Ilmu Tega dan Mengapa Kita Tak Boleh Terlalu Sering Mengatakan ‘Hati – Hati ya, Nak!’

Ditulis oleh: Ficky Yusrini

Dalam ranah teori parenting, salah satu hal yang dianggap menghambat anak untuk berani mengambil risiko adalah karena orangtua terlalu sering mengucapkan “Hati-hati, ya, Nak!”

Saat Pilar (10 tahun) masih balita, setiap gerak-geriknya pasti saya awasi. Kalau perlu dikawal ketat supaya jangan sampai jatuh dan terluka. Semakin besar, pengawasan tentu kian berkurang. Ruang kebebasannya semakin bertambah. Buat saya, ini saatnya saya dituntut belajar ‘ilmu tega’ supaya Pi lebih berani bereksplorasi.

‘Ilmu tega’ ini yang saya rasakan tidak mudah. Misalnya saja, saat pertama kali membiarkan Pi bersepeda sendiri keliling kompleks tanpa pengawasan. Hati rasanya dag-dig-dug nggak karuan. Takut, cemas, khawatir, dan sebagainya. Meski sudah berusaha menenangkan diri, jantung tetap berdetak cepat, yang ada saya berdiri di depan pagar sampai anak kembali dengan senyuman lebar, hahaha.

Semakin hari, tantangan semakin bertambah. Pi mulai bisa disuruh pergi ke warung sendiri, malah sekarang, ia meminta bersepeda sendiri ke sekolahnya. Mengingat jarak rumah ke sekolah lebih dari 3 km, dan harus melewati jalan raya yang ‘buas’, saya masih belum berani melepasnya. Minimal, ia bersepeda dalam pengawalan.

Bagi para orangtua, ‘ilmu tega’ kadarnya berbeda-beda. Mungkin, bagi sebagian orang, melepas anak ke warung sendiri adalah hal yang biasa. Tapi, bagi sebagian yang lain, tidak gampang. Tergantung kesiapan anak dan kondisi lingkungan rumah.

Kalau buat saya, itu sesuatu yang luar biasa. Terlebih lagi, Pi termasuk tipe anak yang takut menghadapi risiko. Nah, dalam ranah teori parenting, salah satu hal yang dianggap menghambat anak untuk berani mengambil risiko adalah karena orangtua terlalu sering mengucapkan “Hati-hati, ya, Nak!”

Ilmu Tega dan Mengapa Kita Tak Boleh Terlalu Sering Mengatakan ‘Hati – Hati ya, Nak!’ - Mommies Daily

Secara refleks, kalimat ini pasti sering kita ucapkan ke anak. Sebelum mereka bermain dan setiap mereka terluka setelah bermain. Setiap kali anak saya menangis karena jatuh, otomatis saya mengatakan, “Makanya, hati-hati. Jalan enggak perlu sambil lompat-lompat gitu! Jatuh, kan?”; dan serenceng ucapan lain yang seolah-olah menyalahkan tindakan anak.

Nyuruh anak untuk berhati-hati tetap tetap penting. Di satu sisi, ada anak yang tidak punya sense pada bahaya. Misalnya, berlarian-larian di tangga yang curam ataupun hal lain yang berisiko tinggi, tanpa ia menyadari sisi bahayanya. ‘Antena’ orangtua harus lebih kuat sinyalnya menghadapi anak yang seperti ini.

Di sisi lain, terlalu sering mengucapkan “Hati-hati”, membuat kita cenderung menyalahkan anak karena menjadi terlalu aktif. Kita menjadi orangtua yang terlalu protektif. Lama kelamaan, anak akan memilih untuk mencari aman, takut bereksplorasi, dan takut mengambil risiko. Nilai yang akan terbawa sampai dia dewasa nanti. Padahal, anak bertambah kebisaannya dari hasil eksplorasi. Ingat, mereka akan melewati masa jatuh bangun, berusaha sendiri, dan menghadapi risiko keluar dari zona nyamannya.

Anak memang harus diajari untuk mengenal risiko, bahaya di sekitarnya, sebab-akibat, aksi-reaksi dari tindakan yang ia lakukan. Tapi rasanya tidak perlu diucapkan sampai puluhan kali sepanjang waktu, setiap kali mereka hendak bermain. Beri mereka kepercayaan bahwa mereka bisa menjaga dirinya sendiri.

Ada kalanya, saat main ke taman, biarkan saja anak memilih sendiri permainan yang ia mau. Mereka mungkin lari-larian, kejar-kejaran. Dan kalaupun jatuh, itu adalah bagian dari kesenangan yang akan mereka kenang sampai besar nanti.


Post Comment