Anna Surti Ariani, Cerita Soal Dunia Psikologi, Ibu Kepo dan Kodok Sombong

Entah mengapa, aura positif selalu menyelubungi perempuan bernama lengkap Anna Surti Ariani, S.Psi., M.Si. Setiap bertemu dan berbincang dengannya, energinya pun selalu menular ke saya. Berteman secanggir kopi panas di sebuah Cafe mungil, Mbak Nina, begitu saya sering menyapanya bercerita tentang banyak hal. Mulai dari kesibukannya sebagai psikolog, tantangan membesarkan anak yang mulai beranjak remaja, dan hal menarik lainnya. 

Buat mommies yang sering membaca artikel di Mommies Daily, tentu sudah familiar dengan nama Anna Surti Ariani, S.Psi., M.Si. Maklum saja, psikolog anak dan keluarga ini memang jadi langganan narasumber tim editorial Mommies Daily dalam membuat artikel. Nggak cuma itu saja, sih, Mbak Nina juga beberapa kali  kami dapuk menjadi narasumber saat kami mengadakan seminar atau talkshow.

Belum lama ini,  bertempat di sebuah Café mungil di bilangan Lebak Bulus, di tengah kesibukannya, Mbak Nina menyempatkan waktunya untuk berbincang dengan saya. Bercerita tentang kesibukannya sebagai psikolog, tantangan menjadi ibu masa kini dan tentunya sebagai istri.

Seperti biasa, selalu ada hal baru yang saya dapatkan tiap kali bercengkrama dengan istri dari Teguh Budiman ini.

Anna Surti Ariani-mommiesdaily

Hai Mbak Nina, sekarang lagi sibuk ngapain aja sih, selain praktik dan melakukan konseling?

Kalau yang rutin, pasti praktik, ya. Saat ini aku masih praktik di Klinik Terpadu, Fakulas Psikologi UI di Depok. Selain itu, masih jadi narasumber di berbagai media,  terus masih jadi narasumber untuk seminar juga, baik yang di bawah brand, sekolah, ataupun seminar bersama media seperti yang pernah saya lakukan bersama Mommies Daily. Selain itu sekarang ini aku juga sedang jadi konsultan untuk buku anak, sedang mau membuat buku bersama Mbak Watiek Ideo. Sebenarnya aku juga sedang menulis buku, tapi nggak kelar-kelar, nih, mbak… hahaha. Tapi mungkin karena memang program yang aku jalanka cukup padet, jadi memang nggak on track dalam penulisan aku ini.

Wah, buku soal apa, nih, Mbak?

Bukunya masih seputar parenting, kok. Tentang memiliki lebih dari satu anak, intinya sih itu. Tapi memang belum selesai ditulis.

Sebagai psikolog, ketika ada brand yang ingin mengajak kerjasama, apa saja, sih, pertimbangnnya, Mbak?

Yang pertama tentu saja kesesuaian dengan nilai-nilai aku sendiri. Aku sudah pasti menolak jika program atau brand-nya itu rokok, atau minuman keras. Ketika brand tersebut mengusung nilai-nilai keluarga, keharmonisan dalam keluarga, itu tentu akan saya pertimbangkan, dan satu lagi tentu saja nggak memaksakan nilai-nilai komersil. Kalau memaksaan nilai komersil, sudah pasti akan saya tolak. Biar bagaimana pun saya juga punya kode etik psikologi yang nggak akan dilanggar, aku sangat meminimalkan sekali untuk share yang berkaitan dengan brand tadi. Saat menerima tawaran juga tentu saja banyak pertimbangannya. Pada dasarnya saya ini kan memang senang sharing, tapi bukan untuk mencari popularitas, jadi saya cukup berani untuk menolak.

Di tengah jadwal yang cukup sibuk, bagaimana cara Mbak Nina agar lebih efisien dalam bekerja?

Jadi aku ini memang punya jadwal kerja yang cukup detail. Jam-jamnya juga harus diperhitungkan. Misalnya, hari ini ada jadwal interview dengan media mana saja, meeting di mana, nah, ini harus diperhitungkan. Jadi di dalam agenda aku nggak poin-poin saja yang ditulis, tapi hour by hour. Begitu juga kalau jadwal praktik. Kalau nggak begitu, bisa kacau.

Dulu saya punya klien dokter anak, rupanya dia itu punya masalah dalam subjective time yang cukup besar. Dia itu merasa punya waktu yang banyak, padahal nggak. Jadi aku membantunya untuk membuat agenda seperti aku. Bagaimana ia bisa ngajar dan praktik. Bagaimana menghitung perjalanan, dan apakah ia butuh waktu istirahat dulu sebelum memulai praktik. Semua kan harus dipertimbangkan.

Buat aku jadi memang penting mengatur waktu, jam demi jam supaya tetap on track sebagai working mom. Jadwal anak-anak biasanya juga akan aku prioritaskan lebih dulu. Kemudian aku warnai dengan warna yang berbeda.

Kemudian untuk berkerja efisien harus sehat fisik dan mental itu juga perlu banget. Makan dan istirahat yang teratur sangat penting. Saya tahu kalau sedang lapar, saya bisa ‘ganas’, hahaha, makanya mengusahakan jangan sampai terlalu telat makan. Jangan lupa memasukan jadwal olahraga. Mau nggak mau ini memang harus dijalankan supaya bisa kerja. Setiap kali aku sakit, aku itu merasa rugi. Makanya harus bisa mencari tahu bagaimana caranya biar tetap sehat. Profesi psikolog itu kan sebenarnya cukup rentan dengan kondisi burnout, tidak sehat mentalkan jadinya. Jadi aku juga harus bisa me-manage sedemikian rupa bagaimana waktu praktik tidak membebani.

Wah, masalah klien bisa ikut ‘terbawa’ dan membebani juga, ya, Mbak…

Kita memang  diajari begitu banyak hal untuk tidak kebawa tapi kalau terlalu lelah kan memang bisa terbawa. Makanya saya juga sangat memerhatikan jadwal praktik supaya nggak terlalu padat. Satu yang penting adalah memberdayakan support system. Artinya, saya memang perlu kerjasama dengan suami, orang tua, mertua, ART, termasuk sahabat-sahabat yang bisa kita andalkan. Intinya, sih, memang harus mengusahakan menjaga hubungan baik dengan semua pihak. Menurut aku ini juga modal supaya kerjaan kita bisa teratur. Termasuk hubungan sata dengan media, semoga hubungan kita juga terus baik, ya, Mbak…

Anna Surti Ariani -mommiesdaily

Hahaha, tentu saja, dong, Mbak Nina. Oh, ya, selama ini olahraga apa, sih, yang cukup rutin Mbak lakukan?

Paling sering itu memang jalan pagi, terus berenang. Kalau sedang ke luar kota aku itu selalu mengusahakan hotel yang ada kolam renangnya. Aku juga masih ikutan salah satu fitness center, biasanya sih zumba, body combat atau yoga aku juga suka. Tapi setidaknya kalau memang nggak sempat olahraga, paling tidak aku itu jalan kaki.

Hal apa sih, yang gampang menggaggu pekerjan dan apa  yang Mbak Nina lakukan supaya tetap fokus?

Menjauhi social media dan nggak buka Whats Apps Group. Ini tuh sangat membantu, lho, apalagi kalau WAG, obrolannya itukan suka nggak penting, ya? Hahhahaa. Nah, kalau mbak lihat aku sering lagi up date atau nulis status di social media, berarti waktu aku memang sedang lowong, tuh. Pokoknya, menghindari segala macam yang bisa mendistraksi pekerjaan. Kalau mau fokus kerja aku juga selalu berusaha untuk duduk tenang. Ini tantangan tersendiri, lho. Untuk bisa kerja dan duduk tenang itu nggak gampang, lho. Aku ini kan juga senang ngemil dan minum minuman yang manis, ini juga cukup membantu.

Kalau sedang bosan dengan rutinitas, bagaimana Mbak?

Apa ya? Umh, aku ini sampai lupa kapan terakhir aku merasa monoton. Sepertinya aku itu jarang merasakannya sehingga sampai terasa mengganggu, karena hidup aku ini sangat bervariasi. Puji Tuhan, aku selalu bisa mengatur dan mendapatkan pekerjaan yang sangat beragam. Setiap hari jadwal aku berbeda, mungkin pada dasarnya kegiatan aku memang cukup bervariasi. Kalau pun aku meresa bosan, misalnya saat membuat materi kan ada kalanya kita membuat materi  yang temanya itu-itu saja. Itu ada bagusnya, tapi di sisi lain kan membosankan juga kalau memberikan materi yang sama. Dari sana makanya aku selalu mencari referansi untuk mendapatkan informasi baru untuk mendapatkan data terbaru.

Tantangan terbesar sebagai working mom?

Saat ini aku kan ibu dari dua anak remaja dan anak usia sekolah. Nah ini tantangannya berbeda dengan ketika anak masih balita. Saat anak balita rasanya aku itu nggak pernah punya waktu yang cukup untuk anak-anak, sementara sekarang sudah jauh lebih enak karena anak-anak justru sudah punya dunia sendiri. Tantangan sekarang ini justru mengetahui kehidupan anak-anak. Jadi emak kepo, ahahahaha.

Soalnya ketika anak sudah remaja itu anak memang suka menutupinya dari kita. Beda kalau saat anak masih kecil, lebih mudah kita mencari tahu apa yang dirasakan anak. Nah, ini yang jadi tantangan jadi ibu yang punya anak remaja. Tapi kalau memang anak nggak mau cerita, ya, aku santai saja, sih. Memberikan kesempatan pada anak, toh, kalau nantinya mereka perlu cerita juga akan bercerita dengan sendirinya.

Mungkin tantangannya itu lebih kepada bagaimana saya harus bisa sedikit demi sedikit melepas anak tumbuh menjadi manusia yang akan dewasa. Kita kan jadi orangtua seringnya ingin ngekepin anak di bawah ketek, tapi itu nggak mungkin. Oleh karena itulah kita harus memberikan bekal yang cukup untuk anak bisa mengambil  keputusan dan bertanggung jawab dengan langkahnya sendiri.

Tapi sebagai ibu dengan anak remaja, kemudian yang bisa terasa seperti tidak dibutuhkan lagi oleh anak. Karena memang anak sudah mampu mengambil menyelesaikan masalahnya sendiri. Jadi tantangannya bagaimana supaya aku terus bisa merasa ‘penuh’, meskipun mungkin peran aku sedikit demi sedikit akan berkurang.

5 hal yang menggambarkan sosok Mbak Nina, sebagai pribadi, ibu ataupun istri…

Aku cukup yakin kalau aku sangat sabar, aku juga itu orang yang mudah sekali positive thinking. Dari dulu aku aku mudah sekali menemukan hal positif yang sedang aku hadapi. Kalau sebagai isteri aku itu termasuk nurutan dengan suamiku, tapi bukan berarti aku pasrahan. Sebelum ada keputusan bersama yang diambil aku selalu berusaha untuk mengkritisi, tapi ketika memang suami sudah memutuskan  sesuatu, tentu saja sangat menghargai dan mendukung penuh. Sepanjang yang aku tahu, hal ini bisa mengurangi intensitas pertengkaran suami istri karena sudah jelas kalau leader-nya memang satu, dan istri bertindak sebagai suporternya. Selain itu, pada dasarnya aku ini juga cukup disiplin.

Dan terakhir aku ini cukup yakin kalau aku termasuk ibu yang tangguh. Aku senang menerima tantangan baru dan siap untuk menghadapinya, sebagai orangtua aku juga mengajarkan anak-anak untuk bisa bersikap tangguh. Contohnya, anak aku itu sekolah di sekolah yang dikenal dengan tindak bullying yang cukup tinggi, tapi aku yakin kalau anak aku bisa tangguh menghadapinya.

Ada nggak, buku atau film yang sampai sekarang begitu membekas di hati Mbak Nina?

Umh apa ya…  tapi beberapa minggu terakhir entah kenapa aku justru sedang teringat dengan sebuah cerita, dan bisa dibilang aku tumbuh besar dengan cerita ini. Ceritanya itu soal  tiga ekor kodok. Kodok besar, sedang dan kecil, ketiga kodok ini punya masing-masing punya tag. Kodok besar tag-nya ‘saya kodok’, sedangkan kodok sedang tag-nya itu ‘saya kodok besar’, sementara kodok kecil tag-nya adalah ‘saya kodok besar sekali’.

Menurut aku ini sesuatu hal yang menarik, dan menjadi keyakinanan buat aku sendiri ketika aku sedang membesar-besarkan sesuatu jangan-jangan aku sebenarnya adalah orang yang kecil di area itu. Aku berusaha untuk tidak ‘membesar-besarkan’ diri sendiri, karena sudah tahu kalau sebenarnya sudah cukup dengan itu. Aku sangat menikmati apa yang aku lakukan saat ini, tapi aku pun tidak perlu memamerkan hal-hal yang sudah aku dapat.

Wah, menarik, deh, Mbak. Bagaimana, sih, Mbak cara mengajarkan anak untuk down to earth?

Selain memang orangtua perlu menjadi contoh lebih dulu, mungkin pendidikan pertama yang perlu dilakukan adalah lewat namanya. Kedua anak aku arti namanya itu bintang, kenapa kami menamai bintang karena kami merasa bintang itu terang tapi tidak mengganggu. Kami berharap anak-anak kami bisa berpijar, menerangi lingkungan sekitarnya tapi tidak perlu jumawa. Tidak perlu sampai menyilaukan mata . Nama itukan doa, sejak lahir anak tentu saja selalu didoakan orangtuanya. Dalam keseharian tentu saja kita juga perlu melakukan banyak diskusi.

—–

Thanks for sharing, Mbak Nina. Setelah pulang ngobrol dengan Mbak Nina, banyak sekali insights penting yang bisa saya dapatkan.


Post Comment