

Kerja sama dengan pasangan gimana, nih, pembagian tugas parenting?

Suami saya itu, tipe yang nggak bisa marah dengan anak-anaknya , minta apapun pasti akan dikasih. Tapi jadinya ada penyeimbang dengan saya yang tiger mom, ya, hahaha. Saya dari awal lebih suka kalau saya yang ngurus anak-anak. Suami saya, ya sudah nggak boleh banyak protes. Suami saya bukan tipe yang helpfull, semacam mandiin atau menyuapi anak ya. Tapi karena saya sudah tahu, dia seperti itu, jadi kompensasinya, saya minta suami benar-benar bertanggung jawab dengan semua kebutuhan anak-anak. Walau nggak hands on seperti yang tadi saya bilang, suami saya tipe ayah yang mau menghabiskan waktu bermain sama anak. Urusan yang fun sama ayahnya, kalau yang serius sama saya, ahahaha.

Bagaimana kamu menjaga quality time dengan pasangan?

Setiap tiga bulan, pasti kami hanya pergi berdua. Habis itu nonton, atau date night. Terus karena suami sudah bergabung dengan usaha yang saya dan teman-teman rintis, otomatis lebih banyak waktu berdua, walau itu untuk urusan pekerjaan. Misalnya menghadiri undangan tertentu.

Sukses selalu untuk bisnis 3 Skinny Minnies dan MAM, Mbak Tana. Dan semoga, mommies yang membaca artikel ini, bisa terinspirasi memulai pola hidup sehat. Mungkin mulai mengganti gula putih dari brown sugar? :)

1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (No Ratings Yet)
Loading...

Post Comment